A. Pengertian Filsafat
Secara etimologi, istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu philosophia – philien : cinta dan sophia : kebijaksanaan. Jadi bisa dipahami bahwa filsafat berarti cinta kebijaksanaan. Dan seorang filsuf adalah pencari kebijaksanaan, pecinta kebijaksanaan dalam arti hakikat.
Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam. Para filsuf merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya. Seorang Plato mengatakan bahwa : Filsafat adalah pengetahuan yang berminat mencapai pengetahuan kebenaran yang asli. Sedangkan muridnya Aristoteles berpendapat kalau filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika. Lain halnya dengan Al Farabi yang berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu ( pengetahuan ) tentang alam maujud bagaimana hakikat yang sebenarnya. Berikut ini disajikan beberapa pengertian Filsafat menurut beberapa para ahli:
Plato ( 428 -348 SM ) : Filsafat tidak lain dari pengetahuan tentang segala yang ada.
Aristoteles ( (384 – 322 SM) : Bahwa kewajiban filsafat adalah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Dengan demikian filsafat bersifat ilmu umum sekali. Tugas penyelidikan tentang sebab telah dibagi sekarang oleh filsafat dengan ilmu.
Cicero ( (106 – 43 SM ) : filsafat adalah sebagai “ibu dari semua seni “( the mother of all the arts“ ia juga mendefinisikan filsafat sebagai ars vitae (seni kehidupan )
Johann Gotlich Fickte (1762-1814 ) : filsafat sebagai Wissenschaftslehre (ilmu dari ilmu-ilmu , yakni ilmu umum, yang jadi dasar segala ilmu. Ilmu membicarakan sesuatu bidang atau jenis kenyataan. Filsafat memperkatakan seluruh bidang dan seluruh jenis ilmu mencari kebenaran dari seluruh kenyataan.
Paul Nartorp (1854 – 1924 ) : filsafat sebagai Grunwissenschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama, yang memikul sekaliannya .
Imanuel Kant ( 1724 – 1804 ) : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yange menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya tercakup empat persoalan.
1. Apakah yang dapat kita kerjakan ?(jawabannya metafisika )
2. Apakah yang seharusnya kita kerjakan (jawabannya Etika )
3. Sampai dimanakah harapan kita ?(jawabannya Agama )
4. Apakah yang dinamakan manusia ? (jawabannya Antropologi )
Notonegoro: Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah , yang disebut hakekat.
Driyakarya : filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan “.
Sidi Gazalba: Berfilsafat ialah mencari kebenaran dari kebenaran untuk kebenaran , tentang segala sesuatu yang di masalahkan, dengan berfikir radikal, sistematik dan universal.
Harold H. Titus (1979 ): (1) Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepecayaan terhadap kehidupan dan alam yang biasanya diterima secara tidak kritis. Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang dijunjung tinggi; (2) Filsafat adalah suatu usaha untuk memperoleh suatu pandangan keseluruhan; (3) Filsafat adalah analisis logis dari bahasa dan penjelasan tentang arti kata dan pengertian ( konsep ); Filsafat adalah kumpulan masalah yang mendapat perhatian manusia dan yang dicirikan jawabannya oleh para ahli filsafat.
Hasbullah Bakry: Ilmu Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai Ke-Tuhanan, alam semesta dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia itu sebenarnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Prof. Mr.Mumahamad Yamin: Filsafat ialah pemusatan pikiran , sehingga manusia menemui kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialamiya kesungguhan.
Prof.Dr.Ismaun, M.Pd. : Filsafat ialah usaha pemikiran dan renungan manusia dengan akal dan qalbunya secara sungguh-sungguh , yakni secara kritis sistematis, fundamentalis, universal, integral dan radikal untuk mencapai dan menemukan kebenaran yang hakiki (pengetahuan, dan kearifan atau kebenaran yang sejati.
Bertrand Russel: Filsafat adalah sesuatu yang berada di tengah-tengah antara teologi dan sains. Sebagaimana teologi , filsafat berisikan pemikiran-pemikiran mengenai masalah-masalah yang pengetahuan definitif tentangnya, sampai sebegitu jauh, tidak bisa dipastikan;namun, seperti sains, filsafat lebih menarik perhatian akal manusia daripada otoritas tradisi maupun otoritas wahyu.
Dari semua pengertian filsafat secara terminologis di atas, dapat ditegaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan memikirkan segala sesuatunya secara mendalam dan sungguh-sungguh, serta radikal sehingga mencapai hakikat segala situasi tersebut.
Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mcngenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.
B. Filsafat Pendidikan
1. Pengertian Filsafat Pendidikan
Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan. Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan.
Filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat umum, maka selama membahas filsafat pendidikan akan berangkat dari filsafat. Filsafat pendidikan pada dasarnya menggunakan cara kerja filsafat dan akan menggunakan hasil-hasil dari filsafat, yaitu berupa hasil pemikiran manusia tentang realitas, pengetahuan, dan nilai.
Dalam filsafat terdapat berbagai mazhab/aliran-aliran, seperti materialisme, idealisme, realisme, pragmatisme, dan lain-lain. Karena filsafat pendidikan merupakan terapan dari filsafat, sedangkan filsafat beraneka ragam alirannya, maka dalam filsafat pendidikan pun kita akan temukan berbagai aliran, sekurang-kurnagnya sebanyak aliran filsafat itu sendiri. Brubacher (1950) mengelompokkan filsafat pendidikan pada dua kelompok besar, yaitu
a. Filsafat pendidikan “progresif”. Didukung oleh filsafat pragmatisme dari John Dewey, dan romantik naturalisme dari Roousseau.
b. Filsafat pendidikan “Konservatif”. Didasari oleh filsafat idealisme, realisme humanisme (humanisme rasional), dan supernaturalisme atau realisme religius.
2. Aliran Filsafat Pendidikan
a. Filsafat Pendidikan Behaviorisme
Paham behaviorisme memandang perubahan perilaku setelah seseorang memperoleh stimulus dari luar merupakan hal yang sangat penting. Oleh sebab itu, pendidikan behaviorisme menekankan pada proses mengubah atau memodifikasi perilaku. Tujuannya untuk menyiapkan pribadi-pribadi yang sesuai dengan kemampuannya, mempunyai rasa tanggung jawab dalam kehidupan pribadi dan masyarakat.
b. Filsafat Pendidikan Humanisme
Humanisme berpandangan bahwa pendidikan harus ditekankan pada kebutuhan anak (child centered). Tujuannya untuk aktualisasi diri, perkembangan efektif, dan pembentukan moral.
c. Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme adalah gerakan pendidikan yang mengutamakan penyelenggaraan pendidikan di sekolah berpusat pada anak, sebagai reaksi terhadap pelaksanaan pendidikan yang masih berpusat pada guru atau bahan pelajaran yang didasari oleh filosofi realisme religius dan humanisme. Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum, pengalaman bersifat dinamis dan temporal sehingga nilai pun terus berkembang.
Filsafat Progresivisme berpendapat tidak ada teori realita yang umum. Pengalaman menurut progresivisme bersifat dinamis dan temporal; menyala. tidak pernah sampai pada yang paling ekstrem, serta pluralistis. Menurut progresivisme, nilai berkembang terus karena adanya pengalaman-pengalaman baru antara individu dengan nilai yang telah disimpan dalam kehudayaan. Belajar berfungsi untuk :mempertinggi taraf kehidupan sosial yang sangat kompleks. Kurikulum yang baik adalah kurikulum yang eksperimental, yaitu kurikulum yang setiap waktu dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Filsafat progresifisme bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Beberapa tokoh dalam aliran ini : George Axtelle, william O. Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B.Thomas, Frederick C. Neff.
d. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes skeptisisme dan sinisme dari progresivisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/sosial. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah berasaskan nilai yang telah teruji keteguhan dan kekuatannya sepanjang masa. Gerakan ini bertumpu pada mazhab idealisme dan realisme. Filsafat Esensialisme berpendapat bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula. Esensialisme didukung oleh idealisme modern yang mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam semesta tempat manusia berada.
Esensialisme juga didukung oleh idealisme subjektif yang berpendapat hahwa alam semesta itu pada hakikatnya adalah jiwa/spirit dan segala sesuatu yang ada ini nyata ada dalam arti spiritual. Menurut idealisme, nilai akan menjadi kenyataan (ada) atau disadari oleh setiap orang apabila orang yang bersangkutan berusaha untuk mengetahui atau menyesuaikan diri dengan sesuatu yang menunjukkan nilai kepadanya dan orang itu mempunyai pengalaman emosional yang berupa pemahaman dan perasaan senang tak senang mengenai nilai tersehut. Menunut realisme, pengetahuan terbentuk berkat bersatunya stimulus dan tanggapan tententu menjadi satu kesatuan. Sedangkan menurut idealisme, pengetahuan timbul karena adanya hubungan antara dunia kecil dengan dunia besar. Esensialisme berpendapat bahwa pendidikan haruslah bertumpu pada nilai- nilai yang telah teruji keteguhan-ketangguhan, dan kekuatannya sepanjang masa.
e. Filsafat Pendidikan Perenialisme
Perenialisme adalah aliran yang berorientasi dari neo-thomisme dan memandang bahwa nilai universal itu ada, pendidikan hendaknya dijadikan suatu pencarian dan penanaman kebenaran nilai tersebut. Berikut adalah beberapa pandangan tokoh perenialisme terhadap pendidikan :
1) Plato : “Program pendidikan yang ideal harus didasarkan atas paham adanya nafsu, kemauan, dan akal.”
2) Aristoteles : “Perkembangan budi merupakan titik pusat perhatian pendidikan dengan filsafat sebagai alat untuk mencapainya.
3) Thomas Aquinas : “Pendidikan adalah menuntun kemampuan-kemampuan yang masih tidur agar menjadi aktif atau nyata.”
Filsafat Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio kultual. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh pendukung gagasan ini adalah: Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
Perenialisme berpendirian bahwa untuk mengembalikan keadaan kacau balau seperti sekarang ini, jalan yang harus ditempuh adalah kembali kepada prinsip-prinsip umum yang telah teruji. Menurut. perenialisme, kenyataan yang kita hadapi adalah dunia dengan segala isinya. Perenialisme berpandangan hahwa persoalan nilai adalah persoalan spiritual, sebab hakikat manusia adalah pada jiwanya. Sesuatu dinilai indah haruslah dapat dipandang baik.
f. Filsafat Pendidikan Idealisme
Idealisme berpandangan bahwa pengetahuan itu sudah ada dalam jiwa kita. Untuk membawanya pada tingkat kesadaran perlu adanya proses introspeksi. Tujuan pendidikan aliran ini membentuk karakter manusia. Filsafat Idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Pengetahuan yang diperoleh melaui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah: Plato, Elea dan Hegel, Emanuael Kant, David Hume, Al Ghazali.
Idealisme berpendapat bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau intelegensi. Termasuk dalam paham idealisme adalah spiritualisme, rasionalisme, dan supernaturalisme. Tentang teori pengetahuan, idealisme mengemukakan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka, sifatnya maya yang menyimpang dari kenyataan sebenarnya. Selain itu, menurut pandangan idealisme, nilai adalah absolut. Apa yang dikatakan baik, benar, salah, cantik atau jelek secara fundamental tidak berubah, melainkan tetap dan tidak diciptakan manusia. Idealisme memiliki tujuan pendidikan yang pasti dan abadi, di mana tujuan itu berada di luar kehidupan manusia, yaitu manusia yang mampu mencapai dunia cita, manusia yang mampu mencapai dan menikmati kehidupan abadi yang berasal dari Tuhan.
g. Filsafat Pendidikan Realisme
Aliran realisme berpandangan bahwa hakikat realitas adalah fisik dan ruh, bersifat dualistis. Tujuan pendidikannya membentuk individu yang mampu menyesuaikan diri dalam masyarakat dan memiliki rasa tanggung jawab kepada masyarakat. Filsafat Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak dan di pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme: Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill. Realisme berpendapat kualitas nilai tergantung pada apa dan bagaimana keadaannya, apabila dihayati oleh subjek tertentu, dan selanjutnya tergantung pula pada subjek tersebut.
Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikat yang asli dan abadi. Kneller membagi realisme menjadi dua :
1) Realisme rasional, memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada di luar pikiran yang mengamatinya, terdiri dari realisme klasik dan realisme religius.
2) Realisme natural ilmiah, memandang bahwa dunia yang kita amati bukan hasil kreasi akal manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya, dan substansialitas, sebab akibat, serta aturan-aturan alam merupakan suatu penampakan dari dunia itu sendiri.
Selain realisme rasional dan realisme natural ilmiah, ada pula pandangan lain mengenai realisme, yaitu neo-realisme dan realisme kritis. Neo-realisme adalah pandangan dari Frederick Breed mengenai filsafat pendidikan yang hendaknya harmoni dengan prinsip-prinsip demokrasi, yaitu menghormati hak-hak individu. Sedangkan realisme kritis didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant yang mensintesiskan pandangan berbeda antara empirisme dan rasionalisme, skeptimisme dan absolutisme, serta eudaemonisme dengan prutanisme untuk filsafat yang kuat.
h. Filsafat Pendidikan Materialisme
Filsafat Materialisme berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Cabang materialisme yang banyak dijadikan landasan berpikir adalah positivisme yang menganggap jika sesuatu itu memang ada, maka adanya itu adalah jumlah yang dapat diamati dan diukur. Oleh karena itu, positivisme hanya mempelajari yang berdasarkan fakta atau data yang nyata.Beberapa tokoh yang beraliran materialisme: Demokritos, Ludwig Feurbach.
i. Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Pragmatisme merupakan kreasi filsafat dari Amerika, dipengaruhi oleh empirisme, utilitarianisme, dan positivisme. Pragmatisme merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak, tidak doktriner, tetapi relatif atau tergantung pada kemampuan manusia. Dalam pragmatisme, makna segala sesuatu dilihat dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan, atau benar tidaknya suatu ucapan, dalil, dan teori, semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Menurut pragmatisme, pendidikan bukan merupakan proses pembentukan dari luar dan juga bukan pemerkahan kekuatan laten dengan sendirinya, melainkan proses reorganisasi dan rekonstruksi dari pengalaman individu.
Esensi ajarannya, hidup bukan untuk mencari kebenaran melainkan untuk menemukan arti atau kegunaan. Tujuan pendidikannya menggunakan pengalaman sebagai alat untuk menyelesaikan hal-hal baru dalam kehidupan priabdi dan masyarakat. Filsafat Pragmatisme dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos.
j. Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran yang menekankan pilihan kreatif, subjektivitas pengalaman manusia, dan tindakan konkret dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Menurut eksistensialisme, pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas, interpretasinya terhadap realitas, dan pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk memperoleh pekerjaan, tetapi untuk alat pekembangan dan pemenuhan diri secara pribadi.
Filsafat Eksistensialisme memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.
k. Filsafat Pendidikan Esensialisme
Filsafat Esesialisme adalah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Beberapa tokoh dalam aliran ini: william C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Breed dan Isac L. Kandell.
l. Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Filsafat Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir didasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang. Rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.
Rekonstruksionisme adalah paham yang memandang pendidikan sebagai rekonstruksi pengalaman-pengalaman yang berlangsung terus dalam hidup. Rekonstruksionisme dapat dibedakan menjadi rekonstruksionisme individual dari John Dewey dan rekonstruksionisme sosial dari George S. Counts yang keduanya adalah bersumber pada pragmatisme. Menurut paham konstruktivisme, pengetahuan diperoleh melalui proses aktif individu mengkonstruksi arti dari suatu teks, pengalaman fisik, dialog, dan lain-lain melalui asimilasi pengalaman baru dengan pengertian yang telah dimiliki seseorang. Tujuan pendidikannya menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan persoalan hidupnya.
m. Filsafat Pendidikan Naturalisme
Aliran filsafat pendidikan Naturalisme lahir sebagai reaksi terhadap aliran filasafat pendidikan Aristotalian-Thomistik. Naturalisme lahir pada abad ke 17 dan mengalami perkembangan pada abad ke 18. Naturalisme berkembang dengan cepat di bidang sains. Ia berpandangan bahwa "Learned heavily on the knowledge reported by man's sense". Filsafat pendidikan ini didukung oleh tiga aliran besar yaitu Realisme, Empirisme dan Rasionalisme. Semua penganut Naturalisme merupakan penganut Realisme, tetapi tidak semua penganut Realisme merupakan penganut Naturalisme.2) Imam Barnadib menyebutkan bahwa Realisme merupakan anak dari Naturalisme. Oleh sebab itu, banyak ide-ide pemikiran Realisme sejalan dengan Naturalisme. Salah satunya adalah nilai estetis dan etis dapat diperoleh dari alam, karena di alam tersedia kedua hal tersebut.
Dimensi utama dan pertama dari pemikiran filsafat pendidikan Naturalisme di bidang pendidikan adalah pentingnya pendidikan itu sesuai dengan perkembangan alam. Filsuf yang pertama kali memperhatikan dan memberikan konsidensi terhadap orientasi pemikiran filsafat pendidikan Naturalisme adalah John Amos Comenius (1592-1670).
Sebagai pendeta Protestan sekaligus paedagog, ia berpandangan bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan dan untuk Tuhan. Manusia diciptakan dan ditempatkan di atas semua makhluk, karena kemampuannya dalam berfikir. Percikan pemikiran Comenius berpengaruh pada teori-teori pendidikannya. Salah satunya adalah peserta didik harus dipersiapkan kepada dan untuk Tuhan. Untuk itu pendidikan yang signifikan dengan pandangannya adalah pendidikan ketuhanan, budi pekerti dan intelek. Pendidikan tidak hanya sekedar untuk menjadikan seseorang mau belajar, melainkan juga untuk menjadikan seseorang lebih arif dan bijaksana.
Naturalisme atau Nativisme, dengan tokohnya antara lain. J.J. Rousseau (1712-1778) dan Schopenhauer (1788-1860 M). Paham ini berpendirian bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci dan dianugerahi dengan potensi insaniyah yang dapat berkembang secara alamiah. Karena itu, pendidikan pada dasarnya sekedar merupakan suatu proses pemberian kemudahan agar anak berkembang sesuai dengan kodrat alamiahnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung pesimistik.
n. Filsafat Pendidikan Empirisme
Empirisme atau Environtalisme, dengan tokohnya antara lain John Locke (1632-1704 M) dan J. Herbart (1776-1841 M). Aliran ini berpandangan bahwa manusia lahir hanya membawa bahan dasar yang masih suci namun belum berbentuk apapun, bagaikan papan tulis yang masih bersih belum tertulisi (Tabula Rasa, Locke ) atau sebuah bejana yang masih kosong (Herbart). Atas dasar itu, pendidikan pada hakikatnya merupakan suatu proses pembentukan dan pengisian pribadi peserta didik ke arah pola yang diinginkan dan diharapkan lingkungan masyarakatnya. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung optimistik.
o. Filsafat Pendidikan Konvergensionisme atau Interaksionalisme
Konvergensionisme atau Interaksionisme, dengan tokohnya antara lain William Stern (1871-1939). Pandangan ini pada dasarnya merupakan perpaduan dari kedua pandangan terdahulu. Menurut pandangan ini, baik pembawaan anak maupun lingkungan merupakan faktor-faktor yang determinan terhadap perkembangan dan pembentukan pribadi peserta didik. Oleh karenanya, pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu rangkaian peristiwa interaksi antara pembawaan dengan lingkungan. Pribadi peserta didik akan terbentuk sebagai resultante atau hasil interaksi dari kedua faktor determinan tersebut. Pandangan ini diidentifikasikan sebagai konsepsi pendidikan yang cenderung rasional.
3. Tokoh-tokoh Filsafat Pendidikan
Beberapa filsuf yang berperan dalam dunia pendidikan antara lain adalah :
a. Horace Mann (1796-1859) Pelopor Pendidikan Sekolah Amerika Untuk Umum
Horace Mann dibesarkan di saat ketika pendidikan tidak mudah diperoleh bagi mereka yang tinggal di daerah pedesaan miskin Amerika. Meskipun pendidikan awal sendiri terbatas, ia masuk di Browns University, belajar hukum, dan kemudian menikmati karir politik dengan sukses. Waktu selama bertugas sebagai perwakilan dan senator pada badan legislatif Massachusetts dan Sekretaris Dewan Pendidikan Massachusetts, dia menggunakan pengaruhnya untuk memajukan perubahan dalam sistem pendidikan Amerika. Orang Amerika bisa berterima kasih Horace Mann untuk pelatihan guru perguruan tinggi, perpustakaan gratis, dan pendidikan umum gratis untuk semua anak-anak dengan pendapatan dari pajak.
b. Freidrich Froebel (1782-1852) Pelopor Pendidikan Anak Usia Dini
Freidrich Froebel adalah seorang pendidik Jerman yang dipengaruhi filsafat pendidikan dari orang seperti Horace Mann dan Maria Montessori. Didasarkan pada keyakinan bahwa anak muda memiliki berbagai sifat bawaan yang akan terungkap secara bertahap secara natural, ia mendirikan taman kanak-kanak di mana kebebasan berekspresi, kreativitas, interaksi sosial, aktivitas motorik dan learning by doing sebagai fokusnya. Banyak dari prinsip yang sama dapat ditemukan dalam program anak usia dini pada masa kontemporer.
c. Charlotte Mason (1842-1923) Pelopor Pendidikan Dalam Area Rumah
Seorang warga Britania, Charlotte Mason memiliki impian bahwa semua anak, tidak peduli apa kelas sosialnya, harus memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan seni liberal. Dia mendedikasikan dirinya untuk memperbaiki cara bagaimana anak-anak seharusnya dididik. Melihat pentingnya mendidik orang tua pada ranah kedisiplinan dan pelatihan untuk anak-anak, ia mulai Parent’s Education Union. Keyakinan Mason adalah bahwa anak-anak belajar melalui“living books” daripada berbagai teks kering dan melalui pengalaman nyata. Metodenya termasuk penekanan pada kenikmatan kesenian dan studi tentang seniman dan musisi besar. Banyak dari praktik pendidikan Mason cocok untuk diaplikasikan rumah dan metode pendidikannya telah menjadi dasar dari banyak keluarga yang memakai cara homeschooling
d. Jean Piaget (1896-1980) Pelopor Bagaimana Anak Belajar
Siapapun yang telah mengambil kelas psikologi anak akan telah mempelajari perkembangan dan banyak teori pembelajaran Jean Piaget, seorang psikolog Swedia. Terpesona dengan bagaimana cara anak-anak berpikir, dia mulai meneliti dan menulis buku tentang masalah psikologi anak. Ketika ia kemudian menikah dan menjadi ayah tiga orang anak, ia disertakan dengan data yang cukup untuk menulis tiga buku! Penelitian dan teori berikutnya telah menjadi dasar dan landasan pemahaman kita tentang perkembangan anak yang normal.
e. Margaret Bancroft (1854-1912) Pelopor Pendidikan Khusus
Bancroft’s kecerdasan, imajinasi, dan dedikasi kepada murid-muridnya membuatnya berbeda sebagai pendidik yang luar biasa. Pada usia 25, ia memulai sebuah usaha yang berani dan kesepian dengan membuka pesantren swasta pertama di Haddonfield, New Jersey, untuk anak-anak dengan keterlambatan perkembangan. Dia percaya bahwa anak-anak cacat diperlukan sekolah khusus, disesuaikan bahan, dan terlatih baik daripada guru untuk dikirim ke lembaga-lembaga. Bancroft’s siswa menanggapi cinta dan kesabaran dan individu-sesuai instruksi. Di bawah pengaruhnya, profesi medis mulai membangkitkan tanggung jawab mereka untuk membantu memperbaiki kerusakan dan cacat pada anak-anak. Pengagum keahliannya datang untuk melatih dan kemudian menjadi pemimpin di bidang pendidikan
f. Booker T. Washington (1856-1915) Pelopor Pendidikan untuk Afrika-Amerika
Lahir dalam perbudakan dan kemudian dibebaskan, Washington pertama-tama mengetahui perbedaan pendidikan dapat membuat kehidupan seseorang. Sebagai seorang pemuda, Washington diangkat menjadi kepala Tuskegee Institute sekarang disebut Tuskegee University, yang pada mulanya merupakan akademi pelatihan guru untuk orang Afrika-Amerika. Dia adalah pemimpin dari perguruan tinggi tersebut sampai saat kematiannya menjemput. Ia menjadi dominan dan berpengaruh di kalangan politisi dan masyarakat umum dan berbuat banyak dalam membuka jalan hak sipil dan penyatuan pendidikan umum. Itu adalah keyakinan bahwa pendidikan Afrika-Amerika merupakan kesempatan terbaik masyarakat dalam meraih kesetaraan sosial dan masa depan yang lebih baik.
g. John Dewey (1859-1952) Pelopor Pendidikan Progresif
Masa itu adalah ketika Dewey menjabat seorang profesor filsafat dan kepala Universitas Chicago, yang memberikan pengaruh paling besar dalam pendidikan dan dipromosikan banyak reformasi pendidikan melalui sekolah eksperimentalnya. Adalah pandangan Dewey bahwa anak-anak harus didorong untuk mengembangkan “free personalities” dan bahwa mereka harus diajarkanbagaimana untuk berpikir dan untuk membuat penilaian daripada hanya memiliki kepala mereka diisi dengan pengetahuan. Dia juga percaya bahwa sekolah adalah tempat di mana anak-anak harus belajar untuk hidup secara kooperatif. Seorang anggota serikat guru pertama, ia adalah orang yang serius dalam bidang hak guru dan kebebasan belajar (academic freedom).
h. Maria Montessori (1870-1952) Pelopor Pendidikan Individual
Metode Montessori bisa menjadi pilihan populer bagi banyak orangtua yang mencari pendidikan alternatif bagi anak-anak mereka, terutama untuk anak usia dini sampai usia utama. Sebelum dia menaruh minat pada pendidikan, Montessori adalah wanita pertama di Italia yang mendapatkan pelatihan untuk menjadi seorang dokter. Ia ditugaskan menjabat sebagai bagian perawatan medis untuk menangani pasien dari rumah sakit jiwa dan di sanalah ia menemui anak-anak yang memiliki “keterbelakangan”, hal ini adalah sebab utama yang membakar kecintaannya pada pendidikan. Dimulai dengan fasilitas tempat penitipan anak di salah satu lingkungan termiskin di Roma, Montessori meletakkan berbagai teorinya dalam praktek. Kedua metode itu dipengaruhi oleh pelatihan sebelumnya di bidang kedokteran, pendidikan, dan antropologi.
i. John Holt (1923-1985) Pelopor dan sebagai Advokat untuk Pendidikan di Rumah (Home Education)
Holt meningkatkan kesadaran akan perlunya reformasi di berbagai sekolah umum di Amerika. Sebagai seorang pendidik, ia menjadi yakin bahwa sistem sekarang membuat sebagian besar anak-anak belajar terutama karena ketakutan. Dikecewakan oleh ketidakmampuan untuk membawa reformasi dan perbaikan di berbagai sekolah umum, Holt berhenti mengajar dan mengabdikan waktunya untuk mempromosikan bermacam idenya. Dia percaya bahwa anak-anak belajar itu paling baik jika diizinkan untuk mengikuti kepentingan mereka sendiri daripada memaksakan belajar kepada mereka. Paparannya dalam pendidikan rumah (home education) membawanya ke penyimpulkan bahwa tempat terbaik untuk mendirikan sebuah lingkungan alam untuk belajar adalah di tempat tinggal anak tersebut atau rumahnya sendiri. Buku-bukunya Holt berdampak besar pada pertumbuhan sektor pendidikan di rumah.
j. Marie Clay (1926-2007) Pelopor Balanced Literacy Model dan Membaca Pemulihan
Lahir di Wellington, Selandia Baru, Marie Clay menjadi pemimpin internasional dalam studi akuisisi anak-anak agar bisa membaca. Kedua metode pengajaran membaca dan bahasa tertulis telah sampai Amerika Serikat dan negara-negara berbahasa Inggris sejak awal mereka tiga dekade lalu. Komponen pemulihan membaca ini dikembangkan sebagai sarana untuk mengangkat anak di first grader menjadi siap sebagai pembelajar. Struktur program ini dilakukan dengan cara bahwa guru mengamati siswanya, apa yang telah diketahui dan dipelajari oleh siswa, lalu membawa siswa tersebut ke tingkat selanjutnya. Anak-anak dikelilingi oleh lingkungan yang kaya bahasa dan didorong untuk memilih buku-buku bacaan yang sesuai dengan kepentingan pribadi mereka.
k. Jerome Bruner (1915 -) Pelopor Teori Discovery Learning
Untuk memerangi pendekatan behavioris pendidikan, Bruner mengembangkan psikologi kognitif dan mempromosikan pendekatan konstruktivis. Teori Discovery Learning didasarkan pada asumsi bahwa anak-anak akan belajar dan mengingat lebih baik dari apa yang mereka temukan bagi diri mereka sendiri dan bahwa mereka lebih mampu mengingat informasi baru jika mereka disambungkan dengan sesuatu yang telah mereka ketahui. Penelitian dan selanjutnya teori tentang perkembangan anak erat sejalan dengan karya Jean Piaget.
l. Howard Gardner (1943 -) Pelopor Teori Multiple Intelligences
Teori Gardner yaitu Multiple Intelligences telah mendefinisikan ulang pandangan para pendidik tentang bagaimana siswa belajar dan harus dinilai. Secara historis, intelijen telah diukur melalui kemampuan untuk memecahkan masalah dan untuk menunjukkan kemampuan kognitif melalui berbagai dikontrol verbal dan tipe kinerja tugas. Teori Gardner memperluas bidang bagaimana individu menampilkan kecerdasan mereka dengan memasukkan linguistik, logis-matematika, musikal, kinestetik-jasmani, istimewa, interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal. Melalui pengaruhnya telah ada penekanan lebih besar pada pengujian kinerja dan pendidik menjadi lebih sadar akan kebutuhan untuk diversifikasi strategi instruksional yang sesuai dengan gaya belajar dan kelebihan siswa.
4. Peranan Filsafat Pendidikan dalam Pengembangan Ilmu Pendidikan
Tujuan filsafat pendidikan memberikan inspirasi bagaimana mengorganisasikan proses pembelajaran yang ideal. Teori pendidikan bertujuan menghasilkan pemikiran tentang kebijakan dan prinsip-rinsip pendidikan yang didasari oleh filsafat pendidikan. Praktik pendidikan atau proses pendidikan menerapkan serangkaian kegiatan berupa implementasi kurikulum dan interaksi antara guru dengan peserta didik guna mencapai tujuan pendidikan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori-teori pendidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik
Daftar Pustaka
Betrand Russel.2002. Sejarah Filsafat Barat dan Kaitannya dengan kondisi sosio-politik dari zaman kuno hingga sekarang (alih Bahasa Sigit jatmiko, dkk ). Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Bobbi De Porter, Mike Hernacki, Quantum Learning, Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung : Kaifa, 2000.
George R. Knight, 1982, Issues and Alternatives in Educational Philosophy, Michigan : Andrew University Press.
Imam Barnadib, 1997, Filsafat Pendidikan, Sistem dan Metode. Yogyakarta : Andi Offest
Ismaun.2007. Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung : UPI
Ismaun.2007. Kapita Selekta Filsafat Administrasi Pendidikan (Serahan Perkuliahan). Bandung : UPI
Jalaluddin Rakhmat, 2000, Meraih Cinta Ilahi : Pencerahan Sufistik. Bandung : PT. Remaja Rosda karya.
Joe Khatena, 1992, Gifted : Challenge and Response for Education. Itasca : Peacock Publisher.
John F. Brubacher, 1947, A History of the Problems of Education. London : McGraw-hill book Company, Inc.
Koento Wibisono.1997. Dasar-Dasar Filsafat. Jakarta : Universitas Terbuka
Louis O. Kattsoff, 1987 Pengantar Filsafat. Yogyakarta, Tiara Wacana,
Moersaleh. 1987. Filsafat Administrasi. Jakarta : Univesitas Terbuka
Sadulloh, Uyoh. 2006. Pengantar Filsafat Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Thomas Armstrong, 2000, Multiple Intelligences in the Classroom. Viginia : Association for Supervision and Curriculum Development (ASCD).
Sampurasun,
Rumangsa Handarbeni, Melu Hangrungkebi, Mulat Sarira Hangrasa Wani
Sabtu, 09 Oktober 2010
Rabu, 06 Oktober 2010
Semantik Basa Cirebon
A. Pengertosan Semantik
Semantik asale saking basa Yunani ‘sema’ kang artose lambang atanapi tanda. Semantik ngandung makna to signify atanapi kang maknai. Tembung kriyae ‘semaino’ kang artose nglambangaken atanapi nandai. Minangka istilah teknis, semantik ngandung pengertosan ‘studi ngenai makna’. Semantik ngrupiaken istilah kang diangge kangge bidang ilmu linguistik kang mlajari hubungan antawis tanda-tanda linguistik kalian hal-hal kang ditandai. Kados dene ungel lan tata basa, komponen makna selebete hal punika ugi gadah kelungguhan tingkatan kang tinemtos.
Upami komponen ungel umume gadah kelungguhan tingkat kaping setunggal, lan tata basa nglenggahi tingkatan kaping kalih, maka komponen makna gadah tingkatan kaping tiga. Hubungan ketigang komponen punika ningal saking kasunyatan nyaniya (1) basa kang kawitane ngrupiaken ungel-ungel abstrak kang ngrujuk teng lambang-lambang kang sampun temtos, (2) lambang-lambang ngrupiaken piranti sistem kang gadah tatanan lan hubungan kang tinemtos, lan (3) piranti lambang kang gadah wangun lan hubungan punika ngasosiasiaken wontene makna kang sampun temtos (Palmer selebete Aminudin, 2001 : 15). Anadene cakupan semantik nggih niku cumi makna atanapi artos kang wonten hubungane kaliyan basa minangka alat komunikasi verbal.
Teng kajian semantik, istilah tembung digentos kaliyan istilah leksem. Senajan serlerese antawis tembung kaliyan leksem punika sami kangge istilah kang biasa dipigunakaken kangge tanda-tanda linguistik, nanging saluyu kaliyan kaidah basa kang nyatakaken upami wangun tembung atanapi leksem punika benten, maka makna kang digadahi dening tembung atanapi leksem punika ugi robih. Anadene kang samie punika informasi kang wonten teng tembung atanapi leksem kang kasebat.
Istilah leksem biasa didefinisiaken minangka tembung atanapi frasa kang arupi ijenan (satuan) kang gadah makna (Kridalaksana, 1982 : 98), sedeng tembung lumrah didefinisiaken minangka ijenan (satuan) basa kang saged mangadeg mandiri teng tuturan sedinten-dinten lan saged winangun saking setunggal morfem atanapi gabungan morfem (Kridalaksana, 1982 : 76). Bentene, leksem punika istilah kang diangge teng selebete bidang semantik sedeng tembung dipigunakaken teng selebete bidang gramatika.
Makna minangka objek linguistik strukture dahat mboten pertela. Aliran semantik struktural kang nganut paham behaviorisme malah gadah pandengan nyaniya semantik punika sanes ngrupiaken bagian sentral basa nanging ngrupiaken bagian periferal basa.
Semantik gadah hubungan kang raket kaliyan ilmu sosial kados dene sosiologi, antropologi, lan filsafat. Sosiologi gadah kepentingan kang ageng sanget kaliyan semantik keranten teng kasunyatan asring dipanggihi nyaniya tembung-tembung kang sampun temtos kangge ngucapaken makna punika saged nandai identitas kelompok masyarakat.
Tembung ‘iwak’ teng basa Cerbon sejajar kaliyan tembung ‘ikan’ teng basa Indonesia. Nanging makna ‘iwak’ teng baca Cerbon pinika sanes kemawon ngrujuk teng ‘kewan toya kang wonten sisike’ nanging ngacu teng sedanten lelawuan. Asring kepireng setunggale tiyang kang ngucap ‘Mangane karo iwak ayam’. Sedanten punika saged dumados keranten seliyane asil budaya, basa punika sekaligus ngrupiaken wadah kangge maturaken budaya masyarakat piyambek.
B. Jinis-jinis Semantik
Antawis setunggal ahli linguistik atanapi linguist kaliyan ahli linguistik kang sanes punika asring wonten pibentenan anggene mbentenaken atanapi mbagi-bagi semantik. Hal punika dumados keranten pancen semantik punika ngrupiaken setunggale cabang ilmu basa kang tetalenan kaliyan unsur basa sanese.
Dumasar saking tataran atanapi bagian basa kang dados objeke, semantik saged dibentenaken dados :
a. Semantik leksikal : semantik kang ndadosaken makna leksikal minangka objek penyelidikane.
b. Semantik gramatikal : semantik kang ndadosaken makna gramatikal minangka objek penyelidikan teg tataaran morfologi.
c. Semantik sintaktikal : semantik kang tinalenan kaliyan sintaksis teng lingkungan tatabasa.
Secara wiyar, semantik saged dibagi dados tigang kelompok bahasan, nggih niku :
a. Sintaksis : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan-hubungan formal antawis tanda-tanda kang setunggal kaliyan tanda-tanda kang sanese.
b. Semantik : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan tanda-tanda linguistik kaliyan objek-objek kang ngrupiaken wadah penerapan tanda-tanda kang dimaksad.
c. Pragmatik : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan tanda-tanda linguistik kaliyan para penutur atanapi interpretator. Ilmu basa kang tugase mlajari cakupan tigang ilmu basa teng inggil punika disebate semiotika (Searle, 1980).
Rudolf Carnapp mbagi semantik dados kalih, nggih niku :
a. Semantik deskriptif nggih niku semantik kang nglampahaken penelitian empiris dumateng basa-basa ilmiah.
b. Semantik murni nggih niku semantik kang nelaah analisis dumateng basa-basa damelan (artificial language).
C. Mupangat Semantik
Semantik gadah mupangat teng kegesangan sedinten-dinten, diantawise :
a. kangge jurnalis (wartawan), pangaweruh tentang semantik ndadosaken kinerja dados langkung gampil selebete milih lan migunakaken tembung kang gadah makna kang cocog atanapi pas selebete maturaken informasi dumateng masyarakat.
b. kangge peneliti basa, pangaweruh semantik punika saged nyukani bekal linguistik teoritis kangge nganalisis basa kang siweg diteliti.
c. kangge guru, pangaweruh semantik gadah mupangat teoritis praktis. Mupangat teoritis keranten semantik saged mbantos guru teng selebete mahami kebasaan kang diwucalken, anadene mupangat praktise nggih niku keranten guru angsal kegampilan kangge piyambeke selebete ngajaraken basa.
d. kangge tiyang awam, pangaweruh semantik diperlokaken kangge mahami lingkungan sakubenge kang supenuh kaliyan informasi.
D. Semantik kaliyan Disiplin Ilmu Sanes
Basa hakikate ngrupiaken setunggal hal kang digadahi dening janma. Ernst Cassirer teng hal punika nyebataken upami janma punika minangka animal symbolicum, nggih niku makhluk kang migunakaken media simbol kebasaan selebete nyukani artos atanapi makna selebete ngisi kegesangan. Kewontenan janma minangka animal symbolicum punika dianggep langkung gadah makna tinimbang kewontenan janma minangka makhluk kang mikir keranten datan wontene simbol, janma mboten sanggem nglampahkaken kegiatan mikire.
Wonten gangsal disiplin ilmu kang gadah hubungan kang raket kaliyan semantik, nggih niku filsafat, psikologi, antropologi, sastra, lan linguistik.
1. Hubungan Semantik kaliyan Filsafat
Filsafat minangka studi ngenai kearifan, pangaweruh, hakikat kasunyatan, atanapi prinsip gadah hubungan kang dalit kaliyan semantik. Hal punika dumados keranten dunia kasunyatan (fakta) kang dados objek perenungan (kontemplasi) ngrupiaken dunia simbolik kang kawakili dening basa. Aktivitas mikir piyambek mboten saged lumangsung tanpa basa minangka mediae.
Selajenge Bertrand Russel ngungkapaken nyaniya ketepatan nyusun simbol kebasaan secara logis ngrupiaken dasar anggene mahami adegan (struktur) realitas (kasunyatan) secara leres. Pramila punika, kompleksitas simbol ugi kedah gadah kesaluyuan kaliyan kompleksitas kasunyatan punika piyambek ngantos kekalihe gadah hubungan secara tepat lan leres (selebete Alston, 1964 : 2).
2. Hubungan Semantik kaliyan Psikologi
Hubungan kang semanten rakete antawis semantik kaliyan aspek kejiwaan janma, salah setunggale ditengeri kaliyan wontene disiplin ilmu kang ngaji linguistik saking segi psikologi, ilmu kang dimaksad nggih niku psikolinguistik. Selebete proses nyusun lan mahami weling liwat kode kebasaan, unsur-unsur kejiwaan kados kesadaran batin, pikiran, asosiasi, atanapi pengalaman mboten saged dipandeng sesisih mripat, keranten saged katingal kondisi kejiwaane setunggale tiyang saking basa kang dianggene.
John Locke ngungkapaken nyaniya pianggean tembung-tembung ugi saged diartosaken minangka penanda wangun gagasan kang tinemtos keranten basa ugi ngrupiaken instrumen pikiran kang ngrujuk teng suasana atanapi kasunyatan kang sampun temtos (selebete Alston, 1964 : 22)
3. Hubungan Semantik kaliyan Antropologi
Wates antawis sosiologi kaliyan antropologi asring samur. Hal punika dumados keranten kekalihe ngaji masalah janma lan masyarakat. Hubungan semantik kaliyan fenomena sosial kultural sampun sayogyane dumados. Diwuwus mekaten keranten aspek sosial lan kultural gadah peran kang ageng sanget selebete nemtosaken wangun, perkembangan, atanapi perobihan makna kebasaan.
Roger T. Bell mbentenaken kajian kekalih disiplin ilmu punika nyimpulaken nyaniya (1) pusat kajian antropologi nggih niku teng selebete kelompok masyarakat kang tinemtos, sedeng sosiologi teng masyarakat kang langkung wiyar, (2) antropologi punika ngaji pikembangan masyarakat kang relatif homogen kaliyan karakteristik-karakteristike, sedeng sosiologi ngaji proses pikembangan sosial-ekonomi masyarakat kang heterogen (1976 : 64).
4. Hubungan Semantik kaliyan Kesastraan
Basa teng selebete rumpaka sastra gadah kekhasan piyambek keranten basa selebete sastra ngrupiaken setunggal wangun idiosyncratic prenahing tebaran leksem kang dipigunakaken ngrupiaken asil pengolahan lan ekspresi individual penganggite. Diwuwus mekaten keranten selebete rumpaka sastra punika selerese wedalan ekspresi penganggit ningal wontene kacingcedan antawis kasunyatan kaliyan pengajengan.
Kedah diemut nyaniya sastra punika kebek kenging penggunaan leksem-leksem kang gadah makna konotatif ngantos penggunaan setunggale leksem selebete rumpaka sastra punika ngrupiaken leksem kang leres-leres diperlokaken lan pas kaliyan maksad lan prayojana penyeratan rumpaka sastra punika, kenging punapa setunggale penganggit migunakaken leksem kang dimaksad sanajan makna kang digadahi dening leksem punika sami kaliyan makna kang digadahi dening leksem sanese.
Kados basa kang dipigunakaken teng kegesangan sedinten-dinten, kode selebete sastra gadah kalih lapis, nggih niku lapis ungel atanapi lapis wangun kaliyan lapis makna. Lapis makna piyambek maksih saged dibentenaken dados (1) lapis makna literal kang secara kasirat direpresentasiaken wangun kebasaan kang dipigunakaken, (2) dunia rekaan penganggit, (3) dunia kang dipandeng saking titik pandeng kang tinemtos, lan (4) lapis dunia atanapi pesen kang sifate metafisis (Aminudin, 1983 : 63).
5. Hubungan Semantik kaliyan Linguistik
Selebete kajian linguistik kaum Stoik dipigunakaken istilah ‘signans’ minangka komponen kang paling alit saking tanda, lan signatum nggih niku makna kang dirujuk dening signans. Ferdinand de Saussure nepangaken istilah signifiant, nggih niku gambaran ungel abstrak selebete kesadaran lan signifie nggih niku gamabaran dunia jawi selebete abstraksi kesadaran kang dirujuk dening signifiant.
Saking paparan teng inggil punika, saged disimpulaken nyaniya makna nggih niku unsur kang mileti aspek ungel, tebih sederenge wontene kegiatan komunikasi. Minangka unsur kang nempel teng ungel, makna makna ugi tansah ngampili sistem relasi lan kombinasi ungel selebete ijenan (satuan) adegan kang langkung ageng kados dene kang winijud teng kegiatan komunikasi. Paramila punika saged dimaklumi upami sanajan makna lan lambang tur aspek semantik lan tata basa ngrupiaken unsur-unsur kang mboten saged dipisahaken, nanging selebete nemtosaken hubungan semantik lan linguistik maksih wonten pibentenan-pibentenan.
E. Semantik teng Studi Linguistik Basa Cerbon
Studi (penelitian) kang serius ngenai basa Cerbon dereng katah dilampahaken, boh kang dilampahaken dening sarjana asing atanapi sarjana basa saking Indonesia piyambek. Sedanten segi kebasaan kang wonten teng selebete basa Cerbon dereng katah dilampahaken tiyang. Sanajana wonten ugi dereng wonten kang tuntas, kelebet masalah semantik. Kaula sami seyogyane garjita keranten basa Cerbon modern kang cikal bakale saking basa Cerbon kuna sampun saged dianggep minangka lingua franca kang saged mangadeg mandiri.
Pemicarengan khusus ngenai semantik basa Cerbon salami punika dereng ngalami dimajengaken, boh teng seminar, gelar basa, atanapi acara-acara sanese kang sumejah diwontenaken kangge mbahas masalah punika. Anadene selebete penyeratan buku-buku kados buku babon atanapi buku pelajaran teng lembaga pendidikan kang sampun wonten punika cumi sifate umum lan teoritis.
F. Makna lan Masalahe
Sampun disebataken teng bab kang rumiyin nyaniya objek linguistik punika makna atanapi langkung pas makna kang wonten teng ijenan-ijenan pangandikan kados frasa, klausa, lan ukara. Upami penutur kaliyan penanggap tutur dereng sumerep makna setunggale leksem, frasa, klausa, lan ukara, maka penanggep tutur pesti kengelan nafsiraken makna atanapi maksad selebete tuturan kang diparengaken dening penutur keranten kangge mahami makna setunggal leksem kemawon penanggap tutur kedah mbika-mbika kamus.
Kangge mertelakaken perbentenan konsep makna, informasi, lan maksad, teng andap puniki diwicarakaken setunggal-setunggal kang dipendet dumasar teori Verhaar (1978).
1. Pengertosan makna minangka Istilah
Makna nggih niku hubungan antawis basa kaliyan kasunyatan kang sampun dados kesepakatan atanapi persetujuan (konvensional) para tiyang kang migunakaken basa ngantos punapa kang diucapaken punika saged dimengertos dening tiyang sanes kang diajak komunikasi.
Wonten tigang unsur pokok kang wonten teng selebete makna, nggih niku (1) makna ngrupiaken asil hubungan antawis basa kaliyan kasunyatan, (2) hubungan punika saged dumados keranten kesepakatan antarpengangge basa, lan (3) perwujudan makna punika saged dipigunakaken kangge nyampekaken informasi ngantos tiyang kang mirengaken atanapi maos punika ngertos teng maksad lan tujuane punapa ingkang sinerat atanapi kang inucap punika.
a. Informasi
Teng bangian kang teng inggil punika sampun dijelasaken nyaniya makna niku ngrupiaken unsur saking setunggale leksem atanapi langkung pas minangka gejala selebete ujaran (utterance internal phenomenon) atanapi gejala luar basa. Mampane, wonten prinsip umum semantik kang nyatakaken upami wangune benten maka makna kang dikandung dening leksem punika pasti robih, senajan pibentenane punika cumi sekedik. Dados, laksem ‘rama’ kaliyan ‘bapak’ punika keranten wangune benten maka makna kang dikandunge ugi benten. Hal punika saged dibuktosaken teng deret ukara teng andap puniki.
Bapa kula siweg sakit.
Rama kula siweg sakit.
Namung teng ukara ‘Bapak Presiden ingkang kaula hormati’, frasa Bapak Presiden mboten saged digentos kaliyan frasa Rama Presiden dados ‘Rama presiden ingkang kaula hormati’. Teng hal punika dumados kesalahkaprahan selebete pianggean pengertosan makna kaliyan informasi. Kang sami antawis ‘bapak’ kaliyan ‘rama’ punika informasie, nggih niku ngrujuk teng ‘tiyang sepuh jaler’ nanging maknae tetep kemawon benten. Dados, kang sami puniku informasie keranten informasi punika ngrupiaken gejala jawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran.
b. Maksad
Maksad kaliyan informasi punika sami-sami gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran. Bentene, upami informasi punika gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran ditingal saking objek atanapi hal kang didadosaken omongan atanapi topik tuturan, sedeng maksad ngrupiaken gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran ditingal saking subjek atanapi tiyang kang mitutur.
Misale :
Sesampune mrios rapor putrane, lan ningal hasil blajare punika katah angka abrite, setungggale tiyang sepuh angucap :
“Aduh, bagus temen rapore sira kuh, Cung!”.
Jelas, ucapan punika maksade sanes nggunggung sanajan nadae punika ngalem. Kaliyan ukara punika, tiyang sepuh punika selerese gadah maksad negur atanapi nyindir, malah mumkin ngece putrane.
c. Tanda, Lambang, Kode, Konsep, lan Definisi
Teng semantik, antawis tanda, lambang, kode, konsep, lan definisi punika dibentenaken keranten pancen benten informasi kang digadahie, secara struktur atanapi maknae ugi benten. Mangkane kegangsal sistem tanda, lambang, kode, konsep lan definisi punika kedah ngatos-atos nerjemahakene.
1) Tanda
Kalih istilah kang asring diorak-arik pianggeane nggih niku tanda kaliyan lambang atanapi simbol. Malah, kita asring muwusaken simbol padahal maksad kang selerese punika tanda, lan kita asring muwusaken tanda padahal selerese punika simbol.
Unggal tanda gadah korespondensi kaliyan kaliyan setunggal hal kang dados objeke, nggih niku barang, kewontenan, atanapi kedadosan kang dituduhaken. Tanda ngrupiaken setunggale punapa kang dipigunakaken dening tiyang kangge nyumerepi setunggale kedadosan atanapi peristiwa secara langsung. Misale, kepireng swantene adzan saking mesigit tanda waktos sholat sampun dumugi atanapi nalika jalan-jalan, teng margi ningal pecahan kaca pating blarat, secara langsung kita saged nebak yen nembeke mawon wonten tabrakan keranten kaca pating blarat teng margi punika satunggale tanda wontene tabrakan’. Artose antawis tanda kaliyan kang ditandai punika sifate langsung.
Dados, saking keterangan teng inggil punika saged dibentenaken nyaniya pibentenan pokok antawis tanda kaliyan lambang punika nggih niku pibentenan asosiasi lan minangka konsekuensie pibentenan selebete pianggeane dening pihak ketiga dumateng fungsi artose, nggih niku subjek atanapi jejer. Tanda nyukani sumerep objeke dumateng subjek, sedeng lambang ngantukaken subjek kangge nyumerepi objeke.
2) Lambang
Lambang ugi selerese ngrupiaken tanda, nanging bentene ari lambang mboten nyukani tanda secara langsung, nanging lewat setunggale hal kang sanese. Misale warni abrit kang wonten teng bendera merah putih nglambangaken raos kewantunan, lan petak nglambangaken kesucian.
3) Kode
Kode sumejah didamel dening setunggal tiyang atanapi kelompok kaliyan makna kang sampun dikonvensionalaken sami-sami. Kode punika ngrupiaken sistem tanda kang maknae sampun disepakati kangge maksad-maksad kang sampun temtos. Misale kode semaphore.
4) Konsep
Konsep minangka setunggale referensi saking lambang pancen mboten saged sempurna. Mangkaning umpami kula nyebat ‘korsi’ atanapi ‘pemuda’ atanapi lambang punapa mawon, tiyang asring tangled ‘Punapa kang panjenengan maksad kaliyan korsi puniku?”.
5) Definisi
Definisi atanapi batasan kang langkung rinci lan langkung teliti tentang setunggale konsep sanajan masalah definisi punika maksih katah kelemahan lan kekirangane. Definisi ngrupiaken rumusan setunggale pengertosan. Tujuan definisi nggih niku kangge nerangaken atanapi damel pertela saking setunggale pengertosan kang didefinisiaken.
d. Acuan lan Konseptualisasi
Hubungan antwis rujukan, lambang, lan konseptualisasi digambaraken dening Ogden lan Richard minangka segitiga kang dikenal kaliyan sebatan Segitiga Ogden & Richard kados teng andap puniki.
thought or reference (setunggale perabot rumah tangga kang
wonten lendeane, lan diangge kangge ndodok)
symbol (k/o/r/s/i) referent
(wujud korsi)
Saking segitiga Ogden & Richard teng inggil punika saged disumerepi nyaniya pikiran minangka unsur kang ngewontenaken signifikasi ngantos nimbulaken makna kang sampun temtos gadah hubungan secara langsung kaliyan referent atanapi acuan. Gagasan ugi gadah hubungan secara langsung kaliyan simbul. Sedeng antawis simbul kaliyan referen punika hubungane mboten langsung keranten mboten saged dimaknai kenging punapa konsep ‘setunggale perabot rumah tangga kang wonten lendeane, lan diangge kangge ndodok’ punika diwastani korsi. Mekaten sebabe hubungan simbul kaliyan referens punika ditandai kaliyan gambar garis kang tugel-tugel.
e. Kaidah-Kaidah Umum
Saking pemicarengan teng inggil punika lan kangge langkung gampil ngampili pemicarengan selajenge teng andap puniki wonten kaidah-kaidah umum kang peryogi diperhatosaken ngenai studi semantik.
1) Hubungan antawis setunggal leksem kaliyan rujukan punika sipate arbitrer, maksade hubungan punika sanes ngrupiaken hubungan wajib antawis kekalihe.
2) Secara sinkronik makna setunggale leksem mboten rinobih, nanging secara sinkronik mumkin saged rinobih.
3) Wangun setunggale leksem kang benten ugi benten makna kang digadahi, maksade upami wonten kalih leksem kang wangune benten, sanajan sekedik makna kang digadahi pasti benten.
4) Unggal basa gadah sistem semiotik piyambek kang benten kaliyan sistem semiotik basa kang sanese keranten sistem semantik punika tinalenan kaliyan sistem budaya masyarakat, sedeng sistem kang nglatarpengkeri basa punika mboten sami.
5) Makna setungal leksem teng selebete setunggal basa dahat dipengaruhi dening pandengan gesang lan sikap anggota masyarakat kang sinangkutan.
6) Wiyare makna kang digadahi setunggale wangun gramatikal bebanding kewalik kaliyan wiyare wangun kang kasebat.
Misale :
a) sepur
b) sepur ekspres
c) sepur ekspres dalu
d) sepur ekspres dalu jawi anggong
Makna sepur dahat wiyar, langkung wiyar tinimbang sepur ekspres, makna sepur ekspres langkung wiyar tinimbang sepur ekspres dalu, sedeng makna sepur ekspres dalu langkung wiyar tinimbang sepur ekspres dalu jawi anggong.
2. Jinis-Jinis Makna
Jinis-jinis makna kang wonten teng selebete semantik saged digolongaken dumasar jenis semantik, referensi, wirasane, ketepatan maknae, hubungane kaliyan tembung kang sanes, lan gaya basa atanapi ijenan (satuan) basa kang diangge.
a. Dumasar teng jinis semantike, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna leksikal :
Makna kang gadah sifat leksikon, artose makna kang saluyu sareng referensi (hal kang diacu), saluyu kaliyan asil observasai alat indra, makna setemene nyata kang wonten teng kegesangan kaula sami. Misale : tikus nggih niku srunggale kewan pengeret kang nyebaraken penyakit pes.
2) Makna gramatikal :
makna kang dumadose keranten proses gramatikal, kados dene proses kompositumisasi, reduplikasi, lan afiksasi. Makna punika gumantung teng konteks ukara, konteks suasana. Misale : tembung kembang teng ukara ‘Nissa kembang desa kang siweg megar.’ gadah makna kang benten kaliyan ‘Nissa siweg nyiram kembang.’.
b. Dumasar teng referensie (hal kang dirujuk), makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna referensial :
Makna kang wonten teng setunggale basa kang saged dirujuk dening setunggale barang. Cekake, makna referensial nggih niku makna kang gadah referensi lan umume saged ditampi kaliyan alat indra. Misale ‘mega’, hal kang diacu nggih niku ‘setunggale benda kang wonten teng gegana wiyati kang warnie petak, bakal tumurune jawoh’.
2) Makna non-referensial :
Makna kang wonten teng jawie basa kang dirujuk dening tembung kang mboten gadah referensi nanging gadah tugas lan fungsi piyambek. Umpamae tembung tugas.
c. Dumasar teng wirasane, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna denotatif :
asring disebat makna denotasi, makna konseptual, atanapi makna kognitif. Makna denotatif selerese dasare sami kaliyan makna referensial keranten saged dijelasaken kaliyan makna kang saluyu kaliyan asil observasi alat indra. Misale : wadon kaliyan istri puniku denotasie sami nggih niku ‘sanes jaler atanapi kang bakale nglairaken’.
2) Makna konotatif :
makna kang nimbulaken wirasa (nilai rasa). Misale wirasa kang ditimbulaken dening leksem mati, pejah, ninggal, seda, palastra, gugur, modar, lan tutup yuswa punika benten makna lan pianggeane. Makna konotatf punika katah ragam atanapi warnie. Anadene makna ragam makna konotatif punika langkung dominan hubungane kaliyan raos basa. Ragam makna konotatif saged dibentenaken dados :
a) konotasi inggil, konotasi punika nuduhaken efek prestise (intelek, kapelajar, ilmiah, gengsi), misale teng selebete ukara ‘Sejarah sampun nyukani buktos nyaniya setunggale pengolaborasian kultur antaretnis kang dipaksaaken punika saged nimbulaken error concept kang mbahayakaken teng tataran nations state, hal punika kedah sigra difollow up-i”.
b) konotasi ramah, ngrupiaken pianggean leksem atanapi varian basa kang ngorientasikaken teng aspek keakraban, santun, lan familier. Misale, “Alah… alah…, iku wong Jakarta, masih kelingan tah kita bengen guyang sambir goler ning empang bareng?”.
c) Konotasi bahayakaken, konotasi puniki raket petaliane kaliyan faktor kepercantenan setunggale kelompok masyarakat keranten penggunaan leksem kang dipamalikaken. Umpamane, “Alas iki ngrupakaken alas larangan, ning kene akeh kang nunggue (roh alus), ana nini-nini (maksade macan) lan ketimange Raja Suleman (maksade sawer kang ageng)”.
d) Konotasi mboten pantes, konotasi puniki ngrupiaken pianggeyan leksem-leksem kang mboten pantes diucapaken teng selebete situasi kang sampun temtos. Misale, tiyang nem atanapi tiyang kang gadah pangkat langkung andap tenimbang kang diajak micareng, mboten pantes yen ngucap :
“Hey, Pak!, Arep mendi kih? Timbang nganggur, luru cewek mall, yuk!.
e) Konotasi mboten sekeca, pianggean leksem puniki saged nimbulaken peraosan kang mboten sekeca dumateng pemirenge. Misale, “Ari wong kampung kuh pancen angel dijak ngomong ilmiah senajan wis lawas merad ning Jakarta, dasare wong udik ya angger bae kampungan”.
f) Konotasi kasar, ngrupiaken penganggean leksem kang lumrahe diangge dening tiyang kang siweg nyewot. Misale, “Bangsat! Dasar ketek budug, liwat ning arepe wong tuwa aja bara ngomong punten, malah ngentut. Babi kuh!.
g) Konotasi akas, ngrupiaken penganggean leksem hiperbolis kang nuduhaken pengiatan setunggale hal kang diomongaken. Misale, “Sawah lan kebone baris sing awit pugas wetan tumekeng pugas kulon. Mas, inten, raja branae pepetian lan parie pirang-pirang lumbung”.
h) Konotasi wangenan sekolahan, ngrupiaken pianggean leksem kang nimbulaken kesan resmi, kaku, lan redundansi. Misale, “Mengko isun teka ning umahe sampeyan jam nem belas (maksade jam sekawan sonten)”.
i) Konotasi kelare-larean, ngrupiaken penganggean leksem kelawan niru kemampuan micarenge lare alit atanapi kang biasa diucapaken dening lare alit atanapi balita. Misale, “Mah…, Ade pengen nenen” ujare bapa sing jero kamer.
d. Dumasar teng ketepatan maknae, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna tembung : secara sinkronis gadah sifat angger, nanging keranten setunggale hal kang wonten teng kegesangan, makna punika saged dumados makna kang sifate umum kang nembe gadah artos kang jelas sesampune tembung punika wonten teng selebete ukara. Misale : tawanan = tiyang kang ditawan atanapi barang kang asale saking panggawe atanapi tindakan nawan.
2) Makna istilah : makna kang gadah sifat angger (tetap) lan pasti kang dipigunakaken teng setunggale bidang kegiatan atanapi keilmuan kang sampun temtos. Misale bentene istilah ‘lengen’ kaliyan ‘tangan’ teng istilah kedokteran.
e. Dumasar teng hubungane kaliyan tembung kang sanes, secara umum makna kaperang dados kalih golongan, nggih niku makna konseptual lan makna asosiatif :
1) Makna konseptual : makna kang saluyu kaliyan konsep, makna kang saluyu kaliyan referensie, lan ucul saking asosiasi atanapi hubungan punapa mawon. Makna puniki sami kaliyan makna referensial, makna leksikal, lan makna denotatif.
2) Makna asosiatif : makna kang tinalenan kaliyan kewontenan sejawining basa. Misale ‘melati’ gadah asosiasi kaliyan kesucian, ‘abrit’ gadah asosiasi kaliyan kewantunan, lan sapanunggalane. Kang kelebet teng jenis makna puniki nggih niku :
a) Makna konotatif atanapi makna kamus, nggih niku makna kang wonten selebete kamus
b) Makna stilistika atanapi gaya pemilihan tembung keranten bentene status social lan bidang kegiatan sanese kang wonten teng kegesangan masyarakat. Misale : gubug, umah, gedong, wisma, hotel, istana, lan sapanunggalane,
c) Makna afektif nggih niku makna kang tinalenan kaliyan peraosan pengguna basa piyambek, mbuh kaliyan tiyang kang diajak ngobrol atanapi kaliyan objek tuturan,
d) Makna refleksi, lan
e) Makna kolokatif nggih niku makna tembung sanes kang gadah tempat kang sami teng setunggale frasa. Misale ‘gadis punika ayu’, ‘jejaka punika kasep’. Mboten saged ‘gadis punika kasep’ atanapi ‘jejaka punika ayu’.
f. Dumasar teng gaya basa atanapi ijenan (satuan) basa kang diangge, makna saged digolongaken dados kalih macem, nggih niku :
1) Makna idiomatikal: makna satuan basa kang nyimpang saking makna leksikal atanapi makna gramatikal unsur-unsur pangwangune. Misale : koran kuning, adol cangkem, adol swanten, lan sapanunggalane.
2) Makna pribasa : makna satuan basa kang sampun temtos kang maksih saged diramalaken keranten wontene asosiasi atanapi kaitan kaliyan antawis makna leksikal kaliyan makna gramatikal unsur-unsur pangwangune kaliyan makna kang sanes. Umpamane, Ngajeng-ajeng tigane Si Blorok, Endas gundul dikubuti, Ana gula ana semut lan sapanunggalane.
3) Makna pocapa : disebat ugi makna kias, nggih niku sedanten wangun basa (tembung, frasa, atanapi klausa) kang mboten ngrujuk teng artos kang selerese (makna kamus) kang ngrupiaken oposisi saking artos kang selerese. Misale : kembang desa, abang-abang lambe, aki-aki pitung mulud, lan sapanunggalane.
Sementawis punika ahli basa kang sanese nggih niku Heatherington (1980 : 135) mbagi makna dados kalih, nggih niku makna referensial kaliyan makna presedensial.
a) Makna referensial : makna referensial puniki setunggal leksem kang ngrujuk dumateng setunggale objek kang wonten teng alam eksternal.
b) Makna presedensial : teng hal puniki asosiasi-asosiasi kolektif mumkinaken penutur omong-omongan kaliyan penutur kang sanese sedawaneng waktos.
G. Penamian, Pengistilahan, lan Pendefinisian
Aristoteles (384 – 322 SM) njelasaken yen penamian punika ngrupiaken masalah konvensional atanapi perjanjian diantawis sesami setunggale masyarakat pengangge basa. Senajan mekaten, secara kontemporer maksih saged diilari sebab-sebab atanapi peristiwa-peristiwa kang nglatarpengkeri kedadosan penamian atanapi penyebatan dumateng sejumlah leksem kang wonten teng selebete leksikon basa punika.
1. Penamian
Penamian saged digolongaken dados golongan onomatopeia atanapi tetiron ungel, penyebatan sebagian, penyebatan sifat khas, penyebatan kang manggihi, penyebatan kang damel, penyebatan tempat asal, penyebatan bahan, penyebatan keserupian, penyebatan pencekakan, lan penyebatan enggal.
a. Anomatopeia atanapi tetiron unen-unen
Anomatopeia punika ngrupiaken penamian dumasaraken swanten kang digadahi dening setunggale barang atanapi makhluk.
Misale :
anggonge diwastani cecek keranten swantene, cek…., cek…., cek….,
anggonge diwastani tekek keranten swantene, tek…., tek…., tek…., tekek…, tekek…,
anggonge diwastani gugug keranten swantene, gug…., gug…., gug….,
anggonge diwastani sempritan keranten swantene, priiit…., priiit…., priiit….,
b. Penyebatan sebagian
Penyebatan sebagian punika ngrupiaken penamian dumasaraken setunggale bagian kang digadahi dening barang atanapi makhluk.
Misale :
Nggal endas olih sewu perak.
Wong tuwa kari setugel bli bisa diarepaken.
c. Penyebatan sifat kas
Penyebatan sifat khas punika ngrupiaken penamian dumasaraken sifat khas kang digadahi dening setunggale barang atanapi makhluk.
Misale :
Si Ceret kangge nyebat lare kang mboten saged ageng.
Si Botak kangge nyebat tiyang kang sirahe mboten wonten remane.
Golongan Putih kangge kelompok kang mboten purun milih.
Ekstrem kiri kangge nyebataken kelompok kang kontra kaliyan pemerintah.
d. Penyebatan keserupian
Penyebatan keserupian punika ngrupiaken penamian dumasaraken serupie barang kang setunggal kaliyan barang sanese kados kang dimaksad.
Misale :
sikil meja
raja dangdut
bintang lapangan
layar putih
raja wana
e. Penyebatan tempat asal
Penyebatan tempat asal punika ngrupiaken penamian dumasaraken tempat asale setunggale barang atanapi peristiwa punika dipanggihaken atanapi dumados.
Misale :
magnet dipanggihaken teng Magnesia
Perjanjian Linggarjati
dimejaijoaken
dinusakambangaken
f. Penyebatan bahan
Penyebatan anomatopeia punika ngrupiaken penamian dumasaraken bahan kang kang dipigunakaken kangge damel setunggale barang.
Misale :
goni karung kang didamel saking serat goni
kaca kaca mata, kaca mobil
kaleng kaleng susu, kaleng krupuk, kaleng minyak
perak perak bakar, duit perakan
pring rajeg pring, pring cucukan
g. Penyebatan kang manggihi atanapi kang damel
Penyebatan kang manggihi punika ngrupiaken penamian dumasaraken namie tiyang kang manggihi atanapi kang nyiptakaken setunggale barang.
Misale :
kondom alat kontrasepsi dipanggihaken dening Dr. Condom
mujaer sejenis ulam kang dipanggihaken dening Pak Mujair saking Kediri
volt satuan kekiatan arus listrik dipanggihaken dening Alexander Volta
h. Penyebatan pencekakan
Penyebatan pencekakan punika ngrupiaken penamian dumasaraken abreviasi saking kalih tembung atanapi langkung.
Misale :
depdiknas -> Departemen Pendidikan Nasional
rudal -> peluru kendali
tilang -> bukti pelanggaran
radar -> radio anti detecting and ranging
i. Penyebatan enggal
Penyebatan enggal punika ngrupiaken penamian dumasaraken kosa tembung enggal kang tujuane kangge ngalusaken makna pedamelan, kedadosan, atanapi peristitiwa kang dimaksad.
Misale :
pemecatan -> pemutusan hubungan kerja
pembantu rumah tangga -> pramuwisma
buta huruf -> tuna aksara
budeg -> tuna rungu
harga naik -> penyesuaian harga
2. Pengistilahan
Benten kaliyan proses penamian atanapi penyebatan kang langkung katah lumangsunge secara arbitrer, pengistilahan langkung katah lumangsunge secara prosedural lan konvensional. Hal punika dumados keranten pengistilahan punika dilampahaken kangge manggihaken ketepatan atanapi kecermatan makna setunggale hal kegiatan atanapi keilmuan.
Teng ngrikilah bentene antawis istilah minangka asil pengistilahan kaliyan nami minangka asil penamian. Misale : leksem ‘telinga’ kaliyan ‘kuping’ teng istilah kedokteran nuduhaken referens kang benten. Upami ‘telinga’ punika ngrupiaken alat kangge mirengaken bagian lebet, sedeng ‘kuping’ ngrupiaken alat kangge mirengaken bagian jawi. Mekaten ugi leksem ‘lengen’ lan ‘tangan’. Upami ‘lengen’ puniku bagian anggota badan awit kelek tumekang pagelangan, sedeng leksem ‘tangan’ punika nuduhaken bagian pagelangan tumekang driji.
3. Pendefinisian
Pendefinisian punika setunggale usaha kang dilampahaken kelawan sumejah kangge ngungkapaken kaliyan leksem-leksem teng atase setunggal peristiwa, kedadosan, barang, proses, hal, aktivitas, lan sapanungalane. Secara garis ageng, definisi dipasing dados definisi nominal kaliyan definisi real. Definisi nominal nggih niku setunggale usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara mertelakaken artos saking setunggale istilah kemawon.
Misale :
Filsafat asale saking tembung ‘philo’ lan ‘sophia’. ‘phillo’ artose tresna lan ‘sophia’ artose kewicaksanaan. Dados, filosofi nggih niku tresna dumateng kewicaksanaan.
Kelemahan saking definisi punika nggih niku wontene kenyataan nyania mboten sedanten tembung atanapi istilah saged didefinisiaken kaliyan defionisi nominal puniki.
Misale :
Nagasari asale saking tembung ‘naga’ lan ‘sari’. ‘naga’ artose sawer lan ‘sari’ artose inti atanapi pati.
Padahal nagasari punika nami setunggale barang dahar.
Sedeng definisi real nggih niku setunggale usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nyaketi kesunyatan (realitas). Sareng mekaten, definisi punika saged nyukani pengertosan tinemtos kaliyan pertela lan kawates, ngantos kasimpang saking wontene sawon pengertosan.
Secara rinci, pendefinisian saged dibentenaken dados :
a. Definisi sinonimis :
definisi kang tingkat kejelasane paling andap atanapi paling asor. Nggih niku setunggale leksem didefinisiaken kaliyan leksem kang sanes kang dianggepe gadah informasi kang sami. Misale, ‘rama’ didefinisiaken kaliyan ‘mama’ atanapi ‘bapak’, ‘tirta’ didefinisiaken kaliyan ‘toya’.
b. Definisi peragaan :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken setunggale hal atanapi barang sambir ningalaken barang punika. Misale : ‘Iki lhi, kang diarani OHP’.
c. Definisi formal :
definisi kang tingkat kejelasane langkung sae tinimbang definisi sinonimis. Definisi formal langkung rumiyin nyebataken ciri-ciri umume, lajeng tetenger khusus kang mbentenaken. Misale, bis, ciri umume kendaraan umum ciri khususe saged ngemot tiyang ngantos pulonan. Sepur ciri umume kendaraan umum tetenger khususe saged ngemot tiyang ngantos atusan lan glindingane katah sanget saluyu kaliyan jumblah gerbonge.
d. Definisi wiyar :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken sekaligus nyukani contoh. Misale : ‘Mobil ngrupiaken salah setunggale srana transportasi kang dipigunakaken dening tiyang-tiyang kados dene bis, sedan, bemo, lan sapanunggalane’.
e. Definisi logis :
definisi puniki ngidentifikasi objek, ide, atanapi konsep kang dimaksad secara nyata bentene kaliyan objek kang sanes secara tegas. Misale : Toya nggih niku zat cair kang tumurune saking mendung minangka jawah kang ngliputi 2/3 bagian kang arupi unsur pokok kegesangan makluk, campuran hidrogen, oksigen, H20, mboten kraos, mboten mambet, mboten mawarni, mboten ngandung zat padet,mboten ngandung kuman-kuman coli, lan umeb teng suhu 100 drajat celcius’.
Definisi logis ugi ngrupiaken usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara mbentenakan genuse (kelase) lan ngewontenaken diferensiasi (pibentenan) saking setunggale istilah. Misale : ‘Mahasiswa nggih niku sekelompok tiyang kang angsal kesempatan blajar teng perguruan inggil’.
f. Definsi uraian :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken nganalisa bagian-bagian setungal per setunggal. Misale : ‘Negara nggih niku wewengkon kang jelas watese, gadah rayat kang manggon teng wewengkon punika, lan wonten pemerintahan kang merdika teng selebete wewengkon punika’.
g. Definisi ensiklopedi :
definisi punika langkung wiyar tenimbang definisi logis keranten definisi ensiklopedis nerangaken secara ajeg lan jelas, ugi cermat. Misale : Toya nggih niku senyawa hydrogen lan oksigen, wontene teng pundi-pundi mawon, lan saged awujud (a) gas kados dene uap toya, (b) cairan kados dene toya sedinten-dinten, (c) madet kados es lan salju.
h. Definisi operasional :
definisi puniki dipigunakaken kangge keprayogian kang sampun temtos lan winates dening setunggale topik tuturan. Misale : Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku :
1) Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku zat cair kang ngrupiaken kebutuhan tiyang sedinten-dinten.
2) Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku toya kang asale saking tetuwuhan.
Sumber kang sanes nyebataken nyaniya macem-macem definisi nggih niku kados teng andap punikii.
a. Definisi nominal :
definisi kang gadah maksad mertelakaken artos istilah kemawon. Selebete wangun kang basajan, definisi nominal punika sami kaliyan definisi sinonim. Misale : Macan punika sami kaliyan harimau.
b. Definisi denotatif :
definisi kang nuduhaken contoh individual. Definisi punika asring dipigunakaken. Misale : warna nilka iku kaya kenen (sambir ningalaken warni punika).
c. Definisi konotatif :
definisi kang njelasaken cekap lengkap dumateng definiendum, keranten sampun nuduhaken tetenger pembenten saking genus kang caket (per genus et differentia). Damel definisi kaliyan cara puniki nggih niku cara kang kawalik.
d. Definisi operasional :
definisi kang nerangeken langkah-langkah kegiatan kang kang dipigunakaken lan dumados dateng definiendum (kang didefinisiaken). Misale : Damel definisi ‘renang gaya kupu-kupu’. Supados tiyang sanes jelas, maka kedah diterangaken langkah-langkah ngenai gerakan suku lan gerakan tangan saluyu kaliyan renang gaya kupu-kupu.
e. Definisi kausal
definisi kang njelasaken cara nyeriosaken asal-usul dumadose hal kang didefinisiaken. Misale : ‘Udan yaiku uap banyu kang mabur dados mega, terus ngembun lan tigel dadi udan’.
H. Relasi Makna
Unggal basa kalebet teng basa Cerbon, asring dipanggihi wonten hubungan makna atanapi relasi semantik antawis setunggal leksem atanapi ijenan basa kaliyan leksem atanapi ijenan basa kang sanese. Hubungan punika saged arupi kememperan atanapi kemiripan makna kados sinonim, kewalikan makna kados kontras, kegandaan makna kados polisemi lan ambiguitas, kecinakupan makna kados hiponimi, kelianan makna kados homonimi, ketalanjukan makna kados redundansi, lan sapanunggalane.
1. Sinonim
Secara semantik, Verhaar mertelakaken makna sinonim minangka ungkapan (tembung, frasa, ukara) kang maknae kirang langkung sami kaliyan ungkapan (tembung, frasa, ukara) kang sanes. Artose, kalih tembung, frase, atanapi ukara punika kesamiane mboten satus persen ajeg atanapi sami, kesamiane mboten mutlak keranten wonten prinsip semantik kang nyatakaken umpami wangenan tembunge benten, maka makna kang dikandung tembung punika ugi benten. Sanajan makna tembung punika meh sami, nanging pianggean tembung teng konteks ukara punika mboten secara ujug-ujug saged disubstitusikaken.
Sinonim simetris atanapi sinonim mutlak disebat ugi sinonim absolut mboten wonten teng selebete basa Cerbon. Hal punika saged dumados keranten :
(a) teng prinsipe upami wangene benten maka artose benten,
(b) faktor waktos, misale leksem ‘hulubalang’ cumi cocok kaliyan waktos jaman sengiyen, kangge jaman saniki diangge istilah ‘komandan’,
(c) faktor tempat, misale leksem ‘abdi’ cumi cocog kaliyan konteks basa Sunda, lan leksem ‘ingsun’ dipigunakaken dening masyarakat Cerbon,
(d) faktor sosial, misale leksem ‘isun’ digunakaken upami micareng kaliyan rencang, lan leksem ‘kula’ dipigunakaken upami micareng kaliyan tiyang kang yuswane langkung sepuh,
(e) faktor bidang kegiatan, misale leksem ‘tassawuf’ diangge dening tiyang muslim, sedeng leksem ‘kebatinan’ diangge dumateng tiyang non-muslim,
(f) faktor nuansa makna, misale bentene leksem ‘ndeleng, ngimpleng, nginte, mlotot, nongton, nglirik’, lan sapanunggalane.
a. Hal-hal kang perlu diperhatekaken teng sinonim
Katah hal-hal kang perlu diperhatekaken teng sinonimi, nggih niku kados teng andap puniki.
1) Mboten sedanten leksem wonten sinonime, misale beras, salju, watu, kuning, lan sapanunggalane.
2) Wonten leksem kang sinonim teng wangun dasare nanging mboten sinonim teng wangun andahane, misale ‘bener’ kaliyan ‘estu’ sinonim teng wangun lingga nanging mboten sinonim teng wangun andahan keranten ‘kebeneran’ mboten sinonim kaliyan ‘kaestuan’, ‘kebeneran’ sinonim kaliyan ‘ndilalah’.
3) Wonten leksem kang mboten sinonim teng wangun lingga nanging sinonim teng wangun andahan, misale ‘peh’ mboten wonten sinonime nanging ‘ngepeh’ wonten sinonime nggih niku ‘nggaringaken’.
4) Wonten leksem kang teng artos selerese mboten sinonim nanging teng makna pocapane wonten sinonime. Misale ‘putih’ teng makna pocapane sinonim kalian ‘bersih, suci, murni, asli, lan sapanunggalane’.
b. Ragam Sinonim
Sinonim ngrupiaken setunggale relasi makna kang katah ragam atanapi jinise. Anadene ragam sinonim saged dibentenaken kados teng andap puniki.
1) Sinonim antarmorfem
Sinonim antarmorfem nggih niku kememperan makna kang dumados antawis morfem kang setunggal kaliyan morfem sanese.
Misale :
Kula nyuwun bantuan piyambeke = Kula nyuwun bantuan piyambekipun.
Buku kang teng Pak Kuwu sampun kula pendet = Buku kang teng Pak Kuwu sampun tekpendet.
2) Sinonim antarleksem
Sinonim antarlekse nggih niku kememperan makna kang dumados antawis leksem kang setunggal kaliyan leksem sanese.
Misale :
Nissa metik pelem = Nissa metel pelem.
3) Sinonim antawis leksem kaliyan frasa
Sinonim antawis leksem kaliyan frasa nggih niku kememperan makna kang dumados antawis leksem kaliyan frasa.
Misale :
Ramae sampun ninggal = Ramae sampun tutup yuswa
4) Sinonim antarfrasa
Sinonim antarfrasa nggih niku kememperan makna kang dumados antawis frasa kang setunggal kaliyan frasa sanese.
Misale :
Tiyang sepuh kula ketingal silih asih. = Rama lan ibu kula ketingal silih asih.
5) Sinonim antarukara
Sinonim antarukara nggih niku kememperan makna kang dumados antawis ukara kang setinggal kaliyan ukara sanese.
Misale :
Hafizh nendang bal. = Bal ditendang Hafizh.
2. Kontras
Seliyane gadah kememperan makna atanapi sinonimi, setunggal leksem mumkin gadah kewalikan makna. Diwuwusaken mumkin keranten mboten unggal leksem gadah kontrase. Istilah kontras ngliputi oposisi lan antonimi.
a. Oposisi
Oposisi nggih niku setunggale leksem kang gadah hubungan tinentangan atanapi kontras kang nuduhaken hubungan komplementif atanapi silih nglengkepi. Wontene setunggal leksem atanapi referens punika disebabaken wontene referensi kang sanese. Hubungan kontras komplementif atanapi mutlak kados mekaten sampun mboten saged digradasiaken, artose teng antawis kekalihe mboten wonten malih istilah atanapi leksem sanese.
Contoh oposisi :
lanang >< wadon guru >< murid mbok >< bapa
b. Antonimi
Antonini nggih niku setunggale leksem kang dianggep gadah makna tinentangan antawis setunggal leksem kaliyan leksem kang sanese, nanging hubungan punika maksih saged digradasiaken, artose teng antawis kalih leksem punika maksih wonten kemumkinan dugie leksem sanese. contoh antonim : blesak >< kirang sae, rada sae, cekap sae, sae, langkung sae, sae pindah, … kopral >< sersan, letnan, kapten, mayor, … Teng lebete hubungan oposisi kados lanang >< wadon hubungan komplementer atanapi mutlak linaku sanget keranten ‘kang mboten gadah ciri lanang pesti wadon’, mekaten ugi sewangsule, upami ‘mboten gadah ciri wadon pesti lanang’. Proses mikire kados teng andap puniki :
(a) lanang nggih niku sanes wadon
(b) kang sanes wadon puniku pesti lanang
(c) wadon nggih niku sanes lanang
(d) kang sanes lanang puniku pesti wadon Teng hubungan tata tingkat atanapi kontraries, hubungan dikotomi mutlak kados dene teng inggil punika mboten linaku atanapi mboten saged dilaksanakaken sanajan :
(a) panas nggih niku mboten adem
(b) adem nggih niku mboten panas nanging mboten saged dirambangaken dados :
(a) kang ‘mboten panas’ artose mboten pesti adem, keranten kang mboten panas punika saged ‘rada adem, anget, cukup adem, adem, adem pisan, paling adem, adem ces’, lan sapanunggalane
(b) kang ‘mboten adem’ artose mboten pesti panas, keranten kang mboten ‘adem punika’ saged ‘rada panas, cukup panas, panas, panas pisan, paling panas’, lan sapanunggalane. Relasi tinentangan kados mekaten lumrah disebat polaritas positif lan polaritas negatif. Pranata leksem kang gadah kemumkinan kangge dipitentangaken kados leksem teng inggil punika disebat ortagonal, sedeng relasi pitentangane disebate antipodal. Dumasar sipate, oposisi dibentenaken dados :
1) Oposisi Mutlak Kang dimaksad kaliyan oposisi mutlak ngggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem minangka oposisie punika pesti dumados. Maksade wontene istilah punika tumimbul keranten wontene isrilah oposisie. misale : laki >< rabi lanang >< wadon duda >< rangda
2) Oposisi Kutub Kang dimaksad kaliyan oposisi kutub nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan relatif kang gradatif keranten wates kang fleksibel. misale : adoh >< parek dawa >< cendek duwur >< endep
3) Oposisi Relasional Komplementif Kang dimaksad kaliyan oposisi relasional komplementif nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan nglengkepi. misale : guru >< murid bujang >< majikan adol >< tuku
4) oposisi hierarkilal Kang dimaksad kaliyan oposisi hierarkilal nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan kang nyatakaken deret dawa, jenjang, atanapi tetingkatan. misale : meter >< kilometer gram >< ton kopral >< jendral
5) Oposisi Majemuk Kang dimaksad kaliyan oposisi majemuk nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan kang antawis leksem-leksem punika maksih mumkin dugie leksem sanese. misale : ndodok glelengan turu >< ndongkok nongkrong ngadeg
3. Homonimi, Homofoni, lan Homografi
Homonimi nggih niku ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang wangune lan lafale sami kaliyan wangun lan lafale sami kaliyan ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) sanese nanging maknae benten. Homonim ngrupiaken leksem kang sami lafal lan ejaane, nanging makna ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) punika benten.
Misale :
adang = mbetek ngangge dangdang
adang = ngalang-alangi, nunggu
pacar = demenan
pacar = inai
selang = pipa
selang = jangka waktos
bandar = pelabuhan
bandar = cukong judi
abang = nami setunggale warni
abang = kakang lanang
kang = tiyang kang yuswane langkung sepuh (kakang)
kang = sing (kang abang = sing abang)
dada = tabe (nglambe-lambeaken tangan)
dada = bagian badan
wedi = mboten wantun
wedi = pasir
betok = ulam kados mujaer
betok = angus kenging toya keras
calak = penter ngomong
calak = alat kangge nggosok inten
ceret = wadah toya
ceret = mboten saged ageng
Homofoni nggih niku ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang lafale sami kaliyan leksem kang sanese nanging ejaan lan maknae benten.
Misale :
bank = lembaga peryatraan
bang = kakang lanang
sangsi = ragu-ragu atanapi ham-ham
sanksi = ukuman
Homografi nggih niku setunggale ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang ejaane sami kaliyan leksem kang sanese nanging lafal lan maknae benten.
Misale :
godeg = rambut ning pilingan mengandap
godeg = gerakan sirah kang nandakaken mboten
bebek = kambangan
bebek = numbuk kaliyan alu supados alus
sedeng = cekap
sedeng = rada edan
betek = ngliwet
betek = panggonan sementawis teng proyek
beres = kasusun rapi, priyad
beres = adem pisan
a. Tataran Homonimi
Tataran homonimi saged digolongaken dados sekawan tataran, nggih niku tataran antar morfem, tataran antarleksem, tataran antarfrasa, lan tataran antarukara.
1) Tataran Antarmorfem
Tataran homonimi antarmorfem nggih niku persamian wangun morfem kang setunggal kaliyan morfem kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih morfem punika benten.
misale :
Kiyen bukue isun, sedeng kang nggletak ning meja tamu bukue deweke. (pronomina)
Nalika kula ajeng blajar nanging bukue mboten wonten. (nyatakaken buku)
2) Tataran Antarleksem
Tataran homonimi antarleksem nggih niku persamian wangun leksem kang setunggal kaliyan leksem kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih leksem punika benten.
misale :
Isun bisa ngerjakaken soal. (saged)
Amir gering kenang bisa ula. (wisa)
Aqshal ngiling banyu sing ceret.
Dulatip kapanjing wong sing ceret.
3) Tataran Antarfrasa
Tataran homonimi antarfrasa nggih niku persamian wangun frasa kang setunggal kaliyan frasa kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih frasa punika benten.
misale :
lukisan Yusuf = lukisan gadahe Yusuf
lukisan Yusuf = lukisan hasil nglukise Yusuf
lukisan Yusuf = lukisan wajah Yusuf
4) Tataran Ukara
Tataran homonimi antarukara nggih niku persamian wangun ukara kang setunggal kaliyan ukara kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih ukara punika benten.
misale :
Istrie lurah kang enggal punika ayu. (lurah enggal gadah istri kang ayu)
Istrie lurah kang enggal punika ayu. (lurah gadah istri enggal kang ayu)
b. Faktor-faktor kang nyebabaken dumadose homonimi
1) saking dialek kang benten
misale :
bisa = racun sawer (Melayu)
bisa = saged (Jawa)
2) minangka akibat proses morfologis
misale :
ukur + N- = ngukur (Petugas lagi ngukur dalan.)
kukur + N- = ngukur (Mimi lagi ngukur krambil.) (ngeruk)
kukur + N- = ngukur (Aja ngukur bae sih ngkoe pada lecet!)
4. Hiponimi lan Hipernimi
Hiponimi nggih niku ungkapan / leksem kang maknae dados bagian makna ungkapan atanapi leksem kang sanese. Hiponimi ngrupiaken leksem-leksem hierarkis kang nyakup makna wiyar / arti umum, sedeng hipernimi ngrupiaken leksem-leksem hierarkis kang nyakup makna khusus / makna ciut. Hubungan antawis hiponimi kaliyan hipernimi cakupan maknae punika searah.
Misale :
MAKHLUK
makhluk gesang benda mati
janma kewan tuwuhan
hiponim
mainda gajah ulam maisa super ordinat
kohiponim
tongkol kakap mujaer layur subordinat
5. Polisemi
Polisemi lazim diartosaken minangka satuan basa (terutami tembung, saged ugi frasa) kang gadah makna langkung saking setunggal. Teng pekembangan kang langkung lami, komponen-komponen makna punika saged ngrembaka (ngembang) dados makna-makna sanese. Saged dinyatakaken upami makna kang wonten teng selebete wangun polisemi punika maksih wonten kait-kaitane atanapu hubung-hubungane kaliyan makna asal keranten sunyatane makna punika dijabaraken saking makna kang wonten teng tembung asal punika.
Misale :
sirah :
(a) bagian gulu menginggil
(b) bagian kang paling penting
(c) bagian kang bentuke buled
(d) pemingpin atanapi ketua
(e) jiwa atanapi tiyang
(f) akal budi
a. Bentene Homonimi kaliyan Polisemi
1) Homonimi sanes setunggal leksem kang sami nanging kalih leksem kang wangen lafal, lan ejaane keleresan sami. Teng selebete kamus, wangen homonimi punika didaftaraken kaliyan entri kang benten. Sedeng polisemi punika setunggal leksem kang sami nanging leksem punika gadah makna kang benten-benten, artose makna kang dikandung teng leksem punika langkung saking setunggal. Teng kamus, polisemi didaftaraken dados setunggal entri.
2) Makna teng wangun homonimi mboten wonten kaitan makna atanapi hubungan maknae antawis leksem kang setunggal kaliyan leksem kang sanese, sedeng polisemi makna kang dikandung punika maksih wonten kaitan makna atanapi hubungan maknae keranten senyatae dikembangaken saking komponen-komponen punika.
b. Faktor-faktor kang ndadosaken polisemi
1) Spesifikasi ilmu pangauningan, misale pianggean wangun leksem teng ilmu kebasaan, benten kaliyan pianggean leksem teng bidang arsitektur, ugi benten kaliyan pianggean leksem teng bidang seni rupa, mekaten ugi benten teng bidang kedokteran..
2) Spesifikasi pianggean teng kegesangan sedinten-dinten kang rineka werna. Misale leksem ‘tarik’ dening supir dimaknai kaliyan ‘jalan/kesah’. Nanging dening tukang kajeng dimaknai kaliyan ‘sered’.
3) Pianggean teng gaya basa misale leksem ‘getih’ lan ‘kentel’ teng sajake Chairil Anwar sampun ngalami perobihan, penambihan, lan pengalihan makna.
4) Tuturan lisan atanapi penulisan kang sawon.
Antawis polisemi kalaiyan homonimi punika asring keder mbentekanene, kangge punika, teng andap puniki wonten cara kang kedah diperhatekaken selebete mbentenaken wangen polisemi kaliyan homonimi, nggih niku :
(a) tingal kamus lan pahami etimologi lekseme,
(b) pahami konteks penganggeane,
(c) pahami makna kang intie atanapi core of meaning,
(d) kaji hubungan strukturale
6. Ambiguitas
Ambiguitas atanapi ketaksaan basa asring diartosaken minangka leksem kang gadah makna ganda atanapi ngrangkep artos. Bentene antawis ambiguitas kaliyan polisemi nggih niku ari kerangkepan makna polisemi asale saking leksem, sedeng kerangkepan makna ambiguitas saking satuan kang langkung ageng, nggih niku frasa atanapi ukara kang kedadosane sami minangka akibat penapsiran struktur makna kang benten.
Misale :
Buku sejarah enggal : buku sejarah kang nembe medal
buku kang isie sejarah jaman kang enggal
Wong males mambah mono : arang tiyang kang kiyeng lintang ngambah mrika
cumi tiyang males kang lintange ngambah mrika
Pebentenane Ambiguitas kaliyan Homonimi
(a) ditingal minangka wangun kalih leksem kang keleresan wangune sami kaliyan makna kang benten, sedeng ambiguitas nggih niku wangun kaliyan makna kang benten minangka akibat kesawonan penafsiran struktur gramatikal.
(b) Ambiguitas cumi dumados teng taran frasa atanapi ukara, sedeng homonimi saged dumados teng sedanten wangun satuan gramatik.
7. Redundansi
Redundansi asring diartosaken minangka kelangkung-langkungan pianggean unsur suprasegmental teng selebete setunggal ujaran atanapi tuturan.
Misale :
Bal ditendang dening Hafizh.
Bal ditendang Hafizh.
Pianggean tembung ‘dening’ teng ukara kang wonten teng inggil punika dianggep redundansi atanapi kelangkung-langkungan pianggean leksem kang mboten diperyogiaken, keranten sanajan umpamae leksem ‘dening’ punika dibucal, makna kang dikandung dening ukara punika mboten robih. Artose makna ‘Bal ditendang dening Hafizh’ punika sami kaliyan ‘Bal ditendang Hafizh’.
I. Medan Makna
Medan makna nggih niku bagian sistem semantik basa kang nggambaraken bagian saking kebudayaan atanapi realitas teng selebete alam semesta kang direalisasiaken dening seperangkat unsur leksikal kang gadah hubungan maksad. Medan makna punika ngaji pengelompokan leksem kang gadah hubungan makna. Hubungan kang dimaksad nggih niku hubungan kolokasi lan hubungan set. Kolokasi nuduhaken hubungan sintagmatis kang dumados antawis tembung-tembung atanapi unsur leksikal. Hubungan sintagmatis puniki sipate hubungan linier atanapi hubungan segaris.
Misale :
Mang Amin kapanjing wong kang open ning pite. Senajan pit iku wis ora bagus, nanging masih enak ditumpakane. Sadele digawe sing kulit, setange jejer loro, bane masih katon anyar lan bersih, reme pakem, peleke keling bae, becongane ditambah karo busa tabeke korsi kang epuk, lan ora klalen kriningane nggal dina digemuk supaya munie melung waktu ditabuh. Mang Amin uga wong kang ngati-ati yen numpak pit, ora ning dalan kang branjal-brinjul ora ning dalan kang alus. Apa maning ning dalan kang aspalan kang rame karo kendaraan sejene lan ngadepi pengkolan atawa ning prapatan lampu abang ijo.
Kolokasi
1. pit : ban, sadel, setang, pelek, rem, becongan, kriningan.
2. dalan, branjal-brinjul, alus aspal, pengkolan, prapatan, lampu abang ijo.
Upami kolokasi nduhaken hubungan sintagmatis, maka set nuduhaken hubungan paradigmatis. Hubungan paradigmatis nggih niku hubungan silih gumanti. Artose leksem-leksem kang wonten teng selebete ukara punika saged disulihaken atanapi diggentos kaliyan leksem sanese.
Misale :
Waktu arep subuh, wetengisun kemruyuk, untung ning meja masih ana ….
Leksem kang didelisiaken teng ukara teng inggil punika saged diisi kaliyan rujak, roti, sekul, oncom goreng, jagung bakar, intip goreng, lan sapanunggalane barang atanapi penganan kang saged didahar minangka geganjel weteng ngantos weteng punika mboten ngraos kempong malih. Nanging kang kedah diperhatekaken selebete ngisi titik-titik punika nggih niku :
a. Frasa ‘arep subuh’. Frasa punika nuduhaken wanci enjing njeput, dados mboten mumkin yen titik-titik punika diisi kaliyan ‘rujak’ atanapi dedaharan kang wonten sambele.
b. Pronominal kataforis ‘isun”. Pronominal punika saged diidentifikasi, kepripun upami ‘isun’ punika referensie tiyang sepah kang gadah waos (untu) cumi setunggal (nini-nini atanapi kaki-kaki), maka titik-titik punika mboten mumkin diisi kaliyan jagung bakar atanapi intip goreng.
1. Komponen Makna
Komponen ngrupiaken wujud pranata makna kang gadah tetenger khusus atanapi tetenger piyambek kang digadahi anggota kelas makna minangka tetenger pembenten. Kewontenan ciri kusus teng selebete setunggale fitur semantik punika ditandai kaliyan (+), mboten wontene tetenger kusus ditandai kaliyan ( – ), lan kemumkinan wonten mbotene ditandai kaliyan ( ± ).
jago
+ tiyang + sato kewan – benda
(+ lanang) (+ lanang) (– lanang)
– wadon – wadon – wadon
2. Kesaluyuan Semantis lan Gramatis
Setunggale bahasawan atanapi penutur basa saged mahami lan migunakaken basa mboten keranten piyambeke amengku samubarang ukara kang wonten teng basa punika, nanging keranten wontene kesaluyuan atanapi kepanujuan tetenger semantik antawis unsur leksikal kang setunggal kaliyan unsur leksikal kang sanese. Misale, tiyang istri lan siweg bobot wonten kesaluyuan tetenger semantik. Nanging antawis tiyang jaler lan siweg bobot mboten wonten kesaluyuan tetenger semantik. Mekaten ugi sewalike misale tiyang jaler kaliyan kumis wonten kesaluyuan tetenger semantik.
Mekaten ugi antawis leksem dahar kaliyan baso jelas wonten kesaluyuan tetenger semantike. nanging antawis leksem dahar kaliyan korsi mboten wonten kesaluyuan tetenger semantik keranten leksem baso gadah tetenger ( + daharan ) sedeng leksem korsi gadah tetenger semantik ( – daharan ). Dados, pernyataan dahar baso saged ditampi sedeng pernyataan dahar korsi mboten saged ditampi. Keranten korsi punika sanes daharan.
Kesaluyuan tetenger punika mboten cumi linaku teng unsure-unsur leksikal kemawon, nanging ugi linaku antawis unsure leksikal kaliyan unsur gramatikal. Misale leksem setunggal cumi saluyu kaliyan leksem sawung, lan mboten saluyu kaliyan leksem sawung-sawung, nggih niku wangun reduplikasi saking leksem sawung. Pramila punika, ukara Mimi tumbas setunggal sawung saged ditampi nanging ukara Mimi tumbas setunggal sawung-sawung mboten saged ditampi. Hal punika dumados keranten leksem setunggal saluyu kaliyan leksem sawung gadah tetenger semantik ( + tunggal ) sedeng leksem setunggal kaliyan leksem sawung-sawung mboten gadah tetenger semantik (– tunggal).
3. Makna teng Sistem Tanda
Konsep makna minangka sstem tanda sampun lami dibahas dening para ahli basa. Ferdinand de Saussure teng naun 1916 sampun nylidiki konsep makna minangka sistem tanda. Kesimpulane miturut Ferdinand de Sussure, basa minangka sistem tanda diindikatori dening wontene hubungan kang raket antawis (1) signifiant, nggih niku gambaran tatanan ungel-ungel secara abstrak teng kesadaran batin para penganggene, (2) signifie, nggih niku gambaran makna secara abstrak sehubungan kaliyan wontene kemumkinan hubungan antawis ungel kaliyan dunia jawi, (3) form, nggih niku kaidah abstrak kang ngatur hubungan antwis butir-butir abstraksi ungel ngantos kemumkinane kangge ngekspresi diri, lan (4) substance, nggih niku perwujudan ungel - ungel ujaran kang kas.
J. Perobihan Makna
Makna setunggale leksem secara sinkronis saged rinobih. Pernyataan punika nyirataken pengertosan nyaniya mboten unggal tembung maknae kedah rinobih atanapi rinobih secara diakronis. Kang dimaksad sinkronis nggih niku penyelidikan makna kang dilampahaken teng setunggale waktos atanapi jaman kang sami, sedeng kang dimaksad diakronis nggih niku penyelidikan makna kang dilampahaken teng waktos atanapi jaman kang benten. Katah leksem kang maknae sing awit sengiyen mboten ngalami perobihan, malah cacahe mumkin langkung katah tinimbang kang rinobih atanapi ngalami perobihan.
1. Sebab-Sebab Perobihan Makna
Katah faktor kang ndadosaken perobihan makna setunggale leksem. Perobihan leksem punika saged dumados keranten perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan sosial budaya, perkembangan bidang pianggean, wontene asosiasi kang benten, tetukeran tanggapan indera, perbentenan tanggapan, wontene panyindekan, mawiyar, nyiuti, perobihan total, pengalusan, lan pengasaran.
a. Perkembangan Ilmu Pengetahuan lan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan lan teknologi saged nyebabaken dumadose perobihan makna setunggal leksem. Teng ngrika, setunggal leksem kang waune ngandung konsep makna ngenai setunggale makna kang basajan angger dipigunakaken senajan konsep makna kang digadahi punika sampun rinobih minangka pamrah saking pandengan enggal atanapi teori enggal selebete setunggal ilmu atanapi pamrah perkembangan teknologi. Misale perobihan makna teng leksem sastra saking makna ‘tulisan’ robih dados ‘rumpaka imajinatif’.
b. Perkembangan Sosial Budaya
Wangun leksem teng perobihan makna keranten perkembangan sosial budaya punika angger sami, nanging makna kang digadahi punika sampun rinobih. Misale leksem saudara (sederek) teng basa Sansekerta ngandung makna ‘seweteng’ atanapi setunggal kandungan, nanging makna punika seniki sampun rinobah lan dipigunakaken kangge nyebat tiyang sanes kang dianggep sederajat atanapi gadah status sosial kang sami kados teng ukara Surat saudara sampun kula tampi atanapi Teng pundi sederek dilairaken?
c. Perkembangan bidang Pianggean
Perobihan bidang pianggean saged nyebabaken perobihan setunggal leksem. Misale teng bidang tetanen saged dipanggihi leksem bibit, tandur, panen, nggarap, mupuk, nawur, mbajak (mluku), lan sapanunggalane. Leksem mbajak sengiyen diangge kangge makna ngolah siti teng sabin, nanging saniki leksem punika gadah makna setunggale panggawe kang ngrugiaken tiyang atanapi pihak sanes, misale teng ukara ‘Saniki mboten sekedik pencipta lagu terutami lagu dangdut kang mbajak rumpaka tiyang sanes, khususe lagu-lagu saking India atanapi Arab.
d. Wontene Asosiasi
Wontene Asosiasi saged ngrobih makna setunggale leksem. Perobihan makna keranten wontene asosiasi punika keranten wontene hubungan antawis kedadosan atanapi peristiwa atanapi hal kang setunggal kaliyan kedadosan, peristiwa atanapi hal sanese. Misale perobihan makna leksem amplop teng ukara Hafizh dikengken tumbas amplop teng toko kaliyan makna leksem amplop teng ukara ‘Ambir samubarange gage beres, paien bae pejabate amplop’.
e. Tetukeran Tanggapan Indera
Alat indera janma kang cacahe gangsal punika satuhune sampun gadah kardi piyambek-piyambek kangge nanggapi gejala-gejala kang wonten teng dunia punika. Upamie raos manis, asin, getir, lan asem kedah ditanggapi kaliyan indera pengraos nggih niku lati. Raos panas, adem, lan atis kedah ditanggapi kaliyan indera peraba nggih niku kulit. Gejala kang kinait kaliyan cahaya kados padang, peteng, lan remeng-remeng kedah ditanggapi kaliyan indera paningal nggih niku mripat. Gejala kang tinalenan kaliyan swanten kados melung, hawar-hawar, atanapi lamat-lamat kedah ditanggapi kaliyan indera pemireng nggih niku kuping, sedeng gejala kang kinait kalian ambet punika kedah ditanggapi kaliyan indera pangambung nggih niku grana.
Teng penggunaane katah dumados kasus tetukeran antawis alat indera kang setunggal kaliyan alat indera kang sanese. Raos pedes misale kedah ditanggapi kaliyan indera pengraos nggih niku lati, nanging teng pianggean asring dituker kaliyan indera pemirengan, misale teng ukara Omongane pedes pisan. Kasar kang kedahe ditanggapi kaliyan indera peraba nggih niku kulit asring dituker kaliyan indera paningal nggih niku mripat, misale teng ukara Tumindake kasar temen. Contoh liyane misale ukara Suarane enak dirungokaken atanapi Wong wadon kae sedep dipandenge. Leksem enak kaliyan sedep punika kedah ditanggapi kaliyan indera pangraos, nanging teng ukara punika ditanggapi kaliyan indera pemirengan lan paningalan. Tetukeran tanggapa alat indera kados kang sampun diserataken punika disebate sinaestesis.
f. Perbentenan Tanggapan
Unggal wangun leksikal atanapi leksem satuhune secara sinkronis sampun gadah makna leksikal kang angger. Nanging keranten wontene pandengan gesang lan ukuran selebete norma kegesangan kang benten kang wonten teng selebete masyarakat, katah leksem kang saged gadah nilai raos kang dianggep asor atanapi kang mboten nyenengaken, nagging katah ugi leksem kang dados gadah nilai raos kang dianggep inggil atanapi nyenengaken.
Leksem kang dianggep gadah nilai raos kang mrosod dados asor punika disebate peyoratif, sedeng leksem kang dianggep gadah makna kang manek atanapi langkung inggil disebate amelioratif. Leksem laki lan rabi dianggepe gadah makna langkung asor atanapi peyoratif tinimbang leksem semah lan istri, atanapi leksem bung (kados teng sebatan Bung Tomo, Bung Hatta, Bung Karno) dianggep gadah nilai raos kang langkung inggil atanapi amelioratif tinimbang leksem bang (kados teng sebatan Bang Dul)
g. Wontene Penyindekan
Selebete basa Cerbon katah leksem atanapi ungkapan kang lantaran asring dipigunakaken lajeng datan diucapaken atanapi diserat secara lengkap malih keranten senajan mboten diucapaken atanapi diserataken ugi penanggap tutur sampun sumerep punapa kang dimaksad dening penutur punika. Misale ukara Ramae ninggal, temtos maksade Ramae ninggal dunia. Dados, ninggal punika ngrupiaken penyindekan saking ninggal dunia. Bapa teng Jakarta ngrupiaken penyindekan saking Bapa (siweg) kesah teng Jakarta. Mekaten ugi penyindekan teng tebruk saking teh tubruk, dubang saking idu sing abang, lan sapanunggalane.
h. Mawiyar
Katah leksem kang ngalami pemiyaran makna. Leksem punika kawitane cumi diangge teng bidang-bidang kang sampun temtos, nanging saniki leksem-leksem punika ngalami pewiyaran makna keranten sampun diangge teng bidang-bidang sanese. Misale leksem nyitak awale diangge teng bidang percitakan kados buku, majalah, koran lan sanese-sanese, nanging saniki leksem nyitak punika asring diangge teng bidang tetanen, misale teng ukara Pemerentah bade nyitak sabin-sabin enggal, atanapi teng bidang olahraga kados teng ukara Persib Bandung sampun nyitak tigang gul teng gawang Persija.
i. Nyiuti
Kang dimaksad perobihan nyiuti nggih niku gejala kang dumados teng setunggale leksem kang kawitane gadah makna kang wiyar nanging saniki leksem punika diangge teng setunggal makna kemawon. Misale leksem sarjana, sengiyen leksem sarjana punika gadah makna tiyang kang pinter (cendekiawan), nanging saniki leksem punika cumi diangge kangge tiyang kang sampun lulus saking setunggale perguruan inggil jenjang S.1, S.2, atanapi S.3 kados teng frasa Sarjana Pendidikan, Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi, Sarjana Pendidikan Islam, lan sapanunggalane.
j. Perobihan Total
Kang dimaksad perobihan total ngih niku perobihan makana kutub setunggale makna saking makna kawitane. Karuan wonten kemumkinan makna punika maksih wonten sangkut paute kaliyan makna kawitan, nanging sangkut paute punika sampun tebih sanget atanapi melenceng sanget. Misale leksem ceramah punika makna kawitane rewel, cerewet, atanapi katah omonge, nanging saniki leksem ceramah punika rinobih dados pidato aatanapi urean ngenai setunggal hal kang dimaturaken. Leksem pena makna kawitane nggih niku wulu, saniki makna pena sampun robih total dados alat tulis kang migunakaken mangsi.
k. Pengalusan
Selebete basa Cerbon, pengalusan makna sanes barang kang enggal teng tuturan sedinten-dinten. Tiyang sengiyen kang kewentar keranten kepercantenan atanapi sebab-sebab sanese nggentos leksem buaya atanapi macan kaliyan nini-nini, nggentos sawer kaliyan ketimange Nabi Suleman, nggentos makhluk alus kaliyan penunggu, lan sanes-sanese. Mekaten ugi istilah tuna daksa, tuna netra, tuna grahita, lan sapanunggalane ngrupiaken cara pengalusan makna leksem (eufemia).
l. Pengasaran
Kewalikan saking pengalusan nggih niku pengasaran (disfemia). Disfemia nggih niku usaha kangge nggentos leksem kang maknae alus atanapi biasa dados leksem kang maknae kasar. Anadene prayojana penggunaan leksem punika kangge ngiataken maksad leksem teng setunggale peristiwa. Misale leksem nggondol gadah konotasi mboten sae lan kasar kados teng ukara Maling nggondol rupa-rupa barang sing umae pengusaha krupuk mlarat nanging leksem punika asring digunakaken kangge bidang sanes kang nguntungaken malah mbanggakaken kados teng ukara Regu bulu tangkis Indonesia suskes nggondol Piala Thomas.
2. Latar Perobihan Makna
Perobihan makna kang digadahi dening setunggal leksem saged disebabaken dening faktor-faktor kados dene tetenger dasar kang digadahi dening internal basa, wontene proses gramatik, sifat generik leksem, wontene spesifikasi, unsur kesejarahan, faktor emotif, lan tabu basa.
a. Tetenger dasar digadahi dening internal basa
Makna setungal leksem sanese saged nggadahi hubungan kang raket kaliyan leksem kang sanese, misale teng setunggal kolokasi, makna lan wangun leksem ugi saged tumpang tindih misale teng polisemi lan homonimi. Tetenger dasar kang digadahi dening setunggal leksem saged nyebabaken perobihan makna setunggal leksem. Misale konotasi kang raket sanget antawis ‘kopi’ kaliyan ‘inuman’ nyebabaken perkembangan makna teng leksem ‘kopi’ sanese ngrujuk teng ‘woh kopi’ ugi ngrujuk teng ‘bubuk kopi’ lan ‘inuman kopi’.
b. Pamrah Wontene proses gramatik
Wontene proses gramatika setnggal leksem ngrupiaken setunggal latar kang saged nyebabaken robihe makna kang digadahi dening leksem kang dimaksad. Misale leksem ‘ibu’ ngalami relasi gramatik kaliyan ‘kota’ ngantos mboten cumi ngrujuk teng ‘wadon/istri’.
c. Sipat generik leksem
Leksem-leksem teng setunggale wangun kebasaan umume makna kang digadahi dening leksem-leksem punika mboten kaku nanging lentur. Pamrah kesamuran lan kelenturan leksem punika makna leksem asring ngalami pergeseran saking makna kawitane. Misale leksem ‘blajar’ sanes mawon blajar teng sekolahan, nanging saged ugi ‘blajar nyopet, blajar nembang, blajar nyupir, blajar bal-balan, lan sapanunggalene’.
d. Wontene spesifikasi
Wontene spesifikasi bidang pianggean ngrupiaken setunggale latar kang nyebabaken perobihan makna setunggal leksem. Misale leksem ‘ranah’ awale ngrujuk teng ‘wilayah atanapi daerah’ nanging leksem ranah punika saniki ngalami kekususan lan disejajaraken kaliyan ‘domain’, (inget teng istilah ranah kognitif, afektif, lan psikomotor kang disejajaraken kaliyan istilah domain kognitif, afektif, lan psikomotor kang diwedalaken Benjamin S. Bloom kang dikenal kaliyan istilah Taksonomi Bloom).
e. Unsur kesejarahan
Unsur kesejarahan kang nyebabaken robihe makna setunggal leksem tetalenan kaliyan (1) perjalanan basa saking setunggal generasi teng generasi kang sanese, (2) perkembangan konsep ilmu pangauningan, (3) kebijakan institusi, lan (4) perkembangan idea lan objek kang dimaknai. Misale leksem ‘perjuangan’ sengiyen cumi dimaknai kaliyan ‘perang nglawan penjajahan’ saniki leksem ‘perjuangan’ punika dimaknai kaliyan ‘usaha ningkataken taraf kegesangan’.
f. Faktor emotif
Unsur motif kang saged nyebabaken pergeseran makna ditandai dening wontene asosiasi, analogi, lan bebandingan selebete pianggean wangun basa. Hal punika mamrahaken wangun metaforis kados metaforis antromorfis, mataforis bebandingan kewan, lan metaforis sinaestesis.
Metaforis antromorfis nggih niku penataan relasi leksem kang kedahe khusus kangge fitur janma nanging dihubungaken kaliyan barang-barang kang mboten gadah ambekan. Metaforis kewan nggih niku pianggean khusus kaliyan kewan dipigunakaken kangge barang kang mboten wonten ambekane atanapi tiyang. Sementawis metaforis sinaestesis nggih niku pengalihan asosiasi fitur semantic setunggale refere kang sampun temtos teng referen sanese kang secara analogis gadah kesetataan sifat. Misale leksem ‘pedes’ kangge sambel kaliyan ‘pedes’ kangge omongan, ‘manis’ kangge raose gendis kaliyan ‘manis’ kangge wajah.
g. Tabu basa
Unsur tabu basa ngrupiaken setunggal latar kang saged nyebabaken wontene perobihan lan pergeseran makna. Tabu basa punika ngrupiaken setunggale leksem kang pianggeane dianggep tabu atanapi pamali, hal punika tinalenan kaliyan faktor kepercantenan setunggal masyarakat dumateng hal-hal kang dianggep tabu atanapi pamali. Tabu basa punika saged dibentenaken dados :
(1) tabu keranten rasa hormat, misale ‘penunggu’ digunakaken kangge nyebat roh alus, atanapi leksem ‘kyai’ digunakaken minangka gegantos nyebat macan, lan
(2) tabu kangge ngalusaken, misale frasa ‘bade teng pengker’ kangge seni/nguyu, atanapi ‘tetoya’ kangge ngising.
3. Asosiasi Hubungan Makna
Makna teng setunggale leksem kaliyan leksem kang sanese teng selebete kesadaran penganggene saged nimbulaken asosiasi hubungan kang sampun temtos, kados dene :
a. Kesejajaran sifat atanapi tetenger umum, misale antawis leksem ‘mbakta’ kaliyan ‘ngangkut’, antawis ‘nyukakaken’ kaliyan ‘masrahaken’, antawis ‘ningal’ kaliyan ‘nonton’.
b. Sebab – akibat, misale antawis leksem ‘dawah’ kaliyan ‘tangi’, ‘ningal’ kaliyan ‘sumerep’, ‘blajar’ kaliyan ‘mahami’, ‘usaha’ lan ‘asil’.
c. Hubungan kualitas, misale antawis leksem ‘toya’ kaliyan ‘seger’, ‘geni’ kaliyan ‘panas’, ‘es’ kaliyan ‘atis’.
d. Fakta lan gejala, misale antawis leksem ‘mesem’ kaliyan ‘seneng’, ‘nangis’ kaliyan ‘nelangsa’, ‘angob’ kaliyan ‘ngantuk’.
e. Asosiasi hubungan tinentangan, misale antawis leksem ‘males’ kaliyan ‘wekel’, ‘blesak’ kaliyan ‘esak’, ‘robih’ kaliyan ‘angger’.
f. Asosiasi hubungan kohiponim, misale antawis leksem ‘tetuwuhan , sato kewan, janma’, kaliyan ‘makluk gesang’.
K. Tingkat Keleresan Informasi Semantik
Minangka setunggale struktur formal, basa gadah kewinatesan selebete makili kasunyatan (realitas). Mangkane, ngubungaken basa kaliyan logika sejeb sengiyen tansah nimbulaken kontroversi. Pibentenan pendapat punika dumados keranten basa secara wutuh pancen mboten sanggem makili realitas tur ngandung tetenger illogical.
Kajian logika basa satuhune mboten tinolak saking basa kang dipigunakaken teng pianggean sedinten-dinten. Upami lambang lan relasi lambang saluyu kaliyan kewontenan selebete pianggean, salah setunggale dados kajian linguistik deskriptif, maka lambang selebete hubungane kaliyan lambang piyambek dados kajian logika.
Kewontenan semantik minangka teori referensi lan teiri makna ugi ketingal teng kewontenan semantik kang seliyane gadah hubungan kaliyan unsur sintaktik ugi gadah hubungan kaliyan unsur-unsur pragmatik. Pramila punika, makna kaliyan keleresan teng tataran sintaktik akhire kedah dihubungaken kaliyan realitas kegesangan, basa selebete komunikasi padinan, ugi komunikasi antarjanma. Teng tataran punika, keleresan makna ugi kedah dikaitaken kaliyan kasunyatan (realitas) lan kasunyatan kondisionalitas. Mangkane, abstraksi proposisi ugi diadepaken kaliyan kalih kemumkinan, nggih niku leres atanapi sawon.
Yadiastun inggil keleresan proposisi selebete abstraksi lan ekspresi, keleresan maksih keancam dening ketaksaan wangun kebasaan. Ketaksaan wangun kebasaan punika seliyane dumados pamrah wontene
(1) polivalensi selebete polisemi lan homonimi,
(2) tetenger genetik leksem-leksem kang gadah fitur semantik kang benten,
(3) kembotenjelasan wates leksem kang gadah makna umum kaliyan leksem kang gadah makna khusus, (4) wangun metaforis,
(5) pemaknaan wangun silihan kang maksih samur,
(6) kolokasi lan sinonimi selebete kajian logika basa,
(7) ekuivokasi,
(8) amfiboli,
(9) aksentuasi,
(10) komposisi, lan
(11) devisi.
Ekuivokasi nggih niku ketaksaan makna setunggale wangu kebasaan kang senajan sampun wonten teng selebete konteks, angger nuansakaken kemumkinan-kemumkinan makna. Misale (1) Akhir setunggale hal saged nuju teng kesempurnaan, (2) kematian nggih niku akhir saking kegesangan, (3) maka kematian punika akhir kesempurnaan saking kegesangan.
Amfiboli ngih niku ketaksaan makna pamrah kembotenjelasan hubungan setunggal term selebete struktur ukara. Misale ukara Adie mahasiswa kang ayu iku tabet demenanisun. Leksem ayu selebete ukara punika rujukane mboten jelas, nuduhaken teng adi atanapi teng mahasiswa?
Aksentuasi puniku pawewehan tekanan setunggal leksem teng selebete ijenan paparan kang mboten pas ngantos ngaburaken makna kang kedahe direpresentasiaken. Paparan kang ungele Pembina masyarakat ora duwe pendidikan iku kudu umusaha ningkataken pangaweruh, lan seliyane duwe mupangat sajrone ningkataken kahuripan masyarakat dewek uga duwe mupangat kanggo masyarakat sejene. Seumpami pembina lan masyarakat mboten disukani aksentuasi secara pertela ngantos sanggem mbentenaken term (a) pembina, (b) masyarakat, lan (c) pembina masyarakat kang dituduhaken penjelas selajenge, informasi kados punika saged mblasaraken makna kang dityampi dening reseptor.
Komposisi gadah kaitan kaliyan kembotenjelasan setunggale pernyataan kang akhire saged nyebabaken kekaburan makna selebete pernyataan selajenge. Misale Pangaweruh iku seliyane duwe mupangat kanggo masyarakat dewek, uga duwe mupangat kanggo masyarakat sejene. Pamrah kekaburan makna kang dumados teng makna sederenge, maka pesen atanapi amanat kang wonten teng ukara punika dados mboten jelas.
Devisi punika kesawonan kang gadah hubungan kang raket kaliyan kang dumados teng komposisi. Misale
(a) samubarang kang mboten ketingal punika atom,
(b) Tuhan punika mboten ketingal,
(c) dados, Tuhan punika atom.
Saking sedantene tetelan teng inggil punika saged disimpulaken nyaniya tingkat keleresan informasi semantik gadah tingkatan
(1) tingkatan keleresan semantik ditemtosaken dening tepat atanapi mbotene proposisi kang diabstraksiaken,
(2) tingkat keleresan informasi semantik ditemtosaken dening tepat atanapi mbotene penghubunga antawis proposisi kang kawadahan selebete basa kaliyan dunia jawi kang dirujuk,
(3) tingkat keleresan informasi semantik ditemtoskaken dening pemilihan tembung, penataan relasi tembung, atanapi penentosan ciri hubungan saking relasi antarukara.
Semantik asale saking basa Yunani ‘sema’ kang artose lambang atanapi tanda. Semantik ngandung makna to signify atanapi kang maknai. Tembung kriyae ‘semaino’ kang artose nglambangaken atanapi nandai. Minangka istilah teknis, semantik ngandung pengertosan ‘studi ngenai makna’. Semantik ngrupiaken istilah kang diangge kangge bidang ilmu linguistik kang mlajari hubungan antawis tanda-tanda linguistik kalian hal-hal kang ditandai. Kados dene ungel lan tata basa, komponen makna selebete hal punika ugi gadah kelungguhan tingkatan kang tinemtos.
Upami komponen ungel umume gadah kelungguhan tingkat kaping setunggal, lan tata basa nglenggahi tingkatan kaping kalih, maka komponen makna gadah tingkatan kaping tiga. Hubungan ketigang komponen punika ningal saking kasunyatan nyaniya (1) basa kang kawitane ngrupiaken ungel-ungel abstrak kang ngrujuk teng lambang-lambang kang sampun temtos, (2) lambang-lambang ngrupiaken piranti sistem kang gadah tatanan lan hubungan kang tinemtos, lan (3) piranti lambang kang gadah wangun lan hubungan punika ngasosiasiaken wontene makna kang sampun temtos (Palmer selebete Aminudin, 2001 : 15). Anadene cakupan semantik nggih niku cumi makna atanapi artos kang wonten hubungane kaliyan basa minangka alat komunikasi verbal.
Teng kajian semantik, istilah tembung digentos kaliyan istilah leksem. Senajan serlerese antawis tembung kaliyan leksem punika sami kangge istilah kang biasa dipigunakaken kangge tanda-tanda linguistik, nanging saluyu kaliyan kaidah basa kang nyatakaken upami wangun tembung atanapi leksem punika benten, maka makna kang digadahi dening tembung atanapi leksem punika ugi robih. Anadene kang samie punika informasi kang wonten teng tembung atanapi leksem kang kasebat.
Istilah leksem biasa didefinisiaken minangka tembung atanapi frasa kang arupi ijenan (satuan) kang gadah makna (Kridalaksana, 1982 : 98), sedeng tembung lumrah didefinisiaken minangka ijenan (satuan) basa kang saged mangadeg mandiri teng tuturan sedinten-dinten lan saged winangun saking setunggal morfem atanapi gabungan morfem (Kridalaksana, 1982 : 76). Bentene, leksem punika istilah kang diangge teng selebete bidang semantik sedeng tembung dipigunakaken teng selebete bidang gramatika.
Makna minangka objek linguistik strukture dahat mboten pertela. Aliran semantik struktural kang nganut paham behaviorisme malah gadah pandengan nyaniya semantik punika sanes ngrupiaken bagian sentral basa nanging ngrupiaken bagian periferal basa.
Semantik gadah hubungan kang raket kaliyan ilmu sosial kados dene sosiologi, antropologi, lan filsafat. Sosiologi gadah kepentingan kang ageng sanget kaliyan semantik keranten teng kasunyatan asring dipanggihi nyaniya tembung-tembung kang sampun temtos kangge ngucapaken makna punika saged nandai identitas kelompok masyarakat.
Tembung ‘iwak’ teng basa Cerbon sejajar kaliyan tembung ‘ikan’ teng basa Indonesia. Nanging makna ‘iwak’ teng baca Cerbon pinika sanes kemawon ngrujuk teng ‘kewan toya kang wonten sisike’ nanging ngacu teng sedanten lelawuan. Asring kepireng setunggale tiyang kang ngucap ‘Mangane karo iwak ayam’. Sedanten punika saged dumados keranten seliyane asil budaya, basa punika sekaligus ngrupiaken wadah kangge maturaken budaya masyarakat piyambek.
B. Jinis-jinis Semantik
Antawis setunggal ahli linguistik atanapi linguist kaliyan ahli linguistik kang sanes punika asring wonten pibentenan anggene mbentenaken atanapi mbagi-bagi semantik. Hal punika dumados keranten pancen semantik punika ngrupiaken setunggale cabang ilmu basa kang tetalenan kaliyan unsur basa sanese.
Dumasar saking tataran atanapi bagian basa kang dados objeke, semantik saged dibentenaken dados :
a. Semantik leksikal : semantik kang ndadosaken makna leksikal minangka objek penyelidikane.
b. Semantik gramatikal : semantik kang ndadosaken makna gramatikal minangka objek penyelidikan teg tataaran morfologi.
c. Semantik sintaktikal : semantik kang tinalenan kaliyan sintaksis teng lingkungan tatabasa.
Secara wiyar, semantik saged dibagi dados tigang kelompok bahasan, nggih niku :
a. Sintaksis : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan-hubungan formal antawis tanda-tanda kang setunggal kaliyan tanda-tanda kang sanese.
b. Semantik : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan tanda-tanda linguistik kaliyan objek-objek kang ngrupiaken wadah penerapan tanda-tanda kang dimaksad.
c. Pragmatik : ilmu basa kang nelaah atanapi mlajari hubungan tanda-tanda linguistik kaliyan para penutur atanapi interpretator. Ilmu basa kang tugase mlajari cakupan tigang ilmu basa teng inggil punika disebate semiotika (Searle, 1980).
Rudolf Carnapp mbagi semantik dados kalih, nggih niku :
a. Semantik deskriptif nggih niku semantik kang nglampahaken penelitian empiris dumateng basa-basa ilmiah.
b. Semantik murni nggih niku semantik kang nelaah analisis dumateng basa-basa damelan (artificial language).
C. Mupangat Semantik
Semantik gadah mupangat teng kegesangan sedinten-dinten, diantawise :
a. kangge jurnalis (wartawan), pangaweruh tentang semantik ndadosaken kinerja dados langkung gampil selebete milih lan migunakaken tembung kang gadah makna kang cocog atanapi pas selebete maturaken informasi dumateng masyarakat.
b. kangge peneliti basa, pangaweruh semantik punika saged nyukani bekal linguistik teoritis kangge nganalisis basa kang siweg diteliti.
c. kangge guru, pangaweruh semantik gadah mupangat teoritis praktis. Mupangat teoritis keranten semantik saged mbantos guru teng selebete mahami kebasaan kang diwucalken, anadene mupangat praktise nggih niku keranten guru angsal kegampilan kangge piyambeke selebete ngajaraken basa.
d. kangge tiyang awam, pangaweruh semantik diperlokaken kangge mahami lingkungan sakubenge kang supenuh kaliyan informasi.
D. Semantik kaliyan Disiplin Ilmu Sanes
Basa hakikate ngrupiaken setunggal hal kang digadahi dening janma. Ernst Cassirer teng hal punika nyebataken upami janma punika minangka animal symbolicum, nggih niku makhluk kang migunakaken media simbol kebasaan selebete nyukani artos atanapi makna selebete ngisi kegesangan. Kewontenan janma minangka animal symbolicum punika dianggep langkung gadah makna tinimbang kewontenan janma minangka makhluk kang mikir keranten datan wontene simbol, janma mboten sanggem nglampahkaken kegiatan mikire.
Wonten gangsal disiplin ilmu kang gadah hubungan kang raket kaliyan semantik, nggih niku filsafat, psikologi, antropologi, sastra, lan linguistik.
1. Hubungan Semantik kaliyan Filsafat
Filsafat minangka studi ngenai kearifan, pangaweruh, hakikat kasunyatan, atanapi prinsip gadah hubungan kang dalit kaliyan semantik. Hal punika dumados keranten dunia kasunyatan (fakta) kang dados objek perenungan (kontemplasi) ngrupiaken dunia simbolik kang kawakili dening basa. Aktivitas mikir piyambek mboten saged lumangsung tanpa basa minangka mediae.
Selajenge Bertrand Russel ngungkapaken nyaniya ketepatan nyusun simbol kebasaan secara logis ngrupiaken dasar anggene mahami adegan (struktur) realitas (kasunyatan) secara leres. Pramila punika, kompleksitas simbol ugi kedah gadah kesaluyuan kaliyan kompleksitas kasunyatan punika piyambek ngantos kekalihe gadah hubungan secara tepat lan leres (selebete Alston, 1964 : 2).
2. Hubungan Semantik kaliyan Psikologi
Hubungan kang semanten rakete antawis semantik kaliyan aspek kejiwaan janma, salah setunggale ditengeri kaliyan wontene disiplin ilmu kang ngaji linguistik saking segi psikologi, ilmu kang dimaksad nggih niku psikolinguistik. Selebete proses nyusun lan mahami weling liwat kode kebasaan, unsur-unsur kejiwaan kados kesadaran batin, pikiran, asosiasi, atanapi pengalaman mboten saged dipandeng sesisih mripat, keranten saged katingal kondisi kejiwaane setunggale tiyang saking basa kang dianggene.
John Locke ngungkapaken nyaniya pianggean tembung-tembung ugi saged diartosaken minangka penanda wangun gagasan kang tinemtos keranten basa ugi ngrupiaken instrumen pikiran kang ngrujuk teng suasana atanapi kasunyatan kang sampun temtos (selebete Alston, 1964 : 22)
3. Hubungan Semantik kaliyan Antropologi
Wates antawis sosiologi kaliyan antropologi asring samur. Hal punika dumados keranten kekalihe ngaji masalah janma lan masyarakat. Hubungan semantik kaliyan fenomena sosial kultural sampun sayogyane dumados. Diwuwus mekaten keranten aspek sosial lan kultural gadah peran kang ageng sanget selebete nemtosaken wangun, perkembangan, atanapi perobihan makna kebasaan.
Roger T. Bell mbentenaken kajian kekalih disiplin ilmu punika nyimpulaken nyaniya (1) pusat kajian antropologi nggih niku teng selebete kelompok masyarakat kang tinemtos, sedeng sosiologi teng masyarakat kang langkung wiyar, (2) antropologi punika ngaji pikembangan masyarakat kang relatif homogen kaliyan karakteristik-karakteristike, sedeng sosiologi ngaji proses pikembangan sosial-ekonomi masyarakat kang heterogen (1976 : 64).
4. Hubungan Semantik kaliyan Kesastraan
Basa teng selebete rumpaka sastra gadah kekhasan piyambek keranten basa selebete sastra ngrupiaken setunggal wangun idiosyncratic prenahing tebaran leksem kang dipigunakaken ngrupiaken asil pengolahan lan ekspresi individual penganggite. Diwuwus mekaten keranten selebete rumpaka sastra punika selerese wedalan ekspresi penganggit ningal wontene kacingcedan antawis kasunyatan kaliyan pengajengan.
Kedah diemut nyaniya sastra punika kebek kenging penggunaan leksem-leksem kang gadah makna konotatif ngantos penggunaan setunggale leksem selebete rumpaka sastra punika ngrupiaken leksem kang leres-leres diperlokaken lan pas kaliyan maksad lan prayojana penyeratan rumpaka sastra punika, kenging punapa setunggale penganggit migunakaken leksem kang dimaksad sanajan makna kang digadahi dening leksem punika sami kaliyan makna kang digadahi dening leksem sanese.
Kados basa kang dipigunakaken teng kegesangan sedinten-dinten, kode selebete sastra gadah kalih lapis, nggih niku lapis ungel atanapi lapis wangun kaliyan lapis makna. Lapis makna piyambek maksih saged dibentenaken dados (1) lapis makna literal kang secara kasirat direpresentasiaken wangun kebasaan kang dipigunakaken, (2) dunia rekaan penganggit, (3) dunia kang dipandeng saking titik pandeng kang tinemtos, lan (4) lapis dunia atanapi pesen kang sifate metafisis (Aminudin, 1983 : 63).
5. Hubungan Semantik kaliyan Linguistik
Selebete kajian linguistik kaum Stoik dipigunakaken istilah ‘signans’ minangka komponen kang paling alit saking tanda, lan signatum nggih niku makna kang dirujuk dening signans. Ferdinand de Saussure nepangaken istilah signifiant, nggih niku gambaran ungel abstrak selebete kesadaran lan signifie nggih niku gamabaran dunia jawi selebete abstraksi kesadaran kang dirujuk dening signifiant.
Saking paparan teng inggil punika, saged disimpulaken nyaniya makna nggih niku unsur kang mileti aspek ungel, tebih sederenge wontene kegiatan komunikasi. Minangka unsur kang nempel teng ungel, makna makna ugi tansah ngampili sistem relasi lan kombinasi ungel selebete ijenan (satuan) adegan kang langkung ageng kados dene kang winijud teng kegiatan komunikasi. Paramila punika saged dimaklumi upami sanajan makna lan lambang tur aspek semantik lan tata basa ngrupiaken unsur-unsur kang mboten saged dipisahaken, nanging selebete nemtosaken hubungan semantik lan linguistik maksih wonten pibentenan-pibentenan.
E. Semantik teng Studi Linguistik Basa Cerbon
Studi (penelitian) kang serius ngenai basa Cerbon dereng katah dilampahaken, boh kang dilampahaken dening sarjana asing atanapi sarjana basa saking Indonesia piyambek. Sedanten segi kebasaan kang wonten teng selebete basa Cerbon dereng katah dilampahaken tiyang. Sanajana wonten ugi dereng wonten kang tuntas, kelebet masalah semantik. Kaula sami seyogyane garjita keranten basa Cerbon modern kang cikal bakale saking basa Cerbon kuna sampun saged dianggep minangka lingua franca kang saged mangadeg mandiri.
Pemicarengan khusus ngenai semantik basa Cerbon salami punika dereng ngalami dimajengaken, boh teng seminar, gelar basa, atanapi acara-acara sanese kang sumejah diwontenaken kangge mbahas masalah punika. Anadene selebete penyeratan buku-buku kados buku babon atanapi buku pelajaran teng lembaga pendidikan kang sampun wonten punika cumi sifate umum lan teoritis.
F. Makna lan Masalahe
Sampun disebataken teng bab kang rumiyin nyaniya objek linguistik punika makna atanapi langkung pas makna kang wonten teng ijenan-ijenan pangandikan kados frasa, klausa, lan ukara. Upami penutur kaliyan penanggap tutur dereng sumerep makna setunggale leksem, frasa, klausa, lan ukara, maka penanggep tutur pesti kengelan nafsiraken makna atanapi maksad selebete tuturan kang diparengaken dening penutur keranten kangge mahami makna setunggal leksem kemawon penanggap tutur kedah mbika-mbika kamus.
Kangge mertelakaken perbentenan konsep makna, informasi, lan maksad, teng andap puniki diwicarakaken setunggal-setunggal kang dipendet dumasar teori Verhaar (1978).
1. Pengertosan makna minangka Istilah
Makna nggih niku hubungan antawis basa kaliyan kasunyatan kang sampun dados kesepakatan atanapi persetujuan (konvensional) para tiyang kang migunakaken basa ngantos punapa kang diucapaken punika saged dimengertos dening tiyang sanes kang diajak komunikasi.
Wonten tigang unsur pokok kang wonten teng selebete makna, nggih niku (1) makna ngrupiaken asil hubungan antawis basa kaliyan kasunyatan, (2) hubungan punika saged dumados keranten kesepakatan antarpengangge basa, lan (3) perwujudan makna punika saged dipigunakaken kangge nyampekaken informasi ngantos tiyang kang mirengaken atanapi maos punika ngertos teng maksad lan tujuane punapa ingkang sinerat atanapi kang inucap punika.
a. Informasi
Teng bangian kang teng inggil punika sampun dijelasaken nyaniya makna niku ngrupiaken unsur saking setunggale leksem atanapi langkung pas minangka gejala selebete ujaran (utterance internal phenomenon) atanapi gejala luar basa. Mampane, wonten prinsip umum semantik kang nyatakaken upami wangune benten maka makna kang dikandung dening leksem punika pasti robih, senajan pibentenane punika cumi sekedik. Dados, laksem ‘rama’ kaliyan ‘bapak’ punika keranten wangune benten maka makna kang dikandunge ugi benten. Hal punika saged dibuktosaken teng deret ukara teng andap puniki.
Bapa kula siweg sakit.
Rama kula siweg sakit.
Namung teng ukara ‘Bapak Presiden ingkang kaula hormati’, frasa Bapak Presiden mboten saged digentos kaliyan frasa Rama Presiden dados ‘Rama presiden ingkang kaula hormati’. Teng hal punika dumados kesalahkaprahan selebete pianggean pengertosan makna kaliyan informasi. Kang sami antawis ‘bapak’ kaliyan ‘rama’ punika informasie, nggih niku ngrujuk teng ‘tiyang sepuh jaler’ nanging maknae tetep kemawon benten. Dados, kang sami puniku informasie keranten informasi punika ngrupiaken gejala jawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran.
b. Maksad
Maksad kaliyan informasi punika sami-sami gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran. Bentene, upami informasi punika gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran ditingal saking objek atanapi hal kang didadosaken omongan atanapi topik tuturan, sedeng maksad ngrupiaken gejala sejawine ujaran (utterance external phenomenon) atanapi gejala luar ujaran ditingal saking subjek atanapi tiyang kang mitutur.
Misale :
Sesampune mrios rapor putrane, lan ningal hasil blajare punika katah angka abrite, setungggale tiyang sepuh angucap :
“Aduh, bagus temen rapore sira kuh, Cung!”.
Jelas, ucapan punika maksade sanes nggunggung sanajan nadae punika ngalem. Kaliyan ukara punika, tiyang sepuh punika selerese gadah maksad negur atanapi nyindir, malah mumkin ngece putrane.
c. Tanda, Lambang, Kode, Konsep, lan Definisi
Teng semantik, antawis tanda, lambang, kode, konsep, lan definisi punika dibentenaken keranten pancen benten informasi kang digadahie, secara struktur atanapi maknae ugi benten. Mangkane kegangsal sistem tanda, lambang, kode, konsep lan definisi punika kedah ngatos-atos nerjemahakene.
1) Tanda
Kalih istilah kang asring diorak-arik pianggeane nggih niku tanda kaliyan lambang atanapi simbol. Malah, kita asring muwusaken simbol padahal maksad kang selerese punika tanda, lan kita asring muwusaken tanda padahal selerese punika simbol.
Unggal tanda gadah korespondensi kaliyan kaliyan setunggal hal kang dados objeke, nggih niku barang, kewontenan, atanapi kedadosan kang dituduhaken. Tanda ngrupiaken setunggale punapa kang dipigunakaken dening tiyang kangge nyumerepi setunggale kedadosan atanapi peristiwa secara langsung. Misale, kepireng swantene adzan saking mesigit tanda waktos sholat sampun dumugi atanapi nalika jalan-jalan, teng margi ningal pecahan kaca pating blarat, secara langsung kita saged nebak yen nembeke mawon wonten tabrakan keranten kaca pating blarat teng margi punika satunggale tanda wontene tabrakan’. Artose antawis tanda kaliyan kang ditandai punika sifate langsung.
Dados, saking keterangan teng inggil punika saged dibentenaken nyaniya pibentenan pokok antawis tanda kaliyan lambang punika nggih niku pibentenan asosiasi lan minangka konsekuensie pibentenan selebete pianggeane dening pihak ketiga dumateng fungsi artose, nggih niku subjek atanapi jejer. Tanda nyukani sumerep objeke dumateng subjek, sedeng lambang ngantukaken subjek kangge nyumerepi objeke.
2) Lambang
Lambang ugi selerese ngrupiaken tanda, nanging bentene ari lambang mboten nyukani tanda secara langsung, nanging lewat setunggale hal kang sanese. Misale warni abrit kang wonten teng bendera merah putih nglambangaken raos kewantunan, lan petak nglambangaken kesucian.
3) Kode
Kode sumejah didamel dening setunggal tiyang atanapi kelompok kaliyan makna kang sampun dikonvensionalaken sami-sami. Kode punika ngrupiaken sistem tanda kang maknae sampun disepakati kangge maksad-maksad kang sampun temtos. Misale kode semaphore.
4) Konsep
Konsep minangka setunggale referensi saking lambang pancen mboten saged sempurna. Mangkaning umpami kula nyebat ‘korsi’ atanapi ‘pemuda’ atanapi lambang punapa mawon, tiyang asring tangled ‘Punapa kang panjenengan maksad kaliyan korsi puniku?”.
5) Definisi
Definisi atanapi batasan kang langkung rinci lan langkung teliti tentang setunggale konsep sanajan masalah definisi punika maksih katah kelemahan lan kekirangane. Definisi ngrupiaken rumusan setunggale pengertosan. Tujuan definisi nggih niku kangge nerangaken atanapi damel pertela saking setunggale pengertosan kang didefinisiaken.
d. Acuan lan Konseptualisasi
Hubungan antwis rujukan, lambang, lan konseptualisasi digambaraken dening Ogden lan Richard minangka segitiga kang dikenal kaliyan sebatan Segitiga Ogden & Richard kados teng andap puniki.
thought or reference (setunggale perabot rumah tangga kang
wonten lendeane, lan diangge kangge ndodok)
symbol (k/o/r/s/i) referent
(wujud korsi)
Saking segitiga Ogden & Richard teng inggil punika saged disumerepi nyaniya pikiran minangka unsur kang ngewontenaken signifikasi ngantos nimbulaken makna kang sampun temtos gadah hubungan secara langsung kaliyan referent atanapi acuan. Gagasan ugi gadah hubungan secara langsung kaliyan simbul. Sedeng antawis simbul kaliyan referen punika hubungane mboten langsung keranten mboten saged dimaknai kenging punapa konsep ‘setunggale perabot rumah tangga kang wonten lendeane, lan diangge kangge ndodok’ punika diwastani korsi. Mekaten sebabe hubungan simbul kaliyan referens punika ditandai kaliyan gambar garis kang tugel-tugel.
e. Kaidah-Kaidah Umum
Saking pemicarengan teng inggil punika lan kangge langkung gampil ngampili pemicarengan selajenge teng andap puniki wonten kaidah-kaidah umum kang peryogi diperhatosaken ngenai studi semantik.
1) Hubungan antawis setunggal leksem kaliyan rujukan punika sipate arbitrer, maksade hubungan punika sanes ngrupiaken hubungan wajib antawis kekalihe.
2) Secara sinkronik makna setunggale leksem mboten rinobih, nanging secara sinkronik mumkin saged rinobih.
3) Wangun setunggale leksem kang benten ugi benten makna kang digadahi, maksade upami wonten kalih leksem kang wangune benten, sanajan sekedik makna kang digadahi pasti benten.
4) Unggal basa gadah sistem semiotik piyambek kang benten kaliyan sistem semiotik basa kang sanese keranten sistem semantik punika tinalenan kaliyan sistem budaya masyarakat, sedeng sistem kang nglatarpengkeri basa punika mboten sami.
5) Makna setungal leksem teng selebete setunggal basa dahat dipengaruhi dening pandengan gesang lan sikap anggota masyarakat kang sinangkutan.
6) Wiyare makna kang digadahi setunggale wangun gramatikal bebanding kewalik kaliyan wiyare wangun kang kasebat.
Misale :
a) sepur
b) sepur ekspres
c) sepur ekspres dalu
d) sepur ekspres dalu jawi anggong
Makna sepur dahat wiyar, langkung wiyar tinimbang sepur ekspres, makna sepur ekspres langkung wiyar tinimbang sepur ekspres dalu, sedeng makna sepur ekspres dalu langkung wiyar tinimbang sepur ekspres dalu jawi anggong.
2. Jinis-Jinis Makna
Jinis-jinis makna kang wonten teng selebete semantik saged digolongaken dumasar jenis semantik, referensi, wirasane, ketepatan maknae, hubungane kaliyan tembung kang sanes, lan gaya basa atanapi ijenan (satuan) basa kang diangge.
a. Dumasar teng jinis semantike, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna leksikal :
Makna kang gadah sifat leksikon, artose makna kang saluyu sareng referensi (hal kang diacu), saluyu kaliyan asil observasai alat indra, makna setemene nyata kang wonten teng kegesangan kaula sami. Misale : tikus nggih niku srunggale kewan pengeret kang nyebaraken penyakit pes.
2) Makna gramatikal :
makna kang dumadose keranten proses gramatikal, kados dene proses kompositumisasi, reduplikasi, lan afiksasi. Makna punika gumantung teng konteks ukara, konteks suasana. Misale : tembung kembang teng ukara ‘Nissa kembang desa kang siweg megar.’ gadah makna kang benten kaliyan ‘Nissa siweg nyiram kembang.’.
b. Dumasar teng referensie (hal kang dirujuk), makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna referensial :
Makna kang wonten teng setunggale basa kang saged dirujuk dening setunggale barang. Cekake, makna referensial nggih niku makna kang gadah referensi lan umume saged ditampi kaliyan alat indra. Misale ‘mega’, hal kang diacu nggih niku ‘setunggale benda kang wonten teng gegana wiyati kang warnie petak, bakal tumurune jawoh’.
2) Makna non-referensial :
Makna kang wonten teng jawie basa kang dirujuk dening tembung kang mboten gadah referensi nanging gadah tugas lan fungsi piyambek. Umpamae tembung tugas.
c. Dumasar teng wirasane, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna denotatif :
asring disebat makna denotasi, makna konseptual, atanapi makna kognitif. Makna denotatif selerese dasare sami kaliyan makna referensial keranten saged dijelasaken kaliyan makna kang saluyu kaliyan asil observasi alat indra. Misale : wadon kaliyan istri puniku denotasie sami nggih niku ‘sanes jaler atanapi kang bakale nglairaken’.
2) Makna konotatif :
makna kang nimbulaken wirasa (nilai rasa). Misale wirasa kang ditimbulaken dening leksem mati, pejah, ninggal, seda, palastra, gugur, modar, lan tutup yuswa punika benten makna lan pianggeane. Makna konotatf punika katah ragam atanapi warnie. Anadene makna ragam makna konotatif punika langkung dominan hubungane kaliyan raos basa. Ragam makna konotatif saged dibentenaken dados :
a) konotasi inggil, konotasi punika nuduhaken efek prestise (intelek, kapelajar, ilmiah, gengsi), misale teng selebete ukara ‘Sejarah sampun nyukani buktos nyaniya setunggale pengolaborasian kultur antaretnis kang dipaksaaken punika saged nimbulaken error concept kang mbahayakaken teng tataran nations state, hal punika kedah sigra difollow up-i”.
b) konotasi ramah, ngrupiaken pianggean leksem atanapi varian basa kang ngorientasikaken teng aspek keakraban, santun, lan familier. Misale, “Alah… alah…, iku wong Jakarta, masih kelingan tah kita bengen guyang sambir goler ning empang bareng?”.
c) Konotasi bahayakaken, konotasi puniki raket petaliane kaliyan faktor kepercantenan setunggale kelompok masyarakat keranten penggunaan leksem kang dipamalikaken. Umpamane, “Alas iki ngrupakaken alas larangan, ning kene akeh kang nunggue (roh alus), ana nini-nini (maksade macan) lan ketimange Raja Suleman (maksade sawer kang ageng)”.
d) Konotasi mboten pantes, konotasi puniki ngrupiaken pianggeyan leksem-leksem kang mboten pantes diucapaken teng selebete situasi kang sampun temtos. Misale, tiyang nem atanapi tiyang kang gadah pangkat langkung andap tenimbang kang diajak micareng, mboten pantes yen ngucap :
“Hey, Pak!, Arep mendi kih? Timbang nganggur, luru cewek mall, yuk!.
e) Konotasi mboten sekeca, pianggean leksem puniki saged nimbulaken peraosan kang mboten sekeca dumateng pemirenge. Misale, “Ari wong kampung kuh pancen angel dijak ngomong ilmiah senajan wis lawas merad ning Jakarta, dasare wong udik ya angger bae kampungan”.
f) Konotasi kasar, ngrupiaken penganggean leksem kang lumrahe diangge dening tiyang kang siweg nyewot. Misale, “Bangsat! Dasar ketek budug, liwat ning arepe wong tuwa aja bara ngomong punten, malah ngentut. Babi kuh!.
g) Konotasi akas, ngrupiaken penganggean leksem hiperbolis kang nuduhaken pengiatan setunggale hal kang diomongaken. Misale, “Sawah lan kebone baris sing awit pugas wetan tumekeng pugas kulon. Mas, inten, raja branae pepetian lan parie pirang-pirang lumbung”.
h) Konotasi wangenan sekolahan, ngrupiaken pianggean leksem kang nimbulaken kesan resmi, kaku, lan redundansi. Misale, “Mengko isun teka ning umahe sampeyan jam nem belas (maksade jam sekawan sonten)”.
i) Konotasi kelare-larean, ngrupiaken penganggean leksem kelawan niru kemampuan micarenge lare alit atanapi kang biasa diucapaken dening lare alit atanapi balita. Misale, “Mah…, Ade pengen nenen” ujare bapa sing jero kamer.
d. Dumasar teng ketepatan maknae, makna saged digolongaken dados kalih golongan, nggih niku :
1) Makna tembung : secara sinkronis gadah sifat angger, nanging keranten setunggale hal kang wonten teng kegesangan, makna punika saged dumados makna kang sifate umum kang nembe gadah artos kang jelas sesampune tembung punika wonten teng selebete ukara. Misale : tawanan = tiyang kang ditawan atanapi barang kang asale saking panggawe atanapi tindakan nawan.
2) Makna istilah : makna kang gadah sifat angger (tetap) lan pasti kang dipigunakaken teng setunggale bidang kegiatan atanapi keilmuan kang sampun temtos. Misale bentene istilah ‘lengen’ kaliyan ‘tangan’ teng istilah kedokteran.
e. Dumasar teng hubungane kaliyan tembung kang sanes, secara umum makna kaperang dados kalih golongan, nggih niku makna konseptual lan makna asosiatif :
1) Makna konseptual : makna kang saluyu kaliyan konsep, makna kang saluyu kaliyan referensie, lan ucul saking asosiasi atanapi hubungan punapa mawon. Makna puniki sami kaliyan makna referensial, makna leksikal, lan makna denotatif.
2) Makna asosiatif : makna kang tinalenan kaliyan kewontenan sejawining basa. Misale ‘melati’ gadah asosiasi kaliyan kesucian, ‘abrit’ gadah asosiasi kaliyan kewantunan, lan sapanunggalane. Kang kelebet teng jenis makna puniki nggih niku :
a) Makna konotatif atanapi makna kamus, nggih niku makna kang wonten selebete kamus
b) Makna stilistika atanapi gaya pemilihan tembung keranten bentene status social lan bidang kegiatan sanese kang wonten teng kegesangan masyarakat. Misale : gubug, umah, gedong, wisma, hotel, istana, lan sapanunggalane,
c) Makna afektif nggih niku makna kang tinalenan kaliyan peraosan pengguna basa piyambek, mbuh kaliyan tiyang kang diajak ngobrol atanapi kaliyan objek tuturan,
d) Makna refleksi, lan
e) Makna kolokatif nggih niku makna tembung sanes kang gadah tempat kang sami teng setunggale frasa. Misale ‘gadis punika ayu’, ‘jejaka punika kasep’. Mboten saged ‘gadis punika kasep’ atanapi ‘jejaka punika ayu’.
f. Dumasar teng gaya basa atanapi ijenan (satuan) basa kang diangge, makna saged digolongaken dados kalih macem, nggih niku :
1) Makna idiomatikal: makna satuan basa kang nyimpang saking makna leksikal atanapi makna gramatikal unsur-unsur pangwangune. Misale : koran kuning, adol cangkem, adol swanten, lan sapanunggalane.
2) Makna pribasa : makna satuan basa kang sampun temtos kang maksih saged diramalaken keranten wontene asosiasi atanapi kaitan kaliyan antawis makna leksikal kaliyan makna gramatikal unsur-unsur pangwangune kaliyan makna kang sanes. Umpamane, Ngajeng-ajeng tigane Si Blorok, Endas gundul dikubuti, Ana gula ana semut lan sapanunggalane.
3) Makna pocapa : disebat ugi makna kias, nggih niku sedanten wangun basa (tembung, frasa, atanapi klausa) kang mboten ngrujuk teng artos kang selerese (makna kamus) kang ngrupiaken oposisi saking artos kang selerese. Misale : kembang desa, abang-abang lambe, aki-aki pitung mulud, lan sapanunggalane.
Sementawis punika ahli basa kang sanese nggih niku Heatherington (1980 : 135) mbagi makna dados kalih, nggih niku makna referensial kaliyan makna presedensial.
a) Makna referensial : makna referensial puniki setunggal leksem kang ngrujuk dumateng setunggale objek kang wonten teng alam eksternal.
b) Makna presedensial : teng hal puniki asosiasi-asosiasi kolektif mumkinaken penutur omong-omongan kaliyan penutur kang sanese sedawaneng waktos.
G. Penamian, Pengistilahan, lan Pendefinisian
Aristoteles (384 – 322 SM) njelasaken yen penamian punika ngrupiaken masalah konvensional atanapi perjanjian diantawis sesami setunggale masyarakat pengangge basa. Senajan mekaten, secara kontemporer maksih saged diilari sebab-sebab atanapi peristiwa-peristiwa kang nglatarpengkeri kedadosan penamian atanapi penyebatan dumateng sejumlah leksem kang wonten teng selebete leksikon basa punika.
1. Penamian
Penamian saged digolongaken dados golongan onomatopeia atanapi tetiron ungel, penyebatan sebagian, penyebatan sifat khas, penyebatan kang manggihi, penyebatan kang damel, penyebatan tempat asal, penyebatan bahan, penyebatan keserupian, penyebatan pencekakan, lan penyebatan enggal.
a. Anomatopeia atanapi tetiron unen-unen
Anomatopeia punika ngrupiaken penamian dumasaraken swanten kang digadahi dening setunggale barang atanapi makhluk.
Misale :
anggonge diwastani cecek keranten swantene, cek…., cek…., cek….,
anggonge diwastani tekek keranten swantene, tek…., tek…., tek…., tekek…, tekek…,
anggonge diwastani gugug keranten swantene, gug…., gug…., gug….,
anggonge diwastani sempritan keranten swantene, priiit…., priiit…., priiit….,
b. Penyebatan sebagian
Penyebatan sebagian punika ngrupiaken penamian dumasaraken setunggale bagian kang digadahi dening barang atanapi makhluk.
Misale :
Nggal endas olih sewu perak.
Wong tuwa kari setugel bli bisa diarepaken.
c. Penyebatan sifat kas
Penyebatan sifat khas punika ngrupiaken penamian dumasaraken sifat khas kang digadahi dening setunggale barang atanapi makhluk.
Misale :
Si Ceret kangge nyebat lare kang mboten saged ageng.
Si Botak kangge nyebat tiyang kang sirahe mboten wonten remane.
Golongan Putih kangge kelompok kang mboten purun milih.
Ekstrem kiri kangge nyebataken kelompok kang kontra kaliyan pemerintah.
d. Penyebatan keserupian
Penyebatan keserupian punika ngrupiaken penamian dumasaraken serupie barang kang setunggal kaliyan barang sanese kados kang dimaksad.
Misale :
sikil meja
raja dangdut
bintang lapangan
layar putih
raja wana
e. Penyebatan tempat asal
Penyebatan tempat asal punika ngrupiaken penamian dumasaraken tempat asale setunggale barang atanapi peristiwa punika dipanggihaken atanapi dumados.
Misale :
magnet dipanggihaken teng Magnesia
Perjanjian Linggarjati
dimejaijoaken
dinusakambangaken
f. Penyebatan bahan
Penyebatan anomatopeia punika ngrupiaken penamian dumasaraken bahan kang kang dipigunakaken kangge damel setunggale barang.
Misale :
goni karung kang didamel saking serat goni
kaca kaca mata, kaca mobil
kaleng kaleng susu, kaleng krupuk, kaleng minyak
perak perak bakar, duit perakan
pring rajeg pring, pring cucukan
g. Penyebatan kang manggihi atanapi kang damel
Penyebatan kang manggihi punika ngrupiaken penamian dumasaraken namie tiyang kang manggihi atanapi kang nyiptakaken setunggale barang.
Misale :
kondom alat kontrasepsi dipanggihaken dening Dr. Condom
mujaer sejenis ulam kang dipanggihaken dening Pak Mujair saking Kediri
volt satuan kekiatan arus listrik dipanggihaken dening Alexander Volta
h. Penyebatan pencekakan
Penyebatan pencekakan punika ngrupiaken penamian dumasaraken abreviasi saking kalih tembung atanapi langkung.
Misale :
depdiknas -> Departemen Pendidikan Nasional
rudal -> peluru kendali
tilang -> bukti pelanggaran
radar -> radio anti detecting and ranging
i. Penyebatan enggal
Penyebatan enggal punika ngrupiaken penamian dumasaraken kosa tembung enggal kang tujuane kangge ngalusaken makna pedamelan, kedadosan, atanapi peristitiwa kang dimaksad.
Misale :
pemecatan -> pemutusan hubungan kerja
pembantu rumah tangga -> pramuwisma
buta huruf -> tuna aksara
budeg -> tuna rungu
harga naik -> penyesuaian harga
2. Pengistilahan
Benten kaliyan proses penamian atanapi penyebatan kang langkung katah lumangsunge secara arbitrer, pengistilahan langkung katah lumangsunge secara prosedural lan konvensional. Hal punika dumados keranten pengistilahan punika dilampahaken kangge manggihaken ketepatan atanapi kecermatan makna setunggale hal kegiatan atanapi keilmuan.
Teng ngrikilah bentene antawis istilah minangka asil pengistilahan kaliyan nami minangka asil penamian. Misale : leksem ‘telinga’ kaliyan ‘kuping’ teng istilah kedokteran nuduhaken referens kang benten. Upami ‘telinga’ punika ngrupiaken alat kangge mirengaken bagian lebet, sedeng ‘kuping’ ngrupiaken alat kangge mirengaken bagian jawi. Mekaten ugi leksem ‘lengen’ lan ‘tangan’. Upami ‘lengen’ puniku bagian anggota badan awit kelek tumekang pagelangan, sedeng leksem ‘tangan’ punika nuduhaken bagian pagelangan tumekang driji.
3. Pendefinisian
Pendefinisian punika setunggale usaha kang dilampahaken kelawan sumejah kangge ngungkapaken kaliyan leksem-leksem teng atase setunggal peristiwa, kedadosan, barang, proses, hal, aktivitas, lan sapanungalane. Secara garis ageng, definisi dipasing dados definisi nominal kaliyan definisi real. Definisi nominal nggih niku setunggale usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara mertelakaken artos saking setunggale istilah kemawon.
Misale :
Filsafat asale saking tembung ‘philo’ lan ‘sophia’. ‘phillo’ artose tresna lan ‘sophia’ artose kewicaksanaan. Dados, filosofi nggih niku tresna dumateng kewicaksanaan.
Kelemahan saking definisi punika nggih niku wontene kenyataan nyania mboten sedanten tembung atanapi istilah saged didefinisiaken kaliyan defionisi nominal puniki.
Misale :
Nagasari asale saking tembung ‘naga’ lan ‘sari’. ‘naga’ artose sawer lan ‘sari’ artose inti atanapi pati.
Padahal nagasari punika nami setunggale barang dahar.
Sedeng definisi real nggih niku setunggale usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nyaketi kesunyatan (realitas). Sareng mekaten, definisi punika saged nyukani pengertosan tinemtos kaliyan pertela lan kawates, ngantos kasimpang saking wontene sawon pengertosan.
Secara rinci, pendefinisian saged dibentenaken dados :
a. Definisi sinonimis :
definisi kang tingkat kejelasane paling andap atanapi paling asor. Nggih niku setunggale leksem didefinisiaken kaliyan leksem kang sanes kang dianggepe gadah informasi kang sami. Misale, ‘rama’ didefinisiaken kaliyan ‘mama’ atanapi ‘bapak’, ‘tirta’ didefinisiaken kaliyan ‘toya’.
b. Definisi peragaan :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken setunggale hal atanapi barang sambir ningalaken barang punika. Misale : ‘Iki lhi, kang diarani OHP’.
c. Definisi formal :
definisi kang tingkat kejelasane langkung sae tinimbang definisi sinonimis. Definisi formal langkung rumiyin nyebataken ciri-ciri umume, lajeng tetenger khusus kang mbentenaken. Misale, bis, ciri umume kendaraan umum ciri khususe saged ngemot tiyang ngantos pulonan. Sepur ciri umume kendaraan umum tetenger khususe saged ngemot tiyang ngantos atusan lan glindingane katah sanget saluyu kaliyan jumblah gerbonge.
d. Definisi wiyar :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken sekaligus nyukani contoh. Misale : ‘Mobil ngrupiaken salah setunggale srana transportasi kang dipigunakaken dening tiyang-tiyang kados dene bis, sedan, bemo, lan sapanunggalane’.
e. Definisi logis :
definisi puniki ngidentifikasi objek, ide, atanapi konsep kang dimaksad secara nyata bentene kaliyan objek kang sanes secara tegas. Misale : Toya nggih niku zat cair kang tumurune saking mendung minangka jawah kang ngliputi 2/3 bagian kang arupi unsur pokok kegesangan makluk, campuran hidrogen, oksigen, H20, mboten kraos, mboten mambet, mboten mawarni, mboten ngandung zat padet,mboten ngandung kuman-kuman coli, lan umeb teng suhu 100 drajat celcius’.
Definisi logis ugi ngrupiaken usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara mbentenakan genuse (kelase) lan ngewontenaken diferensiasi (pibentenan) saking setunggale istilah. Misale : ‘Mahasiswa nggih niku sekelompok tiyang kang angsal kesempatan blajar teng perguruan inggil’.
f. Definsi uraian :
nggih niku usaha kangge matesi pengertosan kaliyan cara nerangaken nganalisa bagian-bagian setungal per setunggal. Misale : ‘Negara nggih niku wewengkon kang jelas watese, gadah rayat kang manggon teng wewengkon punika, lan wonten pemerintahan kang merdika teng selebete wewengkon punika’.
g. Definisi ensiklopedi :
definisi punika langkung wiyar tenimbang definisi logis keranten definisi ensiklopedis nerangaken secara ajeg lan jelas, ugi cermat. Misale : Toya nggih niku senyawa hydrogen lan oksigen, wontene teng pundi-pundi mawon, lan saged awujud (a) gas kados dene uap toya, (b) cairan kados dene toya sedinten-dinten, (c) madet kados es lan salju.
h. Definisi operasional :
definisi puniki dipigunakaken kangge keprayogian kang sampun temtos lan winates dening setunggale topik tuturan. Misale : Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku :
1) Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku zat cair kang ngrupiaken kebutuhan tiyang sedinten-dinten.
2) Kang dimaksad toya teng tulisan puniki nggih niku toya kang asale saking tetuwuhan.
Sumber kang sanes nyebataken nyaniya macem-macem definisi nggih niku kados teng andap punikii.
a. Definisi nominal :
definisi kang gadah maksad mertelakaken artos istilah kemawon. Selebete wangun kang basajan, definisi nominal punika sami kaliyan definisi sinonim. Misale : Macan punika sami kaliyan harimau.
b. Definisi denotatif :
definisi kang nuduhaken contoh individual. Definisi punika asring dipigunakaken. Misale : warna nilka iku kaya kenen (sambir ningalaken warni punika).
c. Definisi konotatif :
definisi kang njelasaken cekap lengkap dumateng definiendum, keranten sampun nuduhaken tetenger pembenten saking genus kang caket (per genus et differentia). Damel definisi kaliyan cara puniki nggih niku cara kang kawalik.
d. Definisi operasional :
definisi kang nerangeken langkah-langkah kegiatan kang kang dipigunakaken lan dumados dateng definiendum (kang didefinisiaken). Misale : Damel definisi ‘renang gaya kupu-kupu’. Supados tiyang sanes jelas, maka kedah diterangaken langkah-langkah ngenai gerakan suku lan gerakan tangan saluyu kaliyan renang gaya kupu-kupu.
e. Definisi kausal
definisi kang njelasaken cara nyeriosaken asal-usul dumadose hal kang didefinisiaken. Misale : ‘Udan yaiku uap banyu kang mabur dados mega, terus ngembun lan tigel dadi udan’.
H. Relasi Makna
Unggal basa kalebet teng basa Cerbon, asring dipanggihi wonten hubungan makna atanapi relasi semantik antawis setunggal leksem atanapi ijenan basa kaliyan leksem atanapi ijenan basa kang sanese. Hubungan punika saged arupi kememperan atanapi kemiripan makna kados sinonim, kewalikan makna kados kontras, kegandaan makna kados polisemi lan ambiguitas, kecinakupan makna kados hiponimi, kelianan makna kados homonimi, ketalanjukan makna kados redundansi, lan sapanunggalane.
1. Sinonim
Secara semantik, Verhaar mertelakaken makna sinonim minangka ungkapan (tembung, frasa, ukara) kang maknae kirang langkung sami kaliyan ungkapan (tembung, frasa, ukara) kang sanes. Artose, kalih tembung, frase, atanapi ukara punika kesamiane mboten satus persen ajeg atanapi sami, kesamiane mboten mutlak keranten wonten prinsip semantik kang nyatakaken umpami wangenan tembunge benten, maka makna kang dikandung tembung punika ugi benten. Sanajan makna tembung punika meh sami, nanging pianggean tembung teng konteks ukara punika mboten secara ujug-ujug saged disubstitusikaken.
Sinonim simetris atanapi sinonim mutlak disebat ugi sinonim absolut mboten wonten teng selebete basa Cerbon. Hal punika saged dumados keranten :
(a) teng prinsipe upami wangene benten maka artose benten,
(b) faktor waktos, misale leksem ‘hulubalang’ cumi cocok kaliyan waktos jaman sengiyen, kangge jaman saniki diangge istilah ‘komandan’,
(c) faktor tempat, misale leksem ‘abdi’ cumi cocog kaliyan konteks basa Sunda, lan leksem ‘ingsun’ dipigunakaken dening masyarakat Cerbon,
(d) faktor sosial, misale leksem ‘isun’ digunakaken upami micareng kaliyan rencang, lan leksem ‘kula’ dipigunakaken upami micareng kaliyan tiyang kang yuswane langkung sepuh,
(e) faktor bidang kegiatan, misale leksem ‘tassawuf’ diangge dening tiyang muslim, sedeng leksem ‘kebatinan’ diangge dumateng tiyang non-muslim,
(f) faktor nuansa makna, misale bentene leksem ‘ndeleng, ngimpleng, nginte, mlotot, nongton, nglirik’, lan sapanunggalane.
a. Hal-hal kang perlu diperhatekaken teng sinonim
Katah hal-hal kang perlu diperhatekaken teng sinonimi, nggih niku kados teng andap puniki.
1) Mboten sedanten leksem wonten sinonime, misale beras, salju, watu, kuning, lan sapanunggalane.
2) Wonten leksem kang sinonim teng wangun dasare nanging mboten sinonim teng wangun andahane, misale ‘bener’ kaliyan ‘estu’ sinonim teng wangun lingga nanging mboten sinonim teng wangun andahan keranten ‘kebeneran’ mboten sinonim kaliyan ‘kaestuan’, ‘kebeneran’ sinonim kaliyan ‘ndilalah’.
3) Wonten leksem kang mboten sinonim teng wangun lingga nanging sinonim teng wangun andahan, misale ‘peh’ mboten wonten sinonime nanging ‘ngepeh’ wonten sinonime nggih niku ‘nggaringaken’.
4) Wonten leksem kang teng artos selerese mboten sinonim nanging teng makna pocapane wonten sinonime. Misale ‘putih’ teng makna pocapane sinonim kalian ‘bersih, suci, murni, asli, lan sapanunggalane’.
b. Ragam Sinonim
Sinonim ngrupiaken setunggale relasi makna kang katah ragam atanapi jinise. Anadene ragam sinonim saged dibentenaken kados teng andap puniki.
1) Sinonim antarmorfem
Sinonim antarmorfem nggih niku kememperan makna kang dumados antawis morfem kang setunggal kaliyan morfem sanese.
Misale :
Kula nyuwun bantuan piyambeke = Kula nyuwun bantuan piyambekipun.
Buku kang teng Pak Kuwu sampun kula pendet = Buku kang teng Pak Kuwu sampun tekpendet.
2) Sinonim antarleksem
Sinonim antarlekse nggih niku kememperan makna kang dumados antawis leksem kang setunggal kaliyan leksem sanese.
Misale :
Nissa metik pelem = Nissa metel pelem.
3) Sinonim antawis leksem kaliyan frasa
Sinonim antawis leksem kaliyan frasa nggih niku kememperan makna kang dumados antawis leksem kaliyan frasa.
Misale :
Ramae sampun ninggal = Ramae sampun tutup yuswa
4) Sinonim antarfrasa
Sinonim antarfrasa nggih niku kememperan makna kang dumados antawis frasa kang setunggal kaliyan frasa sanese.
Misale :
Tiyang sepuh kula ketingal silih asih. = Rama lan ibu kula ketingal silih asih.
5) Sinonim antarukara
Sinonim antarukara nggih niku kememperan makna kang dumados antawis ukara kang setinggal kaliyan ukara sanese.
Misale :
Hafizh nendang bal. = Bal ditendang Hafizh.
2. Kontras
Seliyane gadah kememperan makna atanapi sinonimi, setunggal leksem mumkin gadah kewalikan makna. Diwuwusaken mumkin keranten mboten unggal leksem gadah kontrase. Istilah kontras ngliputi oposisi lan antonimi.
a. Oposisi
Oposisi nggih niku setunggale leksem kang gadah hubungan tinentangan atanapi kontras kang nuduhaken hubungan komplementif atanapi silih nglengkepi. Wontene setunggal leksem atanapi referens punika disebabaken wontene referensi kang sanese. Hubungan kontras komplementif atanapi mutlak kados mekaten sampun mboten saged digradasiaken, artose teng antawis kekalihe mboten wonten malih istilah atanapi leksem sanese.
Contoh oposisi :
lanang >< wadon guru >< murid mbok >< bapa
b. Antonimi
Antonini nggih niku setunggale leksem kang dianggep gadah makna tinentangan antawis setunggal leksem kaliyan leksem kang sanese, nanging hubungan punika maksih saged digradasiaken, artose teng antawis kalih leksem punika maksih wonten kemumkinan dugie leksem sanese. contoh antonim : blesak >< kirang sae, rada sae, cekap sae, sae, langkung sae, sae pindah, … kopral >< sersan, letnan, kapten, mayor, … Teng lebete hubungan oposisi kados lanang >< wadon hubungan komplementer atanapi mutlak linaku sanget keranten ‘kang mboten gadah ciri lanang pesti wadon’, mekaten ugi sewangsule, upami ‘mboten gadah ciri wadon pesti lanang’. Proses mikire kados teng andap puniki :
(a) lanang nggih niku sanes wadon
(b) kang sanes wadon puniku pesti lanang
(c) wadon nggih niku sanes lanang
(d) kang sanes lanang puniku pesti wadon Teng hubungan tata tingkat atanapi kontraries, hubungan dikotomi mutlak kados dene teng inggil punika mboten linaku atanapi mboten saged dilaksanakaken sanajan :
(a) panas nggih niku mboten adem
(b) adem nggih niku mboten panas nanging mboten saged dirambangaken dados :
(a) kang ‘mboten panas’ artose mboten pesti adem, keranten kang mboten panas punika saged ‘rada adem, anget, cukup adem, adem, adem pisan, paling adem, adem ces’, lan sapanunggalane
(b) kang ‘mboten adem’ artose mboten pesti panas, keranten kang mboten ‘adem punika’ saged ‘rada panas, cukup panas, panas, panas pisan, paling panas’, lan sapanunggalane. Relasi tinentangan kados mekaten lumrah disebat polaritas positif lan polaritas negatif. Pranata leksem kang gadah kemumkinan kangge dipitentangaken kados leksem teng inggil punika disebat ortagonal, sedeng relasi pitentangane disebate antipodal. Dumasar sipate, oposisi dibentenaken dados :
1) Oposisi Mutlak Kang dimaksad kaliyan oposisi mutlak ngggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem minangka oposisie punika pesti dumados. Maksade wontene istilah punika tumimbul keranten wontene isrilah oposisie. misale : laki >< rabi lanang >< wadon duda >< rangda
2) Oposisi Kutub Kang dimaksad kaliyan oposisi kutub nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan relatif kang gradatif keranten wates kang fleksibel. misale : adoh >< parek dawa >< cendek duwur >< endep
3) Oposisi Relasional Komplementif Kang dimaksad kaliyan oposisi relasional komplementif nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan nglengkepi. misale : guru >< murid bujang >< majikan adol >< tuku
4) oposisi hierarkilal Kang dimaksad kaliyan oposisi hierarkilal nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan kang nyatakaken deret dawa, jenjang, atanapi tetingkatan. misale : meter >< kilometer gram >< ton kopral >< jendral
5) Oposisi Majemuk Kang dimaksad kaliyan oposisi majemuk nggih niku hubungan tinentangan makna setunggale leksem kaliyan leksem sanese kang arupi tinentangan hubungan kang antawis leksem-leksem punika maksih mumkin dugie leksem sanese. misale : ndodok glelengan turu >< ndongkok nongkrong ngadeg
3. Homonimi, Homofoni, lan Homografi
Homonimi nggih niku ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang wangune lan lafale sami kaliyan wangun lan lafale sami kaliyan ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) sanese nanging maknae benten. Homonim ngrupiaken leksem kang sami lafal lan ejaane, nanging makna ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) punika benten.
Misale :
adang = mbetek ngangge dangdang
adang = ngalang-alangi, nunggu
pacar = demenan
pacar = inai
selang = pipa
selang = jangka waktos
bandar = pelabuhan
bandar = cukong judi
abang = nami setunggale warni
abang = kakang lanang
kang = tiyang kang yuswane langkung sepuh (kakang)
kang = sing (kang abang = sing abang)
dada = tabe (nglambe-lambeaken tangan)
dada = bagian badan
wedi = mboten wantun
wedi = pasir
betok = ulam kados mujaer
betok = angus kenging toya keras
calak = penter ngomong
calak = alat kangge nggosok inten
ceret = wadah toya
ceret = mboten saged ageng
Homofoni nggih niku ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang lafale sami kaliyan leksem kang sanese nanging ejaan lan maknae benten.
Misale :
bank = lembaga peryatraan
bang = kakang lanang
sangsi = ragu-ragu atanapi ham-ham
sanksi = ukuman
Homografi nggih niku setunggale ungkapan (leksem, frasa, atanapi ukara) kang ejaane sami kaliyan leksem kang sanese nanging lafal lan maknae benten.
Misale :
godeg = rambut ning pilingan mengandap
godeg = gerakan sirah kang nandakaken mboten
bebek = kambangan
bebek = numbuk kaliyan alu supados alus
sedeng = cekap
sedeng = rada edan
betek = ngliwet
betek = panggonan sementawis teng proyek
beres = kasusun rapi, priyad
beres = adem pisan
a. Tataran Homonimi
Tataran homonimi saged digolongaken dados sekawan tataran, nggih niku tataran antar morfem, tataran antarleksem, tataran antarfrasa, lan tataran antarukara.
1) Tataran Antarmorfem
Tataran homonimi antarmorfem nggih niku persamian wangun morfem kang setunggal kaliyan morfem kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih morfem punika benten.
misale :
Kiyen bukue isun, sedeng kang nggletak ning meja tamu bukue deweke. (pronomina)
Nalika kula ajeng blajar nanging bukue mboten wonten. (nyatakaken buku)
2) Tataran Antarleksem
Tataran homonimi antarleksem nggih niku persamian wangun leksem kang setunggal kaliyan leksem kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih leksem punika benten.
misale :
Isun bisa ngerjakaken soal. (saged)
Amir gering kenang bisa ula. (wisa)
Aqshal ngiling banyu sing ceret.
Dulatip kapanjing wong sing ceret.
3) Tataran Antarfrasa
Tataran homonimi antarfrasa nggih niku persamian wangun frasa kang setunggal kaliyan frasa kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih frasa punika benten.
misale :
lukisan Yusuf = lukisan gadahe Yusuf
lukisan Yusuf = lukisan hasil nglukise Yusuf
lukisan Yusuf = lukisan wajah Yusuf
4) Tataran Ukara
Tataran homonimi antarukara nggih niku persamian wangun ukara kang setunggal kaliyan ukara kang sanes, nanging makna kang digadahi kalih ukara punika benten.
misale :
Istrie lurah kang enggal punika ayu. (lurah enggal gadah istri kang ayu)
Istrie lurah kang enggal punika ayu. (lurah gadah istri enggal kang ayu)
b. Faktor-faktor kang nyebabaken dumadose homonimi
1) saking dialek kang benten
misale :
bisa = racun sawer (Melayu)
bisa = saged (Jawa)
2) minangka akibat proses morfologis
misale :
ukur + N- = ngukur (Petugas lagi ngukur dalan.)
kukur + N- = ngukur (Mimi lagi ngukur krambil.) (ngeruk)
kukur + N- = ngukur (Aja ngukur bae sih ngkoe pada lecet!)
4. Hiponimi lan Hipernimi
Hiponimi nggih niku ungkapan / leksem kang maknae dados bagian makna ungkapan atanapi leksem kang sanese. Hiponimi ngrupiaken leksem-leksem hierarkis kang nyakup makna wiyar / arti umum, sedeng hipernimi ngrupiaken leksem-leksem hierarkis kang nyakup makna khusus / makna ciut. Hubungan antawis hiponimi kaliyan hipernimi cakupan maknae punika searah.
Misale :
MAKHLUK
makhluk gesang benda mati
janma kewan tuwuhan
hiponim
mainda gajah ulam maisa super ordinat
kohiponim
tongkol kakap mujaer layur subordinat
5. Polisemi
Polisemi lazim diartosaken minangka satuan basa (terutami tembung, saged ugi frasa) kang gadah makna langkung saking setunggal. Teng pekembangan kang langkung lami, komponen-komponen makna punika saged ngrembaka (ngembang) dados makna-makna sanese. Saged dinyatakaken upami makna kang wonten teng selebete wangun polisemi punika maksih wonten kait-kaitane atanapu hubung-hubungane kaliyan makna asal keranten sunyatane makna punika dijabaraken saking makna kang wonten teng tembung asal punika.
Misale :
sirah :
(a) bagian gulu menginggil
(b) bagian kang paling penting
(c) bagian kang bentuke buled
(d) pemingpin atanapi ketua
(e) jiwa atanapi tiyang
(f) akal budi
a. Bentene Homonimi kaliyan Polisemi
1) Homonimi sanes setunggal leksem kang sami nanging kalih leksem kang wangen lafal, lan ejaane keleresan sami. Teng selebete kamus, wangen homonimi punika didaftaraken kaliyan entri kang benten. Sedeng polisemi punika setunggal leksem kang sami nanging leksem punika gadah makna kang benten-benten, artose makna kang dikandung teng leksem punika langkung saking setunggal. Teng kamus, polisemi didaftaraken dados setunggal entri.
2) Makna teng wangun homonimi mboten wonten kaitan makna atanapi hubungan maknae antawis leksem kang setunggal kaliyan leksem kang sanese, sedeng polisemi makna kang dikandung punika maksih wonten kaitan makna atanapi hubungan maknae keranten senyatae dikembangaken saking komponen-komponen punika.
b. Faktor-faktor kang ndadosaken polisemi
1) Spesifikasi ilmu pangauningan, misale pianggean wangun leksem teng ilmu kebasaan, benten kaliyan pianggean leksem teng bidang arsitektur, ugi benten kaliyan pianggean leksem teng bidang seni rupa, mekaten ugi benten teng bidang kedokteran..
2) Spesifikasi pianggean teng kegesangan sedinten-dinten kang rineka werna. Misale leksem ‘tarik’ dening supir dimaknai kaliyan ‘jalan/kesah’. Nanging dening tukang kajeng dimaknai kaliyan ‘sered’.
3) Pianggean teng gaya basa misale leksem ‘getih’ lan ‘kentel’ teng sajake Chairil Anwar sampun ngalami perobihan, penambihan, lan pengalihan makna.
4) Tuturan lisan atanapi penulisan kang sawon.
Antawis polisemi kalaiyan homonimi punika asring keder mbentekanene, kangge punika, teng andap puniki wonten cara kang kedah diperhatekaken selebete mbentenaken wangen polisemi kaliyan homonimi, nggih niku :
(a) tingal kamus lan pahami etimologi lekseme,
(b) pahami konteks penganggeane,
(c) pahami makna kang intie atanapi core of meaning,
(d) kaji hubungan strukturale
6. Ambiguitas
Ambiguitas atanapi ketaksaan basa asring diartosaken minangka leksem kang gadah makna ganda atanapi ngrangkep artos. Bentene antawis ambiguitas kaliyan polisemi nggih niku ari kerangkepan makna polisemi asale saking leksem, sedeng kerangkepan makna ambiguitas saking satuan kang langkung ageng, nggih niku frasa atanapi ukara kang kedadosane sami minangka akibat penapsiran struktur makna kang benten.
Misale :
Buku sejarah enggal : buku sejarah kang nembe medal
buku kang isie sejarah jaman kang enggal
Wong males mambah mono : arang tiyang kang kiyeng lintang ngambah mrika
cumi tiyang males kang lintange ngambah mrika
Pebentenane Ambiguitas kaliyan Homonimi
(a) ditingal minangka wangun kalih leksem kang keleresan wangune sami kaliyan makna kang benten, sedeng ambiguitas nggih niku wangun kaliyan makna kang benten minangka akibat kesawonan penafsiran struktur gramatikal.
(b) Ambiguitas cumi dumados teng taran frasa atanapi ukara, sedeng homonimi saged dumados teng sedanten wangun satuan gramatik.
7. Redundansi
Redundansi asring diartosaken minangka kelangkung-langkungan pianggean unsur suprasegmental teng selebete setunggal ujaran atanapi tuturan.
Misale :
Bal ditendang dening Hafizh.
Bal ditendang Hafizh.
Pianggean tembung ‘dening’ teng ukara kang wonten teng inggil punika dianggep redundansi atanapi kelangkung-langkungan pianggean leksem kang mboten diperyogiaken, keranten sanajan umpamae leksem ‘dening’ punika dibucal, makna kang dikandung dening ukara punika mboten robih. Artose makna ‘Bal ditendang dening Hafizh’ punika sami kaliyan ‘Bal ditendang Hafizh’.
I. Medan Makna
Medan makna nggih niku bagian sistem semantik basa kang nggambaraken bagian saking kebudayaan atanapi realitas teng selebete alam semesta kang direalisasiaken dening seperangkat unsur leksikal kang gadah hubungan maksad. Medan makna punika ngaji pengelompokan leksem kang gadah hubungan makna. Hubungan kang dimaksad nggih niku hubungan kolokasi lan hubungan set. Kolokasi nuduhaken hubungan sintagmatis kang dumados antawis tembung-tembung atanapi unsur leksikal. Hubungan sintagmatis puniki sipate hubungan linier atanapi hubungan segaris.
Misale :
Mang Amin kapanjing wong kang open ning pite. Senajan pit iku wis ora bagus, nanging masih enak ditumpakane. Sadele digawe sing kulit, setange jejer loro, bane masih katon anyar lan bersih, reme pakem, peleke keling bae, becongane ditambah karo busa tabeke korsi kang epuk, lan ora klalen kriningane nggal dina digemuk supaya munie melung waktu ditabuh. Mang Amin uga wong kang ngati-ati yen numpak pit, ora ning dalan kang branjal-brinjul ora ning dalan kang alus. Apa maning ning dalan kang aspalan kang rame karo kendaraan sejene lan ngadepi pengkolan atawa ning prapatan lampu abang ijo.
Kolokasi
1. pit : ban, sadel, setang, pelek, rem, becongan, kriningan.
2. dalan, branjal-brinjul, alus aspal, pengkolan, prapatan, lampu abang ijo.
Upami kolokasi nduhaken hubungan sintagmatis, maka set nuduhaken hubungan paradigmatis. Hubungan paradigmatis nggih niku hubungan silih gumanti. Artose leksem-leksem kang wonten teng selebete ukara punika saged disulihaken atanapi diggentos kaliyan leksem sanese.
Misale :
Waktu arep subuh, wetengisun kemruyuk, untung ning meja masih ana ….
Leksem kang didelisiaken teng ukara teng inggil punika saged diisi kaliyan rujak, roti, sekul, oncom goreng, jagung bakar, intip goreng, lan sapanunggalane barang atanapi penganan kang saged didahar minangka geganjel weteng ngantos weteng punika mboten ngraos kempong malih. Nanging kang kedah diperhatekaken selebete ngisi titik-titik punika nggih niku :
a. Frasa ‘arep subuh’. Frasa punika nuduhaken wanci enjing njeput, dados mboten mumkin yen titik-titik punika diisi kaliyan ‘rujak’ atanapi dedaharan kang wonten sambele.
b. Pronominal kataforis ‘isun”. Pronominal punika saged diidentifikasi, kepripun upami ‘isun’ punika referensie tiyang sepah kang gadah waos (untu) cumi setunggal (nini-nini atanapi kaki-kaki), maka titik-titik punika mboten mumkin diisi kaliyan jagung bakar atanapi intip goreng.
1. Komponen Makna
Komponen ngrupiaken wujud pranata makna kang gadah tetenger khusus atanapi tetenger piyambek kang digadahi anggota kelas makna minangka tetenger pembenten. Kewontenan ciri kusus teng selebete setunggale fitur semantik punika ditandai kaliyan (+), mboten wontene tetenger kusus ditandai kaliyan ( – ), lan kemumkinan wonten mbotene ditandai kaliyan ( ± ).
jago
+ tiyang + sato kewan – benda
(+ lanang) (+ lanang) (– lanang)
– wadon – wadon – wadon
2. Kesaluyuan Semantis lan Gramatis
Setunggale bahasawan atanapi penutur basa saged mahami lan migunakaken basa mboten keranten piyambeke amengku samubarang ukara kang wonten teng basa punika, nanging keranten wontene kesaluyuan atanapi kepanujuan tetenger semantik antawis unsur leksikal kang setunggal kaliyan unsur leksikal kang sanese. Misale, tiyang istri lan siweg bobot wonten kesaluyuan tetenger semantik. Nanging antawis tiyang jaler lan siweg bobot mboten wonten kesaluyuan tetenger semantik. Mekaten ugi sewalike misale tiyang jaler kaliyan kumis wonten kesaluyuan tetenger semantik.
Mekaten ugi antawis leksem dahar kaliyan baso jelas wonten kesaluyuan tetenger semantike. nanging antawis leksem dahar kaliyan korsi mboten wonten kesaluyuan tetenger semantik keranten leksem baso gadah tetenger ( + daharan ) sedeng leksem korsi gadah tetenger semantik ( – daharan ). Dados, pernyataan dahar baso saged ditampi sedeng pernyataan dahar korsi mboten saged ditampi. Keranten korsi punika sanes daharan.
Kesaluyuan tetenger punika mboten cumi linaku teng unsure-unsur leksikal kemawon, nanging ugi linaku antawis unsure leksikal kaliyan unsur gramatikal. Misale leksem setunggal cumi saluyu kaliyan leksem sawung, lan mboten saluyu kaliyan leksem sawung-sawung, nggih niku wangun reduplikasi saking leksem sawung. Pramila punika, ukara Mimi tumbas setunggal sawung saged ditampi nanging ukara Mimi tumbas setunggal sawung-sawung mboten saged ditampi. Hal punika dumados keranten leksem setunggal saluyu kaliyan leksem sawung gadah tetenger semantik ( + tunggal ) sedeng leksem setunggal kaliyan leksem sawung-sawung mboten gadah tetenger semantik (– tunggal).
3. Makna teng Sistem Tanda
Konsep makna minangka sstem tanda sampun lami dibahas dening para ahli basa. Ferdinand de Saussure teng naun 1916 sampun nylidiki konsep makna minangka sistem tanda. Kesimpulane miturut Ferdinand de Sussure, basa minangka sistem tanda diindikatori dening wontene hubungan kang raket antawis (1) signifiant, nggih niku gambaran tatanan ungel-ungel secara abstrak teng kesadaran batin para penganggene, (2) signifie, nggih niku gambaran makna secara abstrak sehubungan kaliyan wontene kemumkinan hubungan antawis ungel kaliyan dunia jawi, (3) form, nggih niku kaidah abstrak kang ngatur hubungan antwis butir-butir abstraksi ungel ngantos kemumkinane kangge ngekspresi diri, lan (4) substance, nggih niku perwujudan ungel - ungel ujaran kang kas.
J. Perobihan Makna
Makna setunggale leksem secara sinkronis saged rinobih. Pernyataan punika nyirataken pengertosan nyaniya mboten unggal tembung maknae kedah rinobih atanapi rinobih secara diakronis. Kang dimaksad sinkronis nggih niku penyelidikan makna kang dilampahaken teng setunggale waktos atanapi jaman kang sami, sedeng kang dimaksad diakronis nggih niku penyelidikan makna kang dilampahaken teng waktos atanapi jaman kang benten. Katah leksem kang maknae sing awit sengiyen mboten ngalami perobihan, malah cacahe mumkin langkung katah tinimbang kang rinobih atanapi ngalami perobihan.
1. Sebab-Sebab Perobihan Makna
Katah faktor kang ndadosaken perobihan makna setunggale leksem. Perobihan leksem punika saged dumados keranten perkembangan ilmu pengetahuan, perkembangan sosial budaya, perkembangan bidang pianggean, wontene asosiasi kang benten, tetukeran tanggapan indera, perbentenan tanggapan, wontene panyindekan, mawiyar, nyiuti, perobihan total, pengalusan, lan pengasaran.
a. Perkembangan Ilmu Pengetahuan lan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan lan teknologi saged nyebabaken dumadose perobihan makna setunggal leksem. Teng ngrika, setunggal leksem kang waune ngandung konsep makna ngenai setunggale makna kang basajan angger dipigunakaken senajan konsep makna kang digadahi punika sampun rinobih minangka pamrah saking pandengan enggal atanapi teori enggal selebete setunggal ilmu atanapi pamrah perkembangan teknologi. Misale perobihan makna teng leksem sastra saking makna ‘tulisan’ robih dados ‘rumpaka imajinatif’.
b. Perkembangan Sosial Budaya
Wangun leksem teng perobihan makna keranten perkembangan sosial budaya punika angger sami, nanging makna kang digadahi punika sampun rinobih. Misale leksem saudara (sederek) teng basa Sansekerta ngandung makna ‘seweteng’ atanapi setunggal kandungan, nanging makna punika seniki sampun rinobah lan dipigunakaken kangge nyebat tiyang sanes kang dianggep sederajat atanapi gadah status sosial kang sami kados teng ukara Surat saudara sampun kula tampi atanapi Teng pundi sederek dilairaken?
c. Perkembangan bidang Pianggean
Perobihan bidang pianggean saged nyebabaken perobihan setunggal leksem. Misale teng bidang tetanen saged dipanggihi leksem bibit, tandur, panen, nggarap, mupuk, nawur, mbajak (mluku), lan sapanunggalane. Leksem mbajak sengiyen diangge kangge makna ngolah siti teng sabin, nanging saniki leksem punika gadah makna setunggale panggawe kang ngrugiaken tiyang atanapi pihak sanes, misale teng ukara ‘Saniki mboten sekedik pencipta lagu terutami lagu dangdut kang mbajak rumpaka tiyang sanes, khususe lagu-lagu saking India atanapi Arab.
d. Wontene Asosiasi
Wontene Asosiasi saged ngrobih makna setunggale leksem. Perobihan makna keranten wontene asosiasi punika keranten wontene hubungan antawis kedadosan atanapi peristiwa atanapi hal kang setunggal kaliyan kedadosan, peristiwa atanapi hal sanese. Misale perobihan makna leksem amplop teng ukara Hafizh dikengken tumbas amplop teng toko kaliyan makna leksem amplop teng ukara ‘Ambir samubarange gage beres, paien bae pejabate amplop’.
e. Tetukeran Tanggapan Indera
Alat indera janma kang cacahe gangsal punika satuhune sampun gadah kardi piyambek-piyambek kangge nanggapi gejala-gejala kang wonten teng dunia punika. Upamie raos manis, asin, getir, lan asem kedah ditanggapi kaliyan indera pengraos nggih niku lati. Raos panas, adem, lan atis kedah ditanggapi kaliyan indera peraba nggih niku kulit. Gejala kang kinait kaliyan cahaya kados padang, peteng, lan remeng-remeng kedah ditanggapi kaliyan indera paningal nggih niku mripat. Gejala kang tinalenan kaliyan swanten kados melung, hawar-hawar, atanapi lamat-lamat kedah ditanggapi kaliyan indera pemireng nggih niku kuping, sedeng gejala kang kinait kalian ambet punika kedah ditanggapi kaliyan indera pangambung nggih niku grana.
Teng penggunaane katah dumados kasus tetukeran antawis alat indera kang setunggal kaliyan alat indera kang sanese. Raos pedes misale kedah ditanggapi kaliyan indera pengraos nggih niku lati, nanging teng pianggean asring dituker kaliyan indera pemirengan, misale teng ukara Omongane pedes pisan. Kasar kang kedahe ditanggapi kaliyan indera peraba nggih niku kulit asring dituker kaliyan indera paningal nggih niku mripat, misale teng ukara Tumindake kasar temen. Contoh liyane misale ukara Suarane enak dirungokaken atanapi Wong wadon kae sedep dipandenge. Leksem enak kaliyan sedep punika kedah ditanggapi kaliyan indera pangraos, nanging teng ukara punika ditanggapi kaliyan indera pemirengan lan paningalan. Tetukeran tanggapa alat indera kados kang sampun diserataken punika disebate sinaestesis.
f. Perbentenan Tanggapan
Unggal wangun leksikal atanapi leksem satuhune secara sinkronis sampun gadah makna leksikal kang angger. Nanging keranten wontene pandengan gesang lan ukuran selebete norma kegesangan kang benten kang wonten teng selebete masyarakat, katah leksem kang saged gadah nilai raos kang dianggep asor atanapi kang mboten nyenengaken, nagging katah ugi leksem kang dados gadah nilai raos kang dianggep inggil atanapi nyenengaken.
Leksem kang dianggep gadah nilai raos kang mrosod dados asor punika disebate peyoratif, sedeng leksem kang dianggep gadah makna kang manek atanapi langkung inggil disebate amelioratif. Leksem laki lan rabi dianggepe gadah makna langkung asor atanapi peyoratif tinimbang leksem semah lan istri, atanapi leksem bung (kados teng sebatan Bung Tomo, Bung Hatta, Bung Karno) dianggep gadah nilai raos kang langkung inggil atanapi amelioratif tinimbang leksem bang (kados teng sebatan Bang Dul)
g. Wontene Penyindekan
Selebete basa Cerbon katah leksem atanapi ungkapan kang lantaran asring dipigunakaken lajeng datan diucapaken atanapi diserat secara lengkap malih keranten senajan mboten diucapaken atanapi diserataken ugi penanggap tutur sampun sumerep punapa kang dimaksad dening penutur punika. Misale ukara Ramae ninggal, temtos maksade Ramae ninggal dunia. Dados, ninggal punika ngrupiaken penyindekan saking ninggal dunia. Bapa teng Jakarta ngrupiaken penyindekan saking Bapa (siweg) kesah teng Jakarta. Mekaten ugi penyindekan teng tebruk saking teh tubruk, dubang saking idu sing abang, lan sapanunggalane.
h. Mawiyar
Katah leksem kang ngalami pemiyaran makna. Leksem punika kawitane cumi diangge teng bidang-bidang kang sampun temtos, nanging saniki leksem-leksem punika ngalami pewiyaran makna keranten sampun diangge teng bidang-bidang sanese. Misale leksem nyitak awale diangge teng bidang percitakan kados buku, majalah, koran lan sanese-sanese, nanging saniki leksem nyitak punika asring diangge teng bidang tetanen, misale teng ukara Pemerentah bade nyitak sabin-sabin enggal, atanapi teng bidang olahraga kados teng ukara Persib Bandung sampun nyitak tigang gul teng gawang Persija.
i. Nyiuti
Kang dimaksad perobihan nyiuti nggih niku gejala kang dumados teng setunggale leksem kang kawitane gadah makna kang wiyar nanging saniki leksem punika diangge teng setunggal makna kemawon. Misale leksem sarjana, sengiyen leksem sarjana punika gadah makna tiyang kang pinter (cendekiawan), nanging saniki leksem punika cumi diangge kangge tiyang kang sampun lulus saking setunggale perguruan inggil jenjang S.1, S.2, atanapi S.3 kados teng frasa Sarjana Pendidikan, Sarjana Hukum, Sarjana Ekonomi, Sarjana Pendidikan Islam, lan sapanunggalane.
j. Perobihan Total
Kang dimaksad perobihan total ngih niku perobihan makana kutub setunggale makna saking makna kawitane. Karuan wonten kemumkinan makna punika maksih wonten sangkut paute kaliyan makna kawitan, nanging sangkut paute punika sampun tebih sanget atanapi melenceng sanget. Misale leksem ceramah punika makna kawitane rewel, cerewet, atanapi katah omonge, nanging saniki leksem ceramah punika rinobih dados pidato aatanapi urean ngenai setunggal hal kang dimaturaken. Leksem pena makna kawitane nggih niku wulu, saniki makna pena sampun robih total dados alat tulis kang migunakaken mangsi.
k. Pengalusan
Selebete basa Cerbon, pengalusan makna sanes barang kang enggal teng tuturan sedinten-dinten. Tiyang sengiyen kang kewentar keranten kepercantenan atanapi sebab-sebab sanese nggentos leksem buaya atanapi macan kaliyan nini-nini, nggentos sawer kaliyan ketimange Nabi Suleman, nggentos makhluk alus kaliyan penunggu, lan sanes-sanese. Mekaten ugi istilah tuna daksa, tuna netra, tuna grahita, lan sapanunggalane ngrupiaken cara pengalusan makna leksem (eufemia).
l. Pengasaran
Kewalikan saking pengalusan nggih niku pengasaran (disfemia). Disfemia nggih niku usaha kangge nggentos leksem kang maknae alus atanapi biasa dados leksem kang maknae kasar. Anadene prayojana penggunaan leksem punika kangge ngiataken maksad leksem teng setunggale peristiwa. Misale leksem nggondol gadah konotasi mboten sae lan kasar kados teng ukara Maling nggondol rupa-rupa barang sing umae pengusaha krupuk mlarat nanging leksem punika asring digunakaken kangge bidang sanes kang nguntungaken malah mbanggakaken kados teng ukara Regu bulu tangkis Indonesia suskes nggondol Piala Thomas.
2. Latar Perobihan Makna
Perobihan makna kang digadahi dening setunggal leksem saged disebabaken dening faktor-faktor kados dene tetenger dasar kang digadahi dening internal basa, wontene proses gramatik, sifat generik leksem, wontene spesifikasi, unsur kesejarahan, faktor emotif, lan tabu basa.
a. Tetenger dasar digadahi dening internal basa
Makna setungal leksem sanese saged nggadahi hubungan kang raket kaliyan leksem kang sanese, misale teng setunggal kolokasi, makna lan wangun leksem ugi saged tumpang tindih misale teng polisemi lan homonimi. Tetenger dasar kang digadahi dening setunggal leksem saged nyebabaken perobihan makna setunggal leksem. Misale konotasi kang raket sanget antawis ‘kopi’ kaliyan ‘inuman’ nyebabaken perkembangan makna teng leksem ‘kopi’ sanese ngrujuk teng ‘woh kopi’ ugi ngrujuk teng ‘bubuk kopi’ lan ‘inuman kopi’.
b. Pamrah Wontene proses gramatik
Wontene proses gramatika setnggal leksem ngrupiaken setunggal latar kang saged nyebabaken robihe makna kang digadahi dening leksem kang dimaksad. Misale leksem ‘ibu’ ngalami relasi gramatik kaliyan ‘kota’ ngantos mboten cumi ngrujuk teng ‘wadon/istri’.
c. Sipat generik leksem
Leksem-leksem teng setunggale wangun kebasaan umume makna kang digadahi dening leksem-leksem punika mboten kaku nanging lentur. Pamrah kesamuran lan kelenturan leksem punika makna leksem asring ngalami pergeseran saking makna kawitane. Misale leksem ‘blajar’ sanes mawon blajar teng sekolahan, nanging saged ugi ‘blajar nyopet, blajar nembang, blajar nyupir, blajar bal-balan, lan sapanunggalene’.
d. Wontene spesifikasi
Wontene spesifikasi bidang pianggean ngrupiaken setunggale latar kang nyebabaken perobihan makna setunggal leksem. Misale leksem ‘ranah’ awale ngrujuk teng ‘wilayah atanapi daerah’ nanging leksem ranah punika saniki ngalami kekususan lan disejajaraken kaliyan ‘domain’, (inget teng istilah ranah kognitif, afektif, lan psikomotor kang disejajaraken kaliyan istilah domain kognitif, afektif, lan psikomotor kang diwedalaken Benjamin S. Bloom kang dikenal kaliyan istilah Taksonomi Bloom).
e. Unsur kesejarahan
Unsur kesejarahan kang nyebabaken robihe makna setunggal leksem tetalenan kaliyan (1) perjalanan basa saking setunggal generasi teng generasi kang sanese, (2) perkembangan konsep ilmu pangauningan, (3) kebijakan institusi, lan (4) perkembangan idea lan objek kang dimaknai. Misale leksem ‘perjuangan’ sengiyen cumi dimaknai kaliyan ‘perang nglawan penjajahan’ saniki leksem ‘perjuangan’ punika dimaknai kaliyan ‘usaha ningkataken taraf kegesangan’.
f. Faktor emotif
Unsur motif kang saged nyebabaken pergeseran makna ditandai dening wontene asosiasi, analogi, lan bebandingan selebete pianggean wangun basa. Hal punika mamrahaken wangun metaforis kados metaforis antromorfis, mataforis bebandingan kewan, lan metaforis sinaestesis.
Metaforis antromorfis nggih niku penataan relasi leksem kang kedahe khusus kangge fitur janma nanging dihubungaken kaliyan barang-barang kang mboten gadah ambekan. Metaforis kewan nggih niku pianggean khusus kaliyan kewan dipigunakaken kangge barang kang mboten wonten ambekane atanapi tiyang. Sementawis metaforis sinaestesis nggih niku pengalihan asosiasi fitur semantic setunggale refere kang sampun temtos teng referen sanese kang secara analogis gadah kesetataan sifat. Misale leksem ‘pedes’ kangge sambel kaliyan ‘pedes’ kangge omongan, ‘manis’ kangge raose gendis kaliyan ‘manis’ kangge wajah.
g. Tabu basa
Unsur tabu basa ngrupiaken setunggal latar kang saged nyebabaken wontene perobihan lan pergeseran makna. Tabu basa punika ngrupiaken setunggale leksem kang pianggeane dianggep tabu atanapi pamali, hal punika tinalenan kaliyan faktor kepercantenan setunggal masyarakat dumateng hal-hal kang dianggep tabu atanapi pamali. Tabu basa punika saged dibentenaken dados :
(1) tabu keranten rasa hormat, misale ‘penunggu’ digunakaken kangge nyebat roh alus, atanapi leksem ‘kyai’ digunakaken minangka gegantos nyebat macan, lan
(2) tabu kangge ngalusaken, misale frasa ‘bade teng pengker’ kangge seni/nguyu, atanapi ‘tetoya’ kangge ngising.
3. Asosiasi Hubungan Makna
Makna teng setunggale leksem kaliyan leksem kang sanese teng selebete kesadaran penganggene saged nimbulaken asosiasi hubungan kang sampun temtos, kados dene :
a. Kesejajaran sifat atanapi tetenger umum, misale antawis leksem ‘mbakta’ kaliyan ‘ngangkut’, antawis ‘nyukakaken’ kaliyan ‘masrahaken’, antawis ‘ningal’ kaliyan ‘nonton’.
b. Sebab – akibat, misale antawis leksem ‘dawah’ kaliyan ‘tangi’, ‘ningal’ kaliyan ‘sumerep’, ‘blajar’ kaliyan ‘mahami’, ‘usaha’ lan ‘asil’.
c. Hubungan kualitas, misale antawis leksem ‘toya’ kaliyan ‘seger’, ‘geni’ kaliyan ‘panas’, ‘es’ kaliyan ‘atis’.
d. Fakta lan gejala, misale antawis leksem ‘mesem’ kaliyan ‘seneng’, ‘nangis’ kaliyan ‘nelangsa’, ‘angob’ kaliyan ‘ngantuk’.
e. Asosiasi hubungan tinentangan, misale antawis leksem ‘males’ kaliyan ‘wekel’, ‘blesak’ kaliyan ‘esak’, ‘robih’ kaliyan ‘angger’.
f. Asosiasi hubungan kohiponim, misale antawis leksem ‘tetuwuhan , sato kewan, janma’, kaliyan ‘makluk gesang’.
K. Tingkat Keleresan Informasi Semantik
Minangka setunggale struktur formal, basa gadah kewinatesan selebete makili kasunyatan (realitas). Mangkane, ngubungaken basa kaliyan logika sejeb sengiyen tansah nimbulaken kontroversi. Pibentenan pendapat punika dumados keranten basa secara wutuh pancen mboten sanggem makili realitas tur ngandung tetenger illogical.
Kajian logika basa satuhune mboten tinolak saking basa kang dipigunakaken teng pianggean sedinten-dinten. Upami lambang lan relasi lambang saluyu kaliyan kewontenan selebete pianggean, salah setunggale dados kajian linguistik deskriptif, maka lambang selebete hubungane kaliyan lambang piyambek dados kajian logika.
Kewontenan semantik minangka teori referensi lan teiri makna ugi ketingal teng kewontenan semantik kang seliyane gadah hubungan kaliyan unsur sintaktik ugi gadah hubungan kaliyan unsur-unsur pragmatik. Pramila punika, makna kaliyan keleresan teng tataran sintaktik akhire kedah dihubungaken kaliyan realitas kegesangan, basa selebete komunikasi padinan, ugi komunikasi antarjanma. Teng tataran punika, keleresan makna ugi kedah dikaitaken kaliyan kasunyatan (realitas) lan kasunyatan kondisionalitas. Mangkane, abstraksi proposisi ugi diadepaken kaliyan kalih kemumkinan, nggih niku leres atanapi sawon.
Yadiastun inggil keleresan proposisi selebete abstraksi lan ekspresi, keleresan maksih keancam dening ketaksaan wangun kebasaan. Ketaksaan wangun kebasaan punika seliyane dumados pamrah wontene
(1) polivalensi selebete polisemi lan homonimi,
(2) tetenger genetik leksem-leksem kang gadah fitur semantik kang benten,
(3) kembotenjelasan wates leksem kang gadah makna umum kaliyan leksem kang gadah makna khusus, (4) wangun metaforis,
(5) pemaknaan wangun silihan kang maksih samur,
(6) kolokasi lan sinonimi selebete kajian logika basa,
(7) ekuivokasi,
(8) amfiboli,
(9) aksentuasi,
(10) komposisi, lan
(11) devisi.
Ekuivokasi nggih niku ketaksaan makna setunggale wangu kebasaan kang senajan sampun wonten teng selebete konteks, angger nuansakaken kemumkinan-kemumkinan makna. Misale (1) Akhir setunggale hal saged nuju teng kesempurnaan, (2) kematian nggih niku akhir saking kegesangan, (3) maka kematian punika akhir kesempurnaan saking kegesangan.
Amfiboli ngih niku ketaksaan makna pamrah kembotenjelasan hubungan setunggal term selebete struktur ukara. Misale ukara Adie mahasiswa kang ayu iku tabet demenanisun. Leksem ayu selebete ukara punika rujukane mboten jelas, nuduhaken teng adi atanapi teng mahasiswa?
Aksentuasi puniku pawewehan tekanan setunggal leksem teng selebete ijenan paparan kang mboten pas ngantos ngaburaken makna kang kedahe direpresentasiaken. Paparan kang ungele Pembina masyarakat ora duwe pendidikan iku kudu umusaha ningkataken pangaweruh, lan seliyane duwe mupangat sajrone ningkataken kahuripan masyarakat dewek uga duwe mupangat kanggo masyarakat sejene. Seumpami pembina lan masyarakat mboten disukani aksentuasi secara pertela ngantos sanggem mbentenaken term (a) pembina, (b) masyarakat, lan (c) pembina masyarakat kang dituduhaken penjelas selajenge, informasi kados punika saged mblasaraken makna kang dityampi dening reseptor.
Komposisi gadah kaitan kaliyan kembotenjelasan setunggale pernyataan kang akhire saged nyebabaken kekaburan makna selebete pernyataan selajenge. Misale Pangaweruh iku seliyane duwe mupangat kanggo masyarakat dewek, uga duwe mupangat kanggo masyarakat sejene. Pamrah kekaburan makna kang dumados teng makna sederenge, maka pesen atanapi amanat kang wonten teng ukara punika dados mboten jelas.
Devisi punika kesawonan kang gadah hubungan kang raket kaliyan kang dumados teng komposisi. Misale
(a) samubarang kang mboten ketingal punika atom,
(b) Tuhan punika mboten ketingal,
(c) dados, Tuhan punika atom.
Saking sedantene tetelan teng inggil punika saged disimpulaken nyaniya tingkat keleresan informasi semantik gadah tingkatan
(1) tingkatan keleresan semantik ditemtosaken dening tepat atanapi mbotene proposisi kang diabstraksiaken,
(2) tingkat keleresan informasi semantik ditemtosaken dening tepat atanapi mbotene penghubunga antawis proposisi kang kawadahan selebete basa kaliyan dunia jawi kang dirujuk,
(3) tingkat keleresan informasi semantik ditemtoskaken dening pemilihan tembung, penataan relasi tembung, atanapi penentosan ciri hubungan saking relasi antarukara.
Langganan:
Postingan (Atom)